Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.873 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.855 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan kurs rupiah dipengaruhi pernyataan hawkish dari pejabat The Fed terkait suku bunga.
“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yg rebound merespons pernyataan hawkish pejabat The Fed William (Presiden The Fed New York John Williams) yang mengisyaratkan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Lebih lanjut, William menyampaikan bahwa suku bunga AS saat ini telah sesuai dengan kondisi sektor pekerjaan dan inflasi, sehingga pemotongan suku bunga tak perlu dilakukan sesegera mungkin.
Di sisi lain, dolar AS berpotensi menguat seiring data inflasi AS diperkirakan akan naik, sehingga semakin melemahkan kurs rupiah.
“Inflasi inti diperkirakan naik dari 2,6 persen menjadi 2,7 persen, sedangkan inflasi dasar tetap bertahan di 2,7 persen,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS.
