Logo Header Antaranews Sulteng

BPBD: Pos terpadu karhutla di Avolua Parigi Moutong telah selesai

Minggu, 15 Februari 2026 15:08 WIB
Image Print
Satu unit kendaraan pemadam kebakaran memadamkan api di kebun kelapa milik warga di Desa Tovera, Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (5/2026). (ANTARA/Moh Ridwan)

Parigi, Sulteng (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengatakan pos terpadu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Avolua dan sekitarnya di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah telah selesai karena eskalasi api sudah teratasi.

"Kami berterima kasih pada para pihak yang terlibat dalam operasi penanggulangan karhutla. Kondisi ini bisa teratasi berkat kerja sama tim di lapangan," kata Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai di Parigi, Minggu.

Ia menjelaskan meski operasional pos terpadu sudah selesai, namun status siaga darurat bencana masih tetap berlanjut hingga 28 Februari 2026, sebagai mana telah ditetapkan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat.

Status siaga darurat bencana menyusul peringatan atau informasi yang dasarian II dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa Parigi Moutong masih di status waspada kekeringan meteorologis.

Yang mana terjadi kondisi anomali iklim akibat curah hujan di bawah normal dalam kurun waktu panjang saat musim kemarau, maka potensi karhutla sangat tinggi.

"Sekitar 10 hari petugas berjibaku memadamkan api. Kerja keras mereka di lapangan membuahkan hasil positif," ujarnya.

BPBD juga mendesak camat dan kepala desa segera merampungkan pendataan lahan warga terdampak karhutla di Desa Toboli, Avolua, Uevolo dan Tovera.

Data dirilis pemkab setempat, dampak karhutla di Parigi Moutong seluas 149,2 hektare, saat ini pihaknya terus melakukan pemantauan perkembangan di lapangan, karena potensi kebakaran masih cukup tinggi di picu kekurangan air.

Adapun pihak-pihak tergabung dalam posko terpadu penanggulangan karhutla sebanyak 334 orang, selain itu petugas juga di dukung 12 kendaraan operasional, tiga di antaranya mobil damkar dan sisanya mobil tanki suplai air selain itu kegiatan penanganan mendapat bantuan 70 unit tanki semprot untuk pemadaman api.

"Meski penanganan sudah selesai, pemantauan tetap dilakukan. Kami juga meminta masyarakat jangan melakukan pembakaran liar karena cuaca ekstrem dapat memicu eskalasi api lebih besar," tutur Rivai.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026