Logo Header Antaranews Sulteng

Penjualan perdana IGP Pomalaa, PT Valeperkuat rantai pasok nikel Global

Minggu, 1 Maret 2026 20:24 WIB
Image Print
PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), mencatatkan penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara. FOTO : ANTARA/HO/ (Dokumentasi Pt Vale)

Sorowako (ANTARA) - PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), mencatatkan penjualan pertama bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Pencapaian ini menandai transisi proyek dari fase konstruksi ke fase operasional yang menghasilkan pendapatan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasokan global mineral penting.Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), mencatatkan penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Capaian ini menandai transisi proyek dari tahap konstruksi ke fase operasional penghasil pendapatan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.

Penjualan unggulan ini merupakan langkah strategis dalam proses de-risiko proyek, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fundamental pertumbuhan jangka panjang perusahaan. IGP Pomalaa juga mendukung agenda hilir nasional melalui integrasi penambangan dan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah domestik.risking proyek, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fundamental pertumbuhan jangka panjang perseroan. IGP Pomalaa juga mendukung agenda hilirisasi nasional melalui integrasi pertambangan dan pengolahan guna meningkatkan nilai tambah domestik.

Dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau setara dengan ±US$4,43 miliar, IGP Pomalaa merupakan salah satu proyek strategis untuk memperkuat industri nikel nasional. Penjualan utama dimungkinkan melalui aktivasi area penjualan bijih di Pit PB5 dan Pit PB1 yang memiliki kapasitas penyimpanan hingga 4 juta metrik ton basah (Mwmt) bijih limonit, sehingga memberikan fleksibilitas persediaan dan menjaga kontinuitas pasokan ke fasilitas pengolahan di Pomalaa.IGP Pomalaa menjadi salah satu proyek strategis penguatan industri nikel nasional. Penjualan perdana dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1 yang memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit, sehingga memberikan fleksibilitas inventori dan menjaga keberlanjutan suplai ke fasilitas pengolahan di Pomalaa.

Direktur dan Kepala Proyek PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, mengatakan, "Peresmian area penjualan bijih di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal. Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip-prinsip keunggulan operasional dan praktik pertambangan berkelanjutan," ujarnya.Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, mengatakan, “Peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal. Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan," ucapnya.

Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi limonit sebesar 300.000 ton per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi peningkatan produksi dilakukan secara disiplin untuk memastikan kesinambungan operasional dan optimalisasi kapasitas produksi, dengan dukungan kapasitas penyimpanan sebesar 4 juta ton sebagai penyangga persediaan.IGP Pomalaa menargetkan produksi 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi ramp-up dilakukan secara disiplin guna memastikan keberlanjutan operasional dan optimalisasi kapasitas produksi, dengan dukungan kapasitas penyimpanan 4 Mwmt sebagai buffer inventory.

Dari sisi pengembangan, hingga Januari 2026, kemajuan konstruksi keseluruhan proyek telah mencapai 65,76 persen dan pengembangan Jalan Angkut Utama (MHR) menuju tempat penyimpanan telah mencapai 40 persen. Infrastruktur ini menjadi jalur utama distribusi material dari tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pengangkutan dan menekan potensi hambatan logistik.Road (MHR) menuju stockpile telah mencapai 40 persen. Infrastruktur ini menjadi jalur utama distribusi material dari tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan, yang diharapkan meningkatkan produktivitas hauling dan menekan potensi hambatan logistik.

Perusahaan menyatakan bahwa langkah ini sejalan dengan strategi hilir nasional serta komitmen perusahaan untuk menghadirkan pertumbuhan industri nikel yang kompetitif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

**Kata Kunci Fokus:** Penjualan Perdana IGP PomalaaFocus Keyword:** Penjualan Perdana IGP Pomalaa



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026