Logo Header Antaranews Sulteng

BPOM dorong optimalisasi produksi obat hadapi tekanan global

Senin, 20 April 2026 15:39 WIB
Image Print
Tangkapan layar - Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan paparan dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin (20/4/2026). ANTARA/Tri Meilani Ameliya.

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong optimalisasi kapasitas produksi obat dalam negeri sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel yang berpotensi menimbulkan keterbatasan ekspor dan kenaikan harga obat.

“Rekomendasi dan langkah mitigasi Badan POM telah dilakukan, yaitu pengawasan berbasis teknologi dan optimalisasi kapasitas produksi," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin.

Lebih lanjut, dalam tayangan paparan yang disampaikan Taruna Ikrar pada rapat tersebut, disebutkan upaya mendorong optimalisasi kapasitas produksi obat nasional dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), khususnya terkait obat generik.

Dalam kondisi krisis, pemerintah mendorong pembatasan sementara produksi obat branded generic agar kapasitas industri dapat difokuskan pada pemenuhan kebutuhan obat esensial bagi masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga ketersediaan obat di tengah tekanan global, sekaligus menekan potensi lonjakan harga akibat gangguan pasokan bahan baku dan meningkatnya biaya produksi.



Langkah mitigasi lainnya yang ditempuh BPOM adalah kebijakan pendampingan industri masa darurat. Pendampingan tersebut dilakukan antara lain melalui percepatan perubahan produsen bahan baku aktif (API) serta pemberian fleksibilitas dalam penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) guna memastikan industri tetap dapat berproduksi di tengah tekanan global.

BPOM juga memperkuat pengawasan berbasis teknologi secara hibrida yang mencakup antara lain evaluasi, sertifikasi, dan inspeksi melalui kolaborasi dengan kementerian/lembaga dan industri farmasi.

Langkah lain yang ditempuh yakni pemanfaatan jalur impor cepat melalui mekanisme Special Access Scheme (SAS) untuk mempercepat proses impor obat guna menjaga ketersediaan nasional.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan penyesuaian harga obat, khususnya yang berbasis bahan petrokimia, seiring meningkatnya tekanan biaya produksi global.



Rangkaian langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan obat sekaligus menekan potensi kenaikan harga di tengah dinamika global.





Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026