
Palu berkomitmen gencarkan penanganan kasus stunting

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu berkomitmen untuk terus menggencarkan penanganan terhadap 1.022 kasus stunting di wilayah setempat.
"Menurut data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPBGM) saat ini ada sekitar 1.022 bayi di bawah dua tahun (baduta) terkena stunting, jajaran telah diinstruksikan melakukan langkah-langkah percepatan penanggulangan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Rochmat Jasin di Palu, Selasa.
Upaya masif tersebut dilakukan guna mempercepat penurunan prevalensi stunting sekaligus memastikan tumbuh kembang anak di daerah itu berjalan optimal menuju generasi emas.
Ia menyebutkan di Kecamatan Mantikulore tercatat 260 kasus stunting. Dalam rapat percepatan penurunan stunting yang dipimpin Wakil Wali Kota Palu pada Selasa (9/6) ditegaskan bahwa akurasi data menjadi bagian tidak terpisahkan.
Oleh karena itu, Pemkot Palu meminta petugas lapangan memastikan akurasi pengukuran tinggi baduta harus tepat. Sebab, berdasarkan standar grafik pertumbuhan yang ditetapkan WHO, angka minus 3 SD masuk kategori stunting.
"Kami juga melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini dimulai dari perempuan usia remaja, calon pengantin, perencanaan kehamilan, hingga masa kehamilan supaya bayi yang dilahirkan tidak mengalami kekurangan berat badan," katanya.
"Usia perempuan yang kawin terlalu muda salah satu faktor pemicu stunting, oleh karena itu dibutuhkan peran keluarga membantu pemerintah mengedukasi remaja supaya tidak terburu-buru menikah," ucap Rochmat.
Selain itu, pihaknya juga fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan dua intervensi utama yakni pemenuhan gizi spesifik dan pemenuhan gizi sensitif.
"Kami melibatkan petugas puskesmas dalam penanganan ibu hamil, selain itu melibatkan kader posyandu sebagai garda terdepan memberikan bantuan layanan kesehatan terhadap anak, mulai dari pengukuran, penimbangan berat badan hingga pemberian makanan tambahan (PMT)," kata dia.
Ia menambahkan pihaknya juga berkolaborasi dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) di tingkat kecamatan melalui pelaksanaan dapur sehat.
"Pencegahan stunting menyangkut masa depan generasi muda, kalau perkembangan fisik dan mental mereka bagus, maka generasi emas Indonesia memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM)," kata dia.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
