Mama-mama Papua belajar di Sekolah Perempuan Poso

id Institut mosintuwu,papua,poso

Mama-mama Papua belajar di Sekolah Perempuan Poso

Suasana belajar Mama-mama Kabupaten Waropen Papua di Institut Mosintuwu Tentena, Poso, Selasa (1/5) (Antaranews Sulteng/Feri Timparosa)

Poso (Antaranews Sulteng) - Sebanyak 27 orang mama-mama atau ibu-ibu dari Kabupaten Waropen, Provinsi Papua, berada di Kabupaten Poso selama lima hari sejak 30 April 2018 untuk belajar bersama dengan peserta sekolah perempuan di Institut Mosintuwu Poso di Tentena, Kabupaten Poso.

"Mereka adalah calon fasilitator sekolah perempuan di daerahnya," kata Dermace, Kepala dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Waropen yang mendampingi mama-mama ini di Poso, Rabu.

Kedatangan tim dari Waropen ini dimaksudkan untuk melihat proses sekolah perempuan yang dikembangkan Institut Mosintuwu di Kabupaten Poso sehingga nantinya bisa diterapkan di daerahnya.

"Apa yang kami lihat dan dapatkan di sini akan coba kami terapkan di daerah kami, Waropen. Kami datang untuk belajar dari ibu-ibu sekolah perempuan yang ada di Poso supaya bisa menginspirasi ibu-ibu kami," katanya.

Menurut Demarce, Pemerintahan Kabupaten Waropen telah memulai pelaksanaan program sekolah perempuan pada 13 Desember 2017 yang dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise.

Keinginan ibuibu Papua untuk studi banding di Kabupaten Poso merupakan saran dari Menteri Yohana Menteri P3A Yohana Yembisa karena menilai Institut Mosintuwu dinilai sukses menjalankan pembelajaran dan pengembangan prestasi kaum perempuan di Poso.

Baca juga: Institut Mosintuwu Luncurkan Aransemen Enam Lagu Poso

Saat pembukaan Sekolah Perempuan Waropen, Lian Gogali, pendiri Sekolah Perempuan Mosintuwu Poso diundang untuk melakukan pertemuan dengan mama-mama Waropen Papua guna mendiskusikan berbagai persoalan perempuan di Waropen.

"Hasil diskusi inilah yang mengawali proses sekolah perempuan Waropen," ujarnya.

Selama lima hari sejak Selasa 1 Mei 2018, para peserta selain akan mengikuti pelatihan sebagai fasilitator sekolah perempuan, mereka juga akan melakukan kunjungan lapangan ke sekolah perempuan di Desa Salukaia, Kecamatan Pamona Barat dan sekolah perempuan Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Dalam pembukaan pelatihan di Dodoha Mosintuwu, Tentena, hadir pula ibu-ibu alumni sekolah perempuan Institut Mosintuwu Poso untuk berbagi cerita dengan peserta dari Papua. Interaksi antara peserta dari Poso dan Waropen berjalan menarik, dinamis dan penuh kekeluargaan.

Salah satu program Sekolah Perempuan Mosintuwu yakni tabungan perempuan yang dipraktikkan perempuan Desa Salukaia, Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso, mendapat perhatian khusus dari sesepuh perempuan Waropen, ibu Wanggai karena memberi sumbangsih tinggi pada peningkatan ekonomi perempuan di desa itu.

Di tempat yang sama, bendahara pasar subuh Desa Salukaia, Marce, menjelaskan program tabungan yang dianggap sulit dilaksanakan tetapi ternyata bisa berjalan lancar di desanya. Kuncinya adalah kesadaran dibarengi komitmen untuk menjalankannya.

"Yang ditabung memang sedikit demi sedikit, hanya setiap kali kami jualan di pasar. Tapi semuanya berkomitmen, sadar bahwa menabung ini penting untuk kehidupan kami nantinya. Bagaimana membiayai kalau sakit, untuk biaya sekolah anak-anak. Semua itu yang membuat kami terus menjalankan tabungan ini, biarpun sedikit-sedikit," kata Marce.

Baca juga: Institut Mosintuwu kerja sama Polres Poso tangani kekerasan PA

Asisten Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Budi Wardaya yang membuka kegiatan di Dodoha Mosintuwu pada Selasa (1/5) mengatakan sekolah perempuan adalah salah bentuk pemberdayaan perempuan di akar rumput untuk memutuskan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Di wilayah Papua, seperti Waropen, kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan masih tergolong tinggi, karenanya, sekolah perempuan menjadi sangat penting. Menariknya, Waropen adalah contoh pertama intervensi pemerintah dalam bentuk program sekolah perempuan di Papua.

"Kita berharap baik Waropen maupun Poso bisa menjadi contoh bagi daerah dan negara lain. Ini adalah contoh inovasi yang kita nilai sangat bagus dan ini adalah penilaian yang paling tinggi bagi sebuah daerah," kata Budi Wardaya.

Kunjungan mama-mama Waropen ini juga menjadi bukti bahwa kegiatan sekolah perempuan di Poso sudah dikenal luas di Indonesia bahkan sudah menginspirasi daerah lain.

Dalam waktu dekat, kata Budi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak juga akan membuka Sekolah Perempuan di salah satu kabupaten di NTT. Model sekolah perempuan yang dikembangkan akan belajar dari konsep sekolah perempuan yang dikembangkan oleh Institut Mosintuwu Poso.
 
Mama-mama Kabupaten Waropen Papua saat berada di Institut Mosintuwu Tentena, Poso, Selasa (1/5) (Antaranews Sulteng/Feri Timparosa)