Jayapura - Situs cagar budaya rumah pahlawan nasional asal Papua Frans Kaisiepo yang beralamat di Jalan Pramuka, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua tidak terawat dan kurang perhatian.
"Rumah Frans Kaisepo secara arsitektural dibangun pada masa pemerintahan Belanda di Papua. Kondisi rumah ini mengalami korosi akibat uap air asin, pelapukan dan pengelupasan pada dinding tembok, penurunan kualitas kusen daun jendela dan pintu, dan atap asbes sebagian bocor," kata Hari Suroto staf peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Sabtu.
Menurut Hari Suroto, rumah pahlawan nasional Frans Kaisiepo itu hampir tidak dikenali karena tidak ada papan informasi di depan rumah yang menunjukkan sebagai rumah pahlawan nasional Frans Kaisiepo yang dilindungi UU No. 11 tahun 2010 tentang cagar budaya.
Dan jika hal itu tidak mendapat perhatian secepatnya dari pemerintah setempat, provinsi atau pemerintah pusat, maka dipastikan rumah pahlawan nasional Frans Kaisepo yang terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua akan semakin rusak.
"Saya kira dengan perhatian yang lebih maka rasa Keindonesiaan dan hidup berwawasan kebangsaan orang Papua sebagai bagian dalam bingkai NKRI perlu dibangun dengan cara melestarikan warisan pahlawan nasional Indonesia asli Papua," katanya.
Untuk itu situs-situs cagar budaya rumah pahlawan nasional harus secepatnya dilestarikan dan dilindungi sebagaimana termaksud dalam UU No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. "Saat ini rumah pahlawan nasional Frans Kaisepo ditempati oleh ahli warisnya, yang hanya merawat dengan dana seadanya karena minim bahkan hampir tidak ada bantuan," katanya menambahkan rumah tersebut layak dijadikan museum.
Selain itu, lanjut Hari yang juga juga perlunya pemerintah yaitu membangun patung pahlawan nasional asli Papua di depan kantor gubernur provinsi Papua, bandara atau area publik lainnya. "Pemerintah seharusnya tidak hanya sekedar menetapkan Marthen Indey, Silas Papare, Abraham Dimara dan Frans Kaisepo sebagai pahlawan nasional Indonesia asli Papua tetapi juga jejak perjuangan mereka harus dilestarikan termasuk rumah tempat tinggal mereka," kata Hari.
"Rumah tempat tinggal pahlawan nasional Papua dapat dijadikan museum perjuangan untuk mengenang perjuangan mereka melepaskan diri dari penjajahan Belanda untuk bergabung dalam NKRI," tambah alumnus Univeritas Udayana itu.
Dari berbagai data yang dihimpun ANTARA, Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921, kemudian meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 57 tahun. Frans Kaisepo adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua.
Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua antara tahun 1964-1973.
Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Kabupaten Biak Numfor dengan nama bandara udara Frans Kaisiepo.(KR-ARG/SKD)
