
Sekitar 18.000 pelanggan PLN Palu gunakan meteran lama

Masih ada sekitar 46 persen dari total pelanggan PLN yang berjumlah 400.000an belum melakukan migrasi ke listrik prabayar atau menggunakan pulsa,
Palu, (Antaranews Sulteng) - Managemen PT PLN Area Palu mengklaim hingga kini masih ada sekitar 18.000 pelanggan listrik? yang tersebar di seluruh wilayah kerjanya belum migrasi listriknya atau tetap menggunakan meteran KWh lama.
"Masih ada sekitar 46 persen dari total pelanggan PLN yang berjumlah 400.000an belum melakukan migrasi ke listrik prabayar atau menggunakan pulsa," kata Manager PLN Area Palu, Abbas Saleh di Palu, Kamis.
Ia mengatakan tidak semua pelanggan listrik yang menggunakan meteran Kwh lama untuk beralih ke listrik prabayar.
Misalkan, pelanggan kantor-kantor pemerintah, sebab pengganggaran biaya listrik oleh negara dan harus disertai bukti-bukti yang akurat.
Tetapi, untuk pelanggan rumah tangga diharuskan untuk migrasi, karena itu sudah merupakan program yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Karena itu, Abbas mengimbau kepada para pelanggan yang masih belum menggunakan listrik pintar atau prabayar untuk segera melakukan migrasi.
Dia menegaskan tidak ada biaya untuk pergantian meteran Kwh lama dengan listrik prabayar. "Yang ada biayanya adalah sambung baru," kata dia.
Sementara untuk pelanggan listriik migrasi ke prabayar, katanya, hanya membayar biaya awal atau token pemula. Besaran pulsa awal bisa Rp5.000, tetapi itu terlalu kecil dan baru beberapa jam dipakai, sudah habis.
Abbas juga negaskan jika ada oknum-oknum PLN yang minta biaya migrasi, bisa langsung dilaporkan kepadanya. "Saya minta masyarakat tidak takut atau enggan untuk melaporkan oknum karyawan PLN "nakal" yang meminta biaya migrasi listrik. Saya akan tindak yang bersangkutan jika terbukti," tegasnya.
Dalam beberapa hari ini, banyak warga yang komplen kepada PLN atas lonjakan biaya tagihan listrik meteran KWh.
Setiap hari, Kantor PLN Rayon Palu yang terkletak di bilangan jalan Sulawesi ramai dipadati warga yang datang mengeluhkan tagihan listrik di rumah mereka tiba-tiba melonjak tajam.
"Saya biasanya membayar tagihan listrik berkisar Rp300.,000 s/d Rp400.000 per bulan. Tapi bulan Januari yang dibayarkan pada Februari 2019 ini naik menjadi Rp3 juta lebih," tutur Ny Tin, warga jalan Kancil.
Padahal, kata ibu rumah tangga itu, pemakaian daya normal-normal saja setiap bulannya.
Pewarta : Anas Masa
Editor:
Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
