
Harapan Baru Para Korban Bentrok Nunu-Tavanjuka

Bentrok antarwarga Kelurahan Nunu dan Kelurahan Tavanjuka pada umumnya dilakukan oleh remaja berusia 20-an tahun. Bahkan, anak-anak usia sekolah dasar juga terlibat tawuran."
Palu - Zaitun mengaku lega setelah rumahnya dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, bebas dari ancaman teror dan suara petasan.
Selama bertahun-tahun keluarga Zaitun ini merasa terteror karena rumahnya berada di perbatasan Kelurahan Nunu dan Kelurahan Tavanjuka, Kota Palu, dimana warga kedua kelurahan itu kerap terlibat bentrok.
Zaitun adalah warga Kelurahan Tavanjuka, namun sudah lebih dua tahun ini membangun rumah dan menetap di Kelurahan Nunu.
Saat terjadi bentrok, rumah Zaitun yang berada di RT 01, Kelurahan Nunu, sering terkena imbas pertikaian sehingga dia terpaksa mengungsi ke Kelurahan Tavanjuka yang hanya bejarak ratusan meter.
Seperti saat bentrok beberapa waktu lalu, Zaitun dan anak-anaknya terpaksa mengungsi dengan diliputi rasa takut dan was-was.
"Anak saya menangis ketakutan saat mengungsi," katanya.
Zaitun mengaku sejak kecil dibesarkan di Keluarahan Tavanjuka oleh ayahnya yang berasal dari Tavanjuka dan ibunya yang berasal dari Kelurahan Nunu.
Jadi, menurutnya, bentrokan yang terjadi berulang-ulang selama bertahun-tahun itu tidak ada gunanya, hanya menambah penderitaan.
Sementara Rian, warga Nunu lainnya, juga merasakan hal serupa. Dia mengaku takut terjadi apa-apa dengan keluarganya saat terjadi bentrok.
"Saya takut, dan hanya berdiam diri saja sambil menunggu bentrok reda," katanya.
Pemerintah Kota Palu sebenarnya telah menggagas pertemuan antara warga Keluarahan Nunu dan Kelurahan Tavanjuka untuk menciptakan perdamaian dan bisa saling menjaga keamanan daerahnya.
Berbagai ikrar perdamaian juga telah disepakati dengan ditandai pelepasan burung merpati dan penandatanganan damai di atas kain putih.
Bahkan puluhan delegasi kedua belah pihak bertikai sempat dibawa ke Malino, Sulawesi Selatan, dengan difasilitasi Pemkot Palu untuk mendeklarasikan perdamaian.
Namun tampaknya upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasi. Buktinya, pada awal 2012, enam rumah di Kelurahan Nunu musnah dibakar oleh sekelompok orang tak dikenal. Bentrok antarwarga itu juga telah merenggut nyawa dua orang.
Padahal warga kedua kelurahan bertetangga itu sebenarnya saling mengenal dan bahkan memiliki pertalian darah.
Untuk menghindari bentrok berkepanjangan, Kementerian Sosial RI telah memberikan bantuan relokasi rumah bagi 41 kepala keluarga di Kelurahan Nunu untuk pindah di tempat yang aman. Setiap kepala keluarga mendapat bantuan sebesar Rp10 juta.
Kearifan Lokal
Tokoh adat di Kota Palu mengatakan kearifan lokal sudah saatnya digunakan untuk mengatasi konflik di wilayahnya mengingat masih seringnya terjadi bentrok antarwarga.
Ketua Dewan Adat Kelurahan Nunu Jabaru Ladjulu mengatakan kearifan lokal berupa hukum adat sudah puluhan tahun tak digunakan di wilayahnya untuk mengatasi permasalahan sosial.
Menurutnya, kemajuan zaman secara berangsur telah mengganti hukum adat dengan hukum positif.
"Kalau hukum positif tidak dihiraukan lagi maka hukum adat seharusnya bisa menggantikannya," kata Jabaru.
Sementara Ketua Dewan Adat Kelurahan Tavanjuka Amrin Daeng Kawara mengaku akan membuat "baruga" (semacam aula) untuk tempat pertemuan warga dan membahas segala permasalahan yang ada di masyarakat.
Di baruga itu, katanya, juga akan menjadi tempat pemberian hukuman kepada masyarakat yang telah ditetapkan bersalah.
Saat ini tempat pertemuan umum untuk masyarakat tidak ada di kedua keluarahan. Kantor kelurahan hanya untuk mengurus pembuatan KTP, membayar pajak bumi dan bangunan, atau keperluan birokratis lainnya. Bangunan khusus untuk membahas permasalahan sosial belum ada.
"Sudah saatnya dibangun baruga untuk menyelesaikan segala permasalahan," kata Amrin.
Dia juga mengajak para orangtua di wilayah yang sering dilanda bentrok untuk mendidik anak-anaknya agar tidak mudah terlibat dalam pertikaian.
"Orangtua seharusnya bisa menenangkan, bukannya ikut-ikutan tawuran," kata Amrin.
Bentrok antarwarga Kelurahan Nunu dan Kelurahan Tavanjuka pada umumnya dilakukan oleh remaja berusia 20-an tahun. Bahkan, anak-anak usia sekolah dasar juga terlibat tawuran.
Tawuran itu sudah berlangsung sejak beberapa tahun silam sehingga apabila terdapat permasalahan kecil akan mudah meluas menjadi konflik yang lebih besar.
Pemerintah Kota Palu dan aparat keamanan setepat berulang kali telah mengimbau warga yang bertikai untuk menghetikan aksi tawuran karena akan menimbulkan kerugian.
Bahkan saat perbatasan kedua kelurahan masih dijaga aparat, bentrok tetap saja terjadi.
Sementara Wali Kota Palu Rusdy Mastura mengaku menyetujui usulan tokoh adat yang akan menggunakan kearifan lokal untuk menyelesaikan konflik.
"Saya mendukung, sepanjang tujuannya untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Kasih Sayang
Menteri Sosial RI Salim Segaf Aljufri saat berkunjung ke Kota Palu baru-baru ini mengajak warga Ibu Kota Sulawesi Tengah ini untuk mengedepankan kasih sayang dalam menghadapi berbagai permasalahan.
"Kalau ada kasih sayang, pasti tak ada bentrok atau perang," katanya.
Dia juga mengaku perihatin mendengar adanya anak-anak yang terlibat perang-perangan.
"Lebih baik berlatih karate atau kegiatan positif lainnya yang bisa menciptakan prestasi," kata Mensos.
Sementara Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan kaum wanita berperan peting dalam meredakan konflik karena mereka lebih banyak memiliki rasa kasih sayang.
"Wanita dengan kasih sayangnya bisa menenangkan kaum bapak agar tidak terlibat dalam konflik antarwarga," kata Gubernur Longki.
Menurut dia, perempuan bisa mengendalikan emosi kaum pria sehingga tidak berbuat sesuatu yang merugikan.
Dia berharap kaum perempuan terutama ibu-ibu bisa lebih mendidik anak-anaknya untuk bertindak positif, dan tidak terjerumus dalam kenakalan remaja.
Sebagian besar konflik yang terjadi di Sulawesi Tengah saat ini dilakukan oleh kaum muda, bahkan hingga orangtua juga turut dalam aksi tawuran.
"Di sinilah peran perempuan dilakukan agar konflik tidak makin memanas," kata Longki.
Harapan masyarakat untuk tidak melihat konflik sudah di depan mata. Warga yang kerap menjadi korban tawuran juga telah direlokasi ke tempat aman. Kearifan lokal juga akan diberlakukan untuk mengatasi permasalahan sosial.
Hal yang dibutuhkan saat ini adalah pengendalian diri agar tidak mudah terprovokasi.
"Sudah saatnya kita maju dan malu. Malu karena daerah kita selaa terkenal karena sering dilanda konflik," kata Mensos Salim Segaf Aljufri.
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
