Logo Header Antaranews Sulteng

Paralayang - Thomas Widyananto Juara Indonesia Terbuka Matantimali

Jumat, 7 Juni 2013 05:52 WIB
Image Print
Thomas Widyananto dari Indonesia tampil sebagai juara pada Kejuaraan Indonesia Terbuka Paralayang yang berlangsung di Pegunungan Matantimali, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (antara)

Palu, (Antarasulteng.com) - Thomas Widyananto dari Indonesia tampil sebagai juara pada Kejuaraan Indonesia Terbuka Paralayang yang berlangsung di Pegunungan Matantimali, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang berakhir, Kamis.

Atlet kelahiran Jawa Tengah (Jateng) itu memenangi kejuaraan dengan mengumpulkan total nilai 4.198.

Posisi kedua dipegang atlet asal Korea Selatan, Kwangmi Jun dengan nilai 4.089 dan disusul tempat ketiga Henning Paradigma (Jateng) 3.983 poin.

Henning merupakan pemegang peringkat pertama nasional untuk olah raga paralayang.

Sementara peringkat keempat dan lima atas nama Yajid (Jateng) dengan total nilai 3.006 dan Ilho Shin (Korea Selatan) 2.980.

Atlet Jateng lainnya yakni Dewanto yang berhasil mendarat pada titik sasaran yang dipusatkan di lapangan SMP Negeri 7 Bangga, Kecamatan Dolo Selatan (6/6) hanya berada diperingkat kedelapan.

Sedangkan dua atlet tuan rumah Sulteng Rahman Kasim dan Asgaf berada di posisi 13 dan 19 masing-masing hanya mengumpulkan poin 1.558 dan 751.

Semula atlet Korea Selatan (Kwangmi Jun) di hari pertama sampai keempat Indonesia Open Matantimali memimpin diperingkat atas sementara.

Namun pada hari terakhir kejuaraan yang memperlombakan cross country race to goal dengan total jarak tempuh 48,1 kilometer tersebut gagal mendarat di titik sasaran yang telah ditentukan panitia.

Karena gagal meraih poin penuh di hari terakhir, maka atlet Korsel tersebut harus puas diperingkat kedua.

Pemenang pertama Indonesia Open Matantimali selain memperoleh hadiah bonus uang sebesar Rp10 juta, kedua Rp7,5 juta dan ketiga Rp5 juta, juga piala yang terbuat dari kayu ebony atau kayu hitam.

Kayu hitam merupakan kayu yang harganya termahal didunia dan hanya tumbuh di sejumlah daerah di provinsi Sulawesi Tengah, terutama di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.

Kayu hitam baru bisa dipanen setelah berumur sekitar 100 tahun. (SKD)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026