Bisnis Koran Dihadapkan Mahalnya Harga Kertas
Jumat, 13 Juli 2012 17:42 WIB
Illustrasi (ANTARANews)
Palu - Bisnis surat kabar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dihadapkan pada mahalnya harga kertas sehingga ikut mempengaruhi halaman berita di hampir setiap media di daerah itu.
"Ini saya kira perlu diagendakan dalam rapat kerja Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Pekanbaru," kata Pemimpin Perusahaan PT Media Alkhairaat Ruslan Taher Sangadji di Palu, Jumat.
Dia mengatakan Rapat Kerja SPS yang akan dilaksanakan tiga hari di Pekanbaru yang akan dibuka Jumat malam tersebut setidaknya bisa memberikan jalan keluar atas mahalnya harga kertas di Indonesia.
Ruslan Taher mengatakan, akibat mahalnya harga kertas tersebut sehingga halaman surat kabar sulit ditambah karena akan mempengaruhi harga pokok produksi.
"Jangan heran kalau ada surat kabar lebih banyak halaman iklannya dari pada halaman beritanya," kata Ruslan.
Dia mengatakan jika harga kertas tidak bisa ditekan, praktis akan terus mempengaruhi penerbitan di daerah. Harga surat kabar juga kian mahal. Dalam kondisi seperti itu, kata Ruslan, ruang berita bagi masyarakat juga semakin mengecil.
"Media di satu sisi industri harus dihidupkan sehingga bisa tetap hidup dan mensejahterakan karyawannya," kata Ruslan.
Di Sulawesi Tengah harga surat kabar eceran jauh lebih mahal dibanding daerah lainnya di Indonesia. Kondisi ini salah satunya akibat dari mahalnya ongkos produksi.
Masalah Teknisi
Sementara itu Dewan Manajemen PT. Media Suara Rakyat (Harian Mercusuar) Moechtar Mahyuddin mengatakan mahalnya bahan baku penerbitan juga dipengaruhi oleh distribusi dari ke pulau Jawa ke Sulawesi.
"Di Indonesia timur tidak ada pabrik kertas. Kita di Sulawesi Tengah ini masih mending karena berada di tengah-tengah. Bagaimana dengan industri media di Indonesia timur sana. Tentu lebih sulit lagi," katanya.
Selain itu, bisnis media juga dipengaruhi oleh teknis mesin dimana di daerah ini kesulitan teknisi mesin cetak.
"Sehingga kalau mesin rusak kita harus mendatangkan teknisi dari Jawa," kata Moechtar.
Moechtar mengatakan, serikat pekerja setidaknya bisa memberikan jalan keluar atas mahalnya ongkos produksi bisnis media saat ini.
Di Kota Palu terdapat sejumlah media yang terbit secara rutin yakni Media Alkhairaat, Mercusuar, Radar Sulteng, Palu Ekspres, Nuansa Pos, Info Baru dan Petir. (A055)
"Ini saya kira perlu diagendakan dalam rapat kerja Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Pekanbaru," kata Pemimpin Perusahaan PT Media Alkhairaat Ruslan Taher Sangadji di Palu, Jumat.
Dia mengatakan Rapat Kerja SPS yang akan dilaksanakan tiga hari di Pekanbaru yang akan dibuka Jumat malam tersebut setidaknya bisa memberikan jalan keluar atas mahalnya harga kertas di Indonesia.
Ruslan Taher mengatakan, akibat mahalnya harga kertas tersebut sehingga halaman surat kabar sulit ditambah karena akan mempengaruhi harga pokok produksi.
"Jangan heran kalau ada surat kabar lebih banyak halaman iklannya dari pada halaman beritanya," kata Ruslan.
Dia mengatakan jika harga kertas tidak bisa ditekan, praktis akan terus mempengaruhi penerbitan di daerah. Harga surat kabar juga kian mahal. Dalam kondisi seperti itu, kata Ruslan, ruang berita bagi masyarakat juga semakin mengecil.
"Media di satu sisi industri harus dihidupkan sehingga bisa tetap hidup dan mensejahterakan karyawannya," kata Ruslan.
Di Sulawesi Tengah harga surat kabar eceran jauh lebih mahal dibanding daerah lainnya di Indonesia. Kondisi ini salah satunya akibat dari mahalnya ongkos produksi.
Masalah Teknisi
Sementara itu Dewan Manajemen PT. Media Suara Rakyat (Harian Mercusuar) Moechtar Mahyuddin mengatakan mahalnya bahan baku penerbitan juga dipengaruhi oleh distribusi dari ke pulau Jawa ke Sulawesi.
"Di Indonesia timur tidak ada pabrik kertas. Kita di Sulawesi Tengah ini masih mending karena berada di tengah-tengah. Bagaimana dengan industri media di Indonesia timur sana. Tentu lebih sulit lagi," katanya.
Selain itu, bisnis media juga dipengaruhi oleh teknis mesin dimana di daerah ini kesulitan teknisi mesin cetak.
"Sehingga kalau mesin rusak kita harus mendatangkan teknisi dari Jawa," kata Moechtar.
Moechtar mengatakan, serikat pekerja setidaknya bisa memberikan jalan keluar atas mahalnya ongkos produksi bisnis media saat ini.
Di Kota Palu terdapat sejumlah media yang terbit secara rutin yakni Media Alkhairaat, Mercusuar, Radar Sulteng, Palu Ekspres, Nuansa Pos, Info Baru dan Petir. (A055)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Seputar Sulteng
Lihat Juga
Pemkab Parigi Moutong buka opsi minta bantuan helikopter padamkan karhutla
05 February 2026 19:45 WIB
BPBD salurkan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Parigi Moutong
05 February 2026 13:01 WIB
Reses Alfian Chaniago, warga huntap di Kelurahan Tondo minta kepastian sertifikat
04 February 2026 18:38 WIB
BPBD Parigi Moutong genjot penanganan karhutla karena area terdampak meluas
04 February 2026 14:15 WIB