Parigi (ANTARA) -
Produksi gabah kering panen (GKP) di Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menumpuk akibat harga beras anjlok di pasaran.
 
"Sejumlah tempat penggilingan beras tidak beroperasi karena harga beras turun," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Penyuluhan wilayah Kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong Ramadhan yang dihubungi, di Parigi, Selasa.
 
Dia menjelaskan, setiap hari sekitar 10 ton gabah milik petani masuk di gudang penggilingan, akibatnya terjadi penumpukan karena tidak beroperasi alat mesin pertanian itu
 
"Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal tahun ini atau berada di periode masa tanam Oktober 2020- Maret 2021," ungkap Ramadhan.
 
Dia mengemukakan, anjloknya harga membuat para petani khawatir hasil panen mereka tidak terserap maksimal di pasaran, sehingga mereka saat ini berhati-hati memproduksi beras, kecuali jika ada pemesanan dari pembeli sebagai langkah alternatif.
 
"Saat ini rata-rata gudang penyimpanan gabah di tempat penggilingan sudah penuh, bahkan banyak gabah petani hanya tersimpan di luar gudang," ujar Ramadhan.
 
Untuk itu, kata dia, UPT Parigi Selatan  berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan setempat  agar dapat mengambil langkah strategis atas apa yang dialami petani saat ini.
 
Menurut dia, upaya mengembalikan stabilitas harga beras perlu keterlibatan instansi lintas sektor, termasuk pihak swasta dan Bulog.
 
"Petani adalah mitra pemerintah dalam menjaga kelangsungan ketahanan pangan daerah, maka apa yang dialami petani saat ini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama," katanya.
 
Data Dinas Pertanian setempat menyebutkan setiap tahun Kabupaten Parigi Moutong mengalami surplus beras dengan tingkat produksi sekitar 115 ribu hingga 125 ribu ton.

Pewarta : Moh Ridwan
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2024