Pengamat: partai perlu siapkan kader menuju 2019
Senin, 2 Januari 2017 20:37 WIB
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (antaranews)
Jakarta (antarasulteng.com) - Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengatakan partai pada 2017, sudah perlu menyiapkan kader yang akan diusung untuk Pemilihan Presiden maupun Pemilihan Legislatif yang dilaksanakan serentak pada 2019.
"2019 itu sudah cukup dekat, partai politik kita semestinya sudah siap-siap menyeleksi calon mereka untuk pemilu serentak," katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Syamsuddin menuturkan kaderisasi menjadi salah satu sistem yang dimiliki partai politik untuk mendapatkan sosok yang diunggulkan sebagai penguat posisi partai di pemerintahan.
Namun, kini partai di Indonesia dinilai masih lemah dalam urusan seleksi dan persiapan kader tersebut, ungkapnya.
"Misalnya saja pada Pilgub DKI 2017, ketiga calon gubernurnya bukan mewakili partai politik. Bahkan, Partai Demokrasi Indonesia Pembaharuan (PDIP) sudah melakukan seleksi pasangan pemimpin Jakarta tapi hasilnya akhirnya tidak digunakan, berarti kaderisasi di dalam partai itu gagal," jelasnya.
Oleh karena itu, kondisi tersebut perlu dijadikan pelajaran bagi para pemimpin partai untuk lebih matang menyiapkan anggotanya sejak jauh hari.
"Persiapannya itu dengan menggadang-gadang Calon Presiden, Wakil Presiden, dan Legislatif untuk 2019 dari sekarang, jangan kemudian instan dan bersifat tiba-tiba," tambahnya.
Selain penunjukkan tokoh, Syamsuddin menilai program yang kelak ditawarkan kepada masyarakat juga perlu menjadi perhatian partai.
"2019 itu sudah cukup dekat, partai politik kita semestinya sudah siap-siap menyeleksi calon mereka untuk pemilu serentak," katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Syamsuddin menuturkan kaderisasi menjadi salah satu sistem yang dimiliki partai politik untuk mendapatkan sosok yang diunggulkan sebagai penguat posisi partai di pemerintahan.
Namun, kini partai di Indonesia dinilai masih lemah dalam urusan seleksi dan persiapan kader tersebut, ungkapnya.
"Misalnya saja pada Pilgub DKI 2017, ketiga calon gubernurnya bukan mewakili partai politik. Bahkan, Partai Demokrasi Indonesia Pembaharuan (PDIP) sudah melakukan seleksi pasangan pemimpin Jakarta tapi hasilnya akhirnya tidak digunakan, berarti kaderisasi di dalam partai itu gagal," jelasnya.
Oleh karena itu, kondisi tersebut perlu dijadikan pelajaran bagi para pemimpin partai untuk lebih matang menyiapkan anggotanya sejak jauh hari.
"Persiapannya itu dengan menggadang-gadang Calon Presiden, Wakil Presiden, dan Legislatif untuk 2019 dari sekarang, jangan kemudian instan dan bersifat tiba-tiba," tambahnya.
Selain penunjukkan tokoh, Syamsuddin menilai program yang kelak ditawarkan kepada masyarakat juga perlu menjadi perhatian partai.
Pewarta : Agita Tarigan
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Yayasan KOMIU sambut baik rencana BRIN jadikan TNKT laboratorium riset
04 February 2022 5:16 WIB, 2022
KOMIU: LIPI perlu usulkan status kura-kura Sulawesi jadi satwa dilindungi
12 June 2021 20:46 WIB, 2021
LIPI kirim 13 delegasi pelajar Indonesia ke ajang internasional ISEF 2021
30 April 2021 14:17 WIB, 2021
Delapan spesies tumbuhan menjadi penemuan baru dua peneliti LIPI di 2020
18 April 2021 14:58 WIB, 2021
Peneliti ungkap personalisasi salah satu masalah partai politik saat ini
08 April 2021 21:31 WIB, 2021
Terpopuler - Sulteng
Lihat Juga
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020