Morowali, Sulteng (ANTARA) - Di sebuah ruang kelas di SDN Siumbatu, Kabupaten , suara riuh anak-anak mendadak berubah menjadi gerakan serempak. Mereka menunduk, berlindung di bawah meja, dan memegang erat kaki meja masing-masing. “Drop, cover, and hold on!” teriak instruktur memberi aba-aba. Bagi sebagian siswa sekolah dasar itu, mungkin ini kali pertama mereka mempraktikkan simulasi gempa bumi.
Namun bagi para fasilitator, inilah investasi keselamatan jangka panjang.
Awal Februari 2026, menggelar Sosialisasi Tanggap Bencana bagi siswa sekolah dasar di sejumlah desa binaan perusahaan. Selama tiga hari, 3–5 Februari, ratusan siswa dari SDN Dampala, SDN Siumbatu, SDN 1 dan 2 Onepute Jaya, serta SDN 1 dan 2 Bahomotefe belajar mengenali risiko bencana dan cara menyelamatkan diri.
Provinsi berada di kawasan cincin api Pasifik yang rawan gempa bumi. Pengalaman bencana besar di masa lalu menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak bisa ditunda. Anak-anak, sebagai kelompok rentan, kerap menjadi korban ketika literasi kebencanaan rendah.
Karena itu, pendekatan edukasi sejak usia dini dinilai strategis. Dalam kegiatan ini, materi tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga melalui simulasi langsung. Anak-anak diajak mengenali tanda-tanda gempa, memahami jalur evakuasi, hingga mempraktikkan prosedur penyelamatan diri secara berulang agar menjadi refleks.
“Anak-anak adalah kelompok yang rentan, namun sekaligus memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Dengan pemahaman dan latihan yang tepat, mereka tidak hanya mampu menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga dapat membantu orang-orang di sekitarnya,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Morowali, Mohammad Ridwan Mangkali.
Bagi PT Vale, kegiatan ini bukan agenda seremonial semata. Mengacu pada informasi resmi perusahaan, PT Vale Indonesia Tbk merupakan perusahaan pertambangan nikel terintegrasi yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari lima dekade dan menjadi bagian dari grup global . Perusahaan ini juga tergabung dalam holding industri pertambangan milik negara, .
Dalam berbagai publikasi resminya, PT Vale menegaskan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan (sustainability), keselamatan kerja, serta pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) yang dijalankan mencakup bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan dan kesiapsiagaan bencana.
Community Development Officer Bahodopi, Salwa, mewakili manajemen perusahaan, menegaskan bahwa keselamatan merupakan nilai fundamental perusahaan. Edukasi kebencanaan sejak dini dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk membangun masyarakat yang tangguh.
“Melalui edukasi dan praktik kebencanaan sejak dini, kami ingin membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar, kesiapan mental, serta keberanian untuk bertindak tepat saat menghadapi keadaan darurat. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama bahwa kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab kolektif,” ujarnya.
Di tingkat sekolah, dampak kegiatan ini terasa langsung. Kepala SDN Siumbatu, Serno, melihat perubahan pada para siswanya. Anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga tampak lebih percaya diri.
“Mereka terlihat sangat antusias dan kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana bersikap saat terjadi bencana. Harapan kami, pengetahuan ini dapat tertanam kuat dan diterapkan dalam keseharian,” katanya.
Bagi para guru, pelatihan ini juga menjadi penguatan kapasitas. Sekolah sebagai ruang belajar kini semakin siap menjadi ruang aman ketika bencana terjadi.
Upaya membangun budaya sadar bencana memang tidak instan. Ia memerlukan kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, dan institusi pendidikan. Di Morowali, sinergi tersebut mulai tumbuh melalui langkah-langkah konkret seperti sosialisasi ini.
Di akhir sesi, ketika anak-anak kembali duduk di bangku masing-masing, wajah mereka terlihat cerah. Mungkin mereka belum sepenuhnya memahami kompleksitas risiko geologis di Sulawesi Tengah. Namun setidaknya, mereka kini tahu satu hal penting, saat bumi berguncang, mereka tidak lagi panik tanpa arah.
Dari ruang-ruang kelas sederhana di desa binaan, benih budaya siaga itu mulai ditanam. Dan di tangan generasi muda yang teredukasi, harapan akan Morowali yang lebih tangguh perlahan menemukan bentuknya.