Palu (ANTARA) - Ribuan muslim di Kota Palu mengikuti salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Vatulemo pada Sabtu pagi.
Jemaah hadir ke lapangan tersebut dengan berjalan kaki dan menggunakan kendaraan. Setibanya di Lapangan Vatulemo, mereka langsung menggelar sajadah dan mengumandangkan takbir.
Masyarakat mulai memadati lapangan sejak pukul 06.20 Wita dan salat Id dimulai pukul 07.00 Wita. Bertindak sebagai khatib salat ialah Ali bin Hasan Al Jufri.
Dalam ceramahnya, khatib menyampaikan bahwa tidak ada jaminan bagi setiap muslim untuk kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Oleh karena itu, momen perpisahan dengan Ramadhan seharusnya menjadi bahan renungan bagi setiap umat Islam.
"Bagi orang yang merasakan kepergian bulan suci Ramadhan, dia akan bersedih dan merasakan sesuatu yang hilang dalam dirinya. Hal ini karena tidak ada jaminan bagi kita sekalian, apakah kita bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan pada tahun yang akan datang atau hanya pada tahun ini saja," kata Ali.
Dalam khotbahnya, khatib Ali menyampaikan empat hal penting sebagai bekal umat Islam setelah Ramadhan.
Pertama, Allah Swt tidak memerintahkan ibadah puasa kecuali agar manusia dapat menambah amal ibadahnya. Dia mengatakan tidak ada satu amal ibadah pun yang dilakukan di bulan suci Ramadhan kecuali dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.
Kedua, lanjutnya, puasa melatih manusia untuk berlaku jujur, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, serta jujur kepada Allah Swt.
Meskipun tidak ada orang lain mengetahui apa yang dilakukan saat berpuasa, namun Allah mengetahui segala sesuatu termasuk kedipan mata dan lintasan hati manusia.
Ketiga, puasa mengajarkan manusia agar mampu mengatur kehidupan sehari-hari, tidak berlaku boros, serta mampu mengatur waktu dengan disiplin. Ia menegaskan bahwa Allah menyukai hamba yang mampu mengatur dirinya dan tidak menyukai pemborosan.
"Ramadhan mengajarkan kita untuk mengatur waktu, mengendalikan diri, dan tidak boros. Allah menyukai hamba yang mampu mengatur kehidupannya dengan baik dan tidak menyukai pemborosan," katanya.
Namun demikian, ia mengatakan bahwa dalam praktiknya pengeluaran selama bulan suci Ramadhan justru sering kali lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian masyarakat belum mampu mengelola keuangan dengan baik selama Ramadhan.
Keempat, puasa menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama, khususnya kepada orang-orang yang tidak memiliki apa-apa. Rasa lapar dan haus, katanya, menjadi bagian dari ujian keimanan agar manusia menyadari bahwa ada saudara yang memerlukan makanan dan bantuan.
Ali juga mengingatkan pentingnya menunaikan zakat fitrah dan zakat mal sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah Ramadhan. Dia mengajak jemaah untuk mempertahankan ketakwaan dan ketaatan setelah Ramadhan serta berharap agar seluruh amal ibadah diterima dan dosa diampuni oleh Allah Swt.