
China harapkan saat Idul Fitri konflik di Timur Tengah dapat berhenti

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengimbau agar ada penghentian konflik di Timur Tengah saat perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
"Sejarah dan kenyataan telah berulang kali menunjukkan kepada kita bahwa penggunaan kekerasan bukanlah solusi dan konflik bersenjata hanya akan menciptakan kebencian baru. Pihak-pihak yang berkonflik perlu menghentikan operasi militer sesegera mungkin dan mencegah situasi memburuk," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers, Jumat (20/3).
Hari Raya Idul Fitri 1447 H dirayakan oleh umat Islam di sejumlah negara pada Jumat, 20 Maret 2026. Sementara di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri dirayakan secara bervariasi, yakni pada Jumat, 20 Maret 2026 oleh sebagian muslim, dan Sabtu, 21 Maret 2026, oleh sebagian lainnya.
"Konflik di Timur Tengah terus meningkat dan meluas. Konflik ini tidak hanya memberikan pukulan terhadap perdamaian dan stabilitas regional, tetapi juga berdampak langsung pada ketersediaan energi, kondisi keuangan, stabilitas perdagangan, dan lalu lintas pelayaran di seluruh dunia," tambah Lin Jian.
Dia menyebut konflik di Timur Tengah merusak kepentingan bersama negara-negara.
"China akan melanjutkan upaya mediasi untuk mengakhiri pertempuran dan untuk segera kembalinya perdamaian dan stabilitas ke Timur Tengah," ungkap Lin Jian.
Kondisi di Timur Tengah memburuk sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu hingga menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran pun telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal dengan menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer milik Amerika. Serangan balasan itu menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran tidak akan menahan diri sama sekali untuk membalas jika infrastrukturnya diserang.
Militer Iran menyerang target di Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan udara militer milik Amerika, Al Dhafra, di Uni Emirat Arab, Jumat (20/3).
Eskalasi perang Amerika dan Israel melawan Iran juga telah menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, serta mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Di lokasi lain, tentara Israel telah meningkatkan serangan udaranya di seluruh Lebanon sejak awal Maret di tengah serangan lintas perbatasan dengan Hizbullah, meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024.
Kementerian Kesehatan Lebanon, Kamis (19/3), menyebutkan sedikitnya 1.001 orang tewas dan 2.584 terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret lalu.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian tersebut mengatakan bahwa ribuan korban itu termasuk 118 anak-anak dan 79 perempuan, sementara terdapat 365 anak-anak dan 414 perempuan di antara mereka yang terluka.
Selain itu, otoritas Israel juga melarang pelaksanaan salat Idul Fitri di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, dengan alasan keamanan di tengah perang dengan Iran.
Namun demikian, warga Palestina pada Jumat menyerukan muslim untuk berkumpul di Kota Tua guna melaksanakan salat Idul Fitri sedekat mungkin dengan Al-Aqsa yang menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadhan.
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
