Uganda Bergulat Lawan HIV/AIDS
Sabtu, 1 Desember 2012 9:38 WIB
Mukono, Uganda - Kehidupan di lokasi pendaratan Katosi di Kabupaten Mukono, Uganda tengah, bergerak cepat; ada kesibukan saat penggemar ikan dan nelayan melakukan bisnis mereka.
Namun ada wabah --monster yang mempengaruhi bukan hanya lokasi pendaratan Katosi, tapi juga banyak masyarakat penangkap ikan di Uganda.
Fatuma Nakabuye Nalongo dan suaminya, Salongo Mayengo, termasuk di antara orang yang positif HIV dan memenuhi syarat buat terapi antiretrovirus (ART) tapi menolak untuk memulainya karena mereka kekurangan makanan.
Nakabuye tak bisa memulai kehidupan dengan obat penyelamat nyawa itu sebab ada ketentuan ketika orang memulai pengobatan, ia harus mengkonsumsi semua makanan.
"Saya tak memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menelan ART. Selama kegiatan penyuluhan, saya disarankan oleh petugas kesehatan bahwa obat tersebut memerlukan makanan yang baik," kata perempuan itu kepada Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Sabtu pagi.
Pasangan suami-istri itu, bersama tiga anak mereka yang tak tertular, hidup dalam kondisi menyedihkan di lokasi pendaratan --yang penuh orang, sibuk dan mengalami "booming" bisnis.
Pasangan itu berjuang untuk memperoleh makanan sehari-hari mereka; mereka mengalami kesulitan untuk mendaftar buat perawatan sehingga kesehatan mereka terancam.
"Saya makan satu sekali sehari atau bahkan kelaparan. Suami saya tidak mempunyai pekerjaan dan saya juga tidak bekerja. Kami hidup dari menadahkan tangan kepada orang yang berhati baik. Kami ditampung oleh Orang Samariya," kata Nakabuye di satu ranjang sewaan. Pasangan tersebut hidup di ruang kecil bersama anak-anak mereka.
Kondisi Nakabuye jauh lebih rumit saat ia berjuang dengan penyakit serius lain, Tuberculosis.
Seperti istrinya, Mayengo --yang peralatan memancing dan perahunya, satu-satunya sumber penghasilan dan mencari nafkah, disita oleh satuan penanganan pantai-- tak bisa memulai kehidupan dengan obat penyelamat nyawa tersebut.
"Kami menghindari ARV sebab petugas kesehatan menyarankan kami bahwa kami perlu makan dengan baik sebelum mengkonsumsi ARV ...," kata Mayengo.
Tapi Nakabuye dan Mayengo tidak sendirian; ribuan orang yang mestinya mendapat perawatan nyatanya tidak.
Hingga Juni 2012, hanya 948 orang dari 6.225 orang yang memenuhi syarat buat ART, sebanyak 425 lelaki dan 523 perempuan mendapat akses ke obat antiretrovirus (ARV). Hanya 15 persen yang memerlukan memerlukan obat itu, kata kajian tahunan Komisi AIDS Uganda (UAC) --Rencana Strategis Nasional HIV/AIDS (2011/2012).
Menurut laporan tersebut, sebanyak 3.725 lelaki dan 1.552 perempuan di kalangan masyarakat nelayan yang dianggap oleh Kementerian Kesehatan Uganda sebagai salah satu "kelompok warga yang paling beresiko" tidak memiliki akses ke pengobatan karena kekurangan makanan, kehabisan ARV, kekurangan staf di instalasi kesehatan dan terbatasnya pusat kesehatan yang berwenang menawarkan layanan ART. (ANTARA/Xinhua-OANA)
Namun ada wabah --monster yang mempengaruhi bukan hanya lokasi pendaratan Katosi, tapi juga banyak masyarakat penangkap ikan di Uganda.
Fatuma Nakabuye Nalongo dan suaminya, Salongo Mayengo, termasuk di antara orang yang positif HIV dan memenuhi syarat buat terapi antiretrovirus (ART) tapi menolak untuk memulainya karena mereka kekurangan makanan.
Nakabuye tak bisa memulai kehidupan dengan obat penyelamat nyawa itu sebab ada ketentuan ketika orang memulai pengobatan, ia harus mengkonsumsi semua makanan.
"Saya tak memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menelan ART. Selama kegiatan penyuluhan, saya disarankan oleh petugas kesehatan bahwa obat tersebut memerlukan makanan yang baik," kata perempuan itu kepada Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Sabtu pagi.
Pasangan suami-istri itu, bersama tiga anak mereka yang tak tertular, hidup dalam kondisi menyedihkan di lokasi pendaratan --yang penuh orang, sibuk dan mengalami "booming" bisnis.
Pasangan itu berjuang untuk memperoleh makanan sehari-hari mereka; mereka mengalami kesulitan untuk mendaftar buat perawatan sehingga kesehatan mereka terancam.
"Saya makan satu sekali sehari atau bahkan kelaparan. Suami saya tidak mempunyai pekerjaan dan saya juga tidak bekerja. Kami hidup dari menadahkan tangan kepada orang yang berhati baik. Kami ditampung oleh Orang Samariya," kata Nakabuye di satu ranjang sewaan. Pasangan tersebut hidup di ruang kecil bersama anak-anak mereka.
Kondisi Nakabuye jauh lebih rumit saat ia berjuang dengan penyakit serius lain, Tuberculosis.
Seperti istrinya, Mayengo --yang peralatan memancing dan perahunya, satu-satunya sumber penghasilan dan mencari nafkah, disita oleh satuan penanganan pantai-- tak bisa memulai kehidupan dengan obat penyelamat nyawa tersebut.
"Kami menghindari ARV sebab petugas kesehatan menyarankan kami bahwa kami perlu makan dengan baik sebelum mengkonsumsi ARV ...," kata Mayengo.
Tapi Nakabuye dan Mayengo tidak sendirian; ribuan orang yang mestinya mendapat perawatan nyatanya tidak.
Hingga Juni 2012, hanya 948 orang dari 6.225 orang yang memenuhi syarat buat ART, sebanyak 425 lelaki dan 523 perempuan mendapat akses ke obat antiretrovirus (ARV). Hanya 15 persen yang memerlukan memerlukan obat itu, kata kajian tahunan Komisi AIDS Uganda (UAC) --Rencana Strategis Nasional HIV/AIDS (2011/2012).
Menurut laporan tersebut, sebanyak 3.725 lelaki dan 1.552 perempuan di kalangan masyarakat nelayan yang dianggap oleh Kementerian Kesehatan Uganda sebagai salah satu "kelompok warga yang paling beresiko" tidak memiliki akses ke pengobatan karena kekurangan makanan, kehabisan ARV, kekurangan staf di instalasi kesehatan dan terbatasnya pusat kesehatan yang berwenang menawarkan layanan ART. (ANTARA/Xinhua-OANA)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PT Vale wujudkan Kolaka sehat melalui sosialisasi pencegahan HIV-AIDS dan TB
16 October 2025 18:28 WIB
Peran mikrobiologi klinik atasi masalah penyakit infeksi di Indonesia
21 February 2024 11:20 WIB, 2024