Gajah di Langkat Dirawat Orang Jerman
Kamis, 2 Mei 2013 13:13 WIB
(FOTO ANTARA/Anis Efizudin)
Medan (antarasulteng.com) - Gajah yang dipelihara di lokasi wisata air Tangkahan Desa Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, bukan hanya dirawat oleh "mahout" atau pelatih gajah, tetapi juga tenaga dokter ahli hewan dari Jerman.
"Gajah di Tangkahan yang juga menjaga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Langkat, rutin diperiksa dokter dari negara asing tersebut," kata salah seorang perawat gajah di Tangkahan, Budi (38) ketika dihubungi dari Medan, Rabu.
Pemeriksaan tersebut, menurut dia, untuk mengetahui perkembangan satwa langka, dan juga kesehatan binatang yang dilindungi pemerintah itu.
"Dokter yang menangani kesehatan gajah di lokasi Tangkahan Langkat adalah dari NGO asing," kata Budi.
Dia mengatakan, saat ini jumlah gajah peliharaan di Tangkahan sebanyak 7 ekor gajah dewasa dan ditambah satu ekor anak gajah berusia 15 bulan yang kelihatan sedang berkembang.
Ketujuh gajah tersebut antara lain, Eva (46), Sari (42), Adana (40), Theo (28), Aulia (28), Yuni (23), Oliv (16) dan anak gajah bernama Ame (15 bulan).
"Ketujuh gajah itu tetap didampingi oleh pawang atau pelatih gajah yang sudah memiliki pengalaman dalam mengarahkan satwa tersebut setiap hari berpatroli di kawasan TNGL mengawasi pembalak liar," ujarnya.
"Gajah di Tangkahan yang juga menjaga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Langkat, rutin diperiksa dokter dari negara asing tersebut," kata salah seorang perawat gajah di Tangkahan, Budi (38) ketika dihubungi dari Medan, Rabu.
Pemeriksaan tersebut, menurut dia, untuk mengetahui perkembangan satwa langka, dan juga kesehatan binatang yang dilindungi pemerintah itu.
"Dokter yang menangani kesehatan gajah di lokasi Tangkahan Langkat adalah dari NGO asing," kata Budi.
Dia mengatakan, saat ini jumlah gajah peliharaan di Tangkahan sebanyak 7 ekor gajah dewasa dan ditambah satu ekor anak gajah berusia 15 bulan yang kelihatan sedang berkembang.
Ketujuh gajah tersebut antara lain, Eva (46), Sari (42), Adana (40), Theo (28), Aulia (28), Yuni (23), Oliv (16) dan anak gajah bernama Ame (15 bulan).
"Ketujuh gajah itu tetap didampingi oleh pawang atau pelatih gajah yang sudah memiliki pengalaman dalam mengarahkan satwa tersebut setiap hari berpatroli di kawasan TNGL mengawasi pembalak liar," ujarnya.
Pewarta : Munawar Mandailing
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Museum Nasional identifikasi 243 koleksi terdampak kebakaran gedung
27 September 2023 15:39 WIB, 2023
Terpopuler - Wisata & Budaya
Lihat Juga
Pepadi Apresiasi Wali Kota Bandarlampung lestarikan budaya Indonesia
23 February 2020 11:31 WIB, 2020
Potensi rugi akibat berkurangnya wisman China mencapai 2,8 miliar dolar
13 February 2020 17:24 WIB, 2020
Wapres dorong dunia pariwisata dapat berinovasi sikapi dampak corona
10 February 2020 16:03 WIB, 2020