
Memburu Beras Petani Lewat "Jaringan Semut"

""...Pengadaan Beras oleh Bulog Sulteng sudah mencapai 35 ribu ton...", kata Kepala Perum Bulog Sulawesi Tengah, Damin Hartono.
Palu, (Antarasulteng.com) - Aktivitas di gudang beras Bulog di Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah setiap harinya terlihat ramai.
Buruh pikul yang mencari nafkah di gudang milik Perum Bulog Sulteng itu saban hari tampak cukup sibuk mengangkat karung beras dari mobil para mitra Bulog untuk dimasukan ke gudang.
"Ini pak sudah mulai berkurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya saat panen raya padi berlangsung," kata Udin, salah seorang dari sejumlah buruh yang bekerja di gudang Bulog, Jumat.
Ia mengaku saat berlangsung panen raya, hampir tidak ada waktu untuk istirahat karena banyak beras yang masuk ke gudang merupakan hasil pembelian dari petani melalui mitra Bulog.
Namun dalam sebulan ini, kegiatan di gudang sedikit menurun, erat kaitanya dengan masa panen raya belum tiba.
Panen raya di Sulteng pada musim tanam terakhir baru akan berlangsung pada November-Desember 2013."Jadi untuk sekarang ini kegiatan masih normal," katanya.
Beras yang masuk pun mulai berkurang tetapi setiap hari pasti ada mitra Bulog yang datang memasukan stok berasnya ke gudang, meski jumlahnya tidak sebanyak saat musim panen.
Di gudang beras Tondo saat ini ada sekitar 10.000 ton beras yang seluruhnya adalah hasil penyerapan produksi petani di Kabupaten Donggala, Sigi dan Kota Palu.
Kepala Perum Bulog Sulteng, Damin Hartono mengatakan stok beras yang dikuasai Bulog dan kini tersebar di 10 kabupaten dan Kota Palu hingga kini masih mencapai 24.000 ton.
Jika diperhitungkan dengan kebutuhan penyaluran, dijamin stok cukup untuk tujuh bulan ke depan sehingga tidak ada alasan dikhawatirkan kekurangan kebutuhan pokok tersebut.
Selain memiliki ketahanan stok yang cukup memadai, Bulog juga terus gencar melakukan pembelian beras petani melalui mitra, satgas dan UPGB (unit penggilingan gabah dan beras) yang ada di Kabupaten Parigi Moutong dan Tolitoli.
Semua kekuatan pendukung dalam kegiatan pengadaan beras di daerah ini dikerahkan guna memperbesar penyerapan beras produksi petani.
Bahkan, kata Damin untuk merealisasi target pengadaan beras yang ditetapkan Perum Bulog pada musim panen (MP) 2013 di provinsi Sulteng, pihaknya terus mencari mitra baru di setiap kabupaten dan kota.
"Kalau dahulu yang menjadi rekanan Bulog dalam pengadaan beras adalah mitra-mitra besar (koperasi, pengusaha penggilingan padi, CV atau PT), maka sekarang ini sasaran terbesar mitra kecil," katanya.
Dirut Bulog mulai 2013 ini menerapkan strategi baru dalam pengadaan beras untuk memperbesar realisasi dan mencapai target pembelian yang diharapkan.
"Jaringan semut"
Damin Hartono menjelaskan strategi baru dimaksud adalah "jaringan semut". Kita ketahui bersama semut merupakan binatang kecil yang terkenal sangat bijaksana dalam mengumpulkan bahan makanan.
Istilah "jaringan semut" tidak lain adalah mitra-mitra kecil yaitu petani yang termasuk dalam suatu kelompok tani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (gapoktan).
Selain gapoktan "jaringan semut" dimaksud juga adalah pemilik penggilingan padi kecil yang memang jika dihitung atau dibandingkan dengan penggilingan besar cukup banyak.
Jaringan inilah yang sekarang menjadi prioritas Bulog untuk menjalin kemitraan dalam kegiatan pengadaan beras di sentra-sentra produksi di seluruh kabupaten dan kota di Sulteng.
Ia mengaku pada tahun-tahun sebelumnya, Bulog di daerah ini tidak memiliki mitra satupun dari gapoktan atau penggilingan kecil.
Semua mitra Bulog yang terlibat dalam kegiatan pengadaan beras adalah pedagang dan pengusaha penggilingan besar. "Tapi mulai 2013 ini justru sudah banyak mitra Bulog dari gapoktan dan penggilingan kecil," katanya.
Menurut dia, Bulog Sulteng dengan menggunakan strategi seperti itu cukup berhasil meningkatkan pembelian beras petani di kantong-kantong produksi.
Semakin banyak beras yang berhasil diserap oleh Bulog dibandingkan kegiatan pengadaan tahun-tahun sebelumnya.
Bulog Sulteng terus memburu beras petani melalui "jaringan semut" sebagai tombak utama dilapangan. Mitra kecil membeli beras petani berapun stoknya langsung dijual kepada Bulog.
Sementara mitra besar harus menunggu stok dalam jumlah besar baru mereka menjual ke Bulog. Tetapi tidak seperti mitra-mitra Bulog yang kecil mereka begitu sudah punya stok, meski jumlahnya satu atau dua ton langsung menjual ke Bulog.
Biar stok sedikit, tetapi karena mitra yang menjual beras kepada Bulog jumlahnya banyak, otomatis serapan Bulog akan lebih besar lagi.
Damin enggan menyebutkan jumlah mitra Bulog, kecuali mengatakan sudah cukup banyak dan setiap bulan ada mitra baru yang mengajukan permohonan untuk terlibat dalam kegiatan pengadaan beras di daerah-daerah.
Mitra baru dari gapoktan saat ini semakin banyak yang berminat untuk mejalin kerja sama Bulog membeli beras petani. Dan semakin banyak mitra akan semakin besar pula beras yang diserap Bulog.
Keuntungan bermitra dengan gapoktan karena mereka memiliki akses langsung ke petani. "Karena petani tergabung dalam kelompok itu sehingga mudah untuk menampung dan menjual hasil produksi kepada Bulog," katanya.
Bulog Sulteng juga tidak hanya bermitra dalam hal pembelian beras, tetapi juga membantu kebutuhan petani seperti penyediaan benih, pupuk dan obat-obatan.
Bahkan Bulog melalui UPGB di salah satu kabupaten di Sulteng yakni Tolitoli sekarang ini dilengkapi alat mesin pertanian berfungsi ganda.
Selain penggilingan double pass, juga ada tiga unit mesin alat pertanian yang dapat digunakan multi fungsi yakni bisa membajak dan juga memanen gabah.
Beberapa waktu lalu, Bulog Sulteng melalui UPGB Tolitoli menjalin kemitraan dengan salah satu gapoktan di daerah itu dan tahap pertama sudah terealisasi panen perdana padi `on farm` kemitraan.
Hasilnya cukup memuaskan, meski baru langkah awal, tetapi produksi sungguh mengembirakan dan semua gabah/beras dibeli Bulog sesuai standar harga yang ditetapkan pemerintah.
Bulog Sulteng membeli beras dari petani (beras kualitas medium) mengacu kepada standar harga pembelian pemerintah (HPP) yaini Rp6.600 per kilogram.
35 ribu ton
Damin Hartono juga mengatakan realisasi pengadaan beras di Sulteng hingga kini sudah mencapai 35 ribu ton. Pada musim panen tahun ini, Perum Bulog menargetkan pengadaan beras di provinsi yang terletak di jantung Pulau Sulawesi itu sebanyak 40.000 ton.
"Target pengadaan beras di Sulteng oleh Bulog sudah beberapa kali mengalami revisi," katanya.
Semula ditargetkan pembelian beras petani sebanyak 25.000 ton, kemudian direvisi menjadi 30 ribu ton, dinaikan lagi menjadi 35 ribu ton dan terakhir 40 ribu ton.
Melihat realisasi pengadaan yang sudah mencapai 35.000 ton pada medio Oktober 2013, Damin optimistis pengadaan kemungkinan besar melebihi target.
"Masih ada dua bulan. Apalagi November-Desember akan berlangsung panen raya di Sulteng," katanya.
Menurut dia, untuk membeli 5.000 ton beras petani pada musim panen itu tidak sulit bagi Bulog.
Ia yakin realisasi pengadaan beras pada 2013 ini, niscaya melebihi target yang ditetapkan Perum Bulog.
Dia menambahkan pengadaan beras setiap hari dalam kondisi normal berkisar antara 200-250 ton. "Tapi dalam beberapa hari ini pengadaan sedikit turun karena panen raya belum tiba dan harga beras di beberapa sentra produksi, termasuk di Kabupaten Parigi Moutong mulai bergerak naik".
Mitra Bulog tentu harus bersaing ketat dengan para pengusaha/pedagang dari luar seperti Manado, Gorontalo dan Maluku yang juga datang membeli beras produksi petani Sulteng.
Saat musim panen, banyak pedagang atau pengusaha dari daerah-daerah tersebut datang membeli beras di Sulteng. "Tapi Bulog melalui mitra yang selama ini setia menjual beras ke Bulog tetap gencar membeli meski harus bersaing ketat dengan pedagang dan pengusaha dari luar yang membeli diatas harga pembelian Bulog," katanya.
Suleman, salah seorang mitra Bulog mengatakan tetap menjual stok kepada Bulog meski hanya mendapat keuntungan kecil. "Saya baru saja teken kontrak pembelian dengan Bulog sebanyak 50 ton," katanya.
Hal senada juga disampaikan Hi Rais. Mitra Bulog itu mengatakan tetap mendukung Bulog Sulteng dalam menyerap lebih besar produksi petani.
"Saya sudah puluhan tahun menjadi mitra Bulog dalam kegiatan pengadaan beras dan juga jasa transportasi," katanya.
Karena itu, berapun stok beras yang ada padanya, semua dijual kepada Bulog Sulteng.
Menurut dia, Bulog sekarang ini sangat jauh berbeda dengan Bulog (dahulu Dolog) pada tahun-tahun sebelumnya. Dahulu mitra Bulog sangat sedikit, tetapi sekarang cukup banyak dan kebanyakan mitra kecil yakni penggilingan kecil dan gapoktan.
Bulog memberikan kesempatan dan peluang besar bagi mitra kecil yang ada di daerah-daerah untuk menjalin kemitraan dalam pengadaan beras.
Petani pun semakin mudah dan gampang untuk menjual hasil panen mereka karena sudah ada wadah yaitu gapoktan yang menampung kemudian menjual kepada Bulog sesuai standar harga pemerintah.
Dengan demikian, harga beras di petani tidak mudah lagi dipermainkan oleh para tengkulak yang hanya memikirkan dan mencari keuntungan sepihak.
"Kalau dahulu tengkulak merajalela, sekarang ini tidak karena rata-rata di daerah sudah ada gapoktan yang bermitra dengan Bulog untuk memasarkan gabah dan beras petani," ujar Rais.
Pewarta : Oleh Anas Masa
Editor:
Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026
