
Sail Tomini 2015, Mengakselerasikan Visi Sulteng 2020

Harapan kita dari penyelenggaraan Sail Tomini 2015 adalah bagaimana kondisi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah pasca Sail tersebut."
KEPPRES SAIL TOMINI telah lahir dipenghujung masa bakti kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, setelah berproses sejak 2011. Kepres ini bernomor 42 tertanggal 17 Oktober 2014, ditandatangani oleh Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudoyono di Jakarta. Isinya antara lain menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai pelaksana Sail tahun 2015.
Selanjutnya pelaksanaan Sail akan berada di era kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden ke-7 RI, Joko Widodo-Muhammad Jusuf Kalla, yang salah satu program prioritasnya adalah pengembangan sektor maritim.
Dengan demikian perjuangan panjang Pemerintah Sulawesi Tengah bersama masyarakatnya sejak tahun 2011 untuk menjadi pelaksana Sail telah terjawab. Karena itu, momentum ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk percepatan pencapaian visi Sulawesi Tengah "sejajar dengan provinsi maju di timur Indonesia di bidang agribisnis dan kelautan melalui pengembangan sumberdaya manusia yang berdaya saing tahun 2020. Selain itu untuk menjadi pelaksana berikutnya harus menunggu setidaknya 34 tahun lagi.
Berdasarkan struktur kepanitiaan Sail, maka sebagai ketua pengarah adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, sedangkan ketua pelaksana adalah Menteri Kelautan dan Periknan. Di tingkat daerah sebagai Ketua Pelaksana adalah Gubernur Sulawesi Tengah, Wakil Ketua Gubernur Gorontalo, Sekretaris Sekprov Sulawesi Tengah dan wakil sekretaris adalah Sekprov Gorontalo. Selanjutnya para bupati dan wali kota se-Sulawesi Tengah dan Gorontalo sebagai anggota.
Kepres ini selanjutnya akan menjadi landasan legalitas formal bagi Kementrian dan Lembaga maupun daerah untuk mengalokasikan anggaran melalui APBN dan APBD guna mendukung sejumlah program dan kegiatan Sail.
Instrumen percepatan kesejahteraan
Penyelenggaran Sail Tomini 2015 antara lain bertujuan untuk percepatan pembangunan dan pengembangan potensi sumberdaya kelautan dan pariwisata Indonesia, guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang seluas-luasnya, khususnya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, sekaligus menyemarakkan hari ulang tahun ke-70 Kemerdekaan RI.
Kegiatan yang akan dilaksanakan terkait dengan Sail adalah (1) Upacara bendera peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI di pulau terluar Republik Indonesia; (2) Bakti sosial dan pelayanan kesehatan berupa operasi Bhakti Surya Baskhara Jaya, Operasi Bhakti Kartika Jaya, Operasi Bakhti Pelangi Nusantara, serta demonstrasi/sailling pass (parade kapal dan terjun payung); (3) Pelayaran Lingkar Nusantara V; (4) Percepatan pembangunan sarana-prasarana; (5) Bakti Kesejahteraan Rakyat Nusantara; (6) Badan Usaha Milik Negara Bina Lingkungan Tomini; (7) Gerakan Membangun Kampung; (8) Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari/Kapal Pemuda Nusantara; (9) Ekspedisi Riset Kelautan; (10) Reli Kapal Layar (Yacht Rally); (11) Seminar Nasional dan Internasional; (12) Pengembangan Potensi Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Budaya; (13) Gebyar Batik TOMINI; (14) Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara; (15) Olahraga Bahari; (16) Pameran Potensi Daerah; (17) Festival Buolemo; (18) Upacara Puncak Acara Sail Tomini 2015; (19) Kegiatan Lain yang disesuaikan dengan perkembangan di daerah.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa penyelenggaran Sail Tomini bertujuan membawa kesejahteraan yang seluas-luasnya bagi masyarakat, namun realitanya berpulang kepada seberapa jauh Pemerintah Sulawesi Tengah bersama masyarakatnya dapat memanfaatkan momentum ini.
Akselerasi visi Sulawesi Tengah
Salah satu fokus dan prioritas Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah pengembangan sektor maritim. Kabinet ini bercita-cita menjadikan Indonenesia sebagai Negara Maritim, yang salah satu indikatornya adalah mampu mensejahterahkan rakyatnya melalui pemanfaatan potensi sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil yang memang menjadi potensi negeri ini.
Presiden dan Wakil Presiden RI Jokowi-JK dalam beberapa kesempatan mengajak kepada seluruh pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat kiranya mengubah paradigma yang selama ini "memunggungi (membelakangi) laut menjadi menghadapi laut" yang maknanya bahwa orientasi pembangunan kita harus diubah dari paradigma darat ke laut.
Arah kebijakan Kabinet Kerja ini tentunya senafas dengan visi Pemerintah Sulawesi Tengah 2011-2016 yang menjadikan sektor agribisnis dan kelautan sebagai lokomotif ekonomi, meskipun kita tahu bahwa kondisi sektor agribisnis dan kelautan Sulawesi Tengah saat ini belum berjalan cepat dan masih membutuhkan energi besar untuk mendorongnya.
Oleh karena itu Pemerintah Sulawesi Tengah terus berjuang untuk mencari sumber energi baru dengan antara lain berupaya sebagai penyelenggara even nasional maupun internasional. Hari Nusantara ke-13 yang dilaksanakan di Sulawesi Tengah tahun 2013 yang lalu merupakan salah satu bukti keseriusan pemerintahnya dan dinilai oleh Dewan Kelautan Indonesia sebagai penyelenggara terbaik.
Dampak dari pengakuan itu adalah terbangunnya kepercayaan dunia luar terhadap Sulawesi Tengah, dan salah satu di antaranya adalah kembali ditunjuknya Sulawesi Tengah sebagai penyelenggara Sail Tomini 2015 dengan Keppres Nomor 42 tahun 2014, meskipun baru setahun yang lalu sebagai tuan rumah penyelenggara Hari Nusantara.
Atas prestasi yang dicapai ini, tentunya masyarakat Sulawesi Tengah patut memberi apresiasi kepada Gubernur Longki Djanggola, Wakil Gubernur Sudarto, Ketua DPRD Aminuddin Ponulele, wali kota dan bupati se-Sulawesi Tengah serta komponen terkait lainnya.
Menjadi penyelenggara yang baik.
Harapan kita dari penyelenggaraan Sail Tomini 2015 adalah bagaimana kondisi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah pasca Sail tersebut.
Tentunya kita semua berharap akan terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, menurunnya nilai rasio gini (rasio kelompok yang berpendapatan besar dan kecil), meningkatnya investasi, meningkatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya jumlah orang yang berkunjung ke Sulawesi Tengah serta meningkatnya sejumlah indikator ekonomi lainnya.
Kesemua ini dapat terjadi bila Sulawesi dapat menjadi penyelenggara yang baik. Setidaknya ada tiga indikator sebagai penyelenggara yang berhasil yaitu mampu menciptakan (1) rasa aman; (2) rasa nyaman dan (3) memberi inspirasi bagi tamu yang datang berkunjung.
Untuk merealisasikan tiga hal ini, maka strategi yang harus dilakukan antara lain adalah (1) koordinasi antara panitia pusat dan daerah, antarunsur di panitia daerah; (2) meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat dan meningkatkan promosi ke luar dengan cara-cara yang berbasis teknologi informasi; (3) memberi informasi dalam bentuk potensi, regulasi, dan inovasi bagi tamu yang berkunjung. Semoga!
*)Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah.
Pewarta : DR Ir Hasanuddin Atjo, MP *)
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
