
DKP Sulteng Bangun `Nursery` Percontohan Udang Vanamei

...nursery ini dibangun di lokasi perbenihan DKP Sulteng Kelurahan Mamboro, Kota Palu, yang pekerjaan fisiknya selesai Desember 2015.
Palu, (antarasulteng.com) - Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah sedang membangun sebuah tempat pemprosesan benih (nursery) udang vanamei sebagai `nursery` pertama di Sulteng dan percontohan untuk mendukung pengembangan teknologi budidaya udang Supra Intensif Indonesia (SII) di daerah ini.
Kepala Dinas KP Sulteng Hasanuddin Atjo mengemukakan di Palu, Rabu, nursery ini dibangun di lokasi perbenihan DKP Sulteng Kelurahan Mamboro, Kota Palu, yang pekerjaan fisiknya selesai Desember 2015.
Tahun depan, kata Atjo, nursery ini diharapkan sudah mulai berproduksi dengan kapasitas sekitar 500.000 ekor setiap 25 hari.
Nursery ini terutama untuk mendukung beberapa lokasi percontohan budidaya udang supra intensif yang sudah dibuka di Sulteng sejak setahun terakhir seperti di Kelurahan Mamboro, Kota Palu dan Desa Kampal, Kabupaten Parigi Moutong.
Tempat perbenihan ini juga akan membantu semua pihak yang berminat mengembangkan budidaya udang dengan teknologi supra intensif, hasil temuan Hasanuddin Atjo dan diluncurkan secara nasional pada 2013.
Nursery ini, kata Atjo, memiliki banyak manfaat antara lain adanya efisiensi dalam menerapkan teknologi supra intensif di Sulawesi Tengah karena selama ini masih harus mendatangkan bibit dari luar daerah.
Manfaat berikutnya adalah memperkecil resiko budidaya baik berupa kematian benih maupun penyebaran penyakit sehingga produktivitas akan semakin tinggi. Selain itu, lewat nursery, seleksi benih akan lebih efektif dilakukan, sehingga yang masuk ke tambak betul-betul adalah benih berkualitas standar.
Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Sulawesi ini mengemukakan, dengan adanya nursery di Kota Palu maka intensitas panen bisa naik. Kalau selama ini siklus panen baru dua kali setahun, akan bisa ditingkatkan menjadi tiga kali setahun atau paling tidak lima kali dalam dua tahun, ujarnya.
Hasanuddin Atjo mengemukakan teknologi budidaya udang supra intensif makin diminati masyarakat sehingga beberapa pengusaha di daerah ini sudah mulai mencoba mengembangkannya dan hasilnya memuaskan.
Teknologi budidaya SII ini tercatat sebagai sistem budidaya ramah lingkungan yang paling produktif di dunia dewasa ini dengan produktivitas rata-rata 153 ton per hektare.
Pengertian supra intensif adalah mengimplementasikan secara konsisten dan terkontrol lima sub sistem budidaya yang dimulai dari penggunaan benih bermutu, kecukupan nutrisi, dan pengendalian patogen yang dikemas dalam satu sistem manajemen modern.
Pewarta : Rolex Malaha
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
