Melirik sejarah pencapaian empat tim peserta Championship Series

id liga 1,championship series,persib bandung,bali united,borneo fc,madura united

Melirik sejarah pencapaian empat tim peserta Championship Series

Tim Persib Bandung menyapa suporter usai melawan Persebaya Surabaya pada pertandingan lanjutan BRI Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/4/2024). Persib Bandung berhasil menjadi tim kedua yang lolos ke Championship Series Liga 1 2023/2024 setelah Borneo FC. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/YU

Jakarta (ANTARA) - Kompetisi sepak bola strata tertinggi atau Liga 1 Indonesia kembali mengubah formatnya pada musim ini dengan menggunakan Championship Series setelah musim reguler berakhir.
 

Format Championship Series itu kembali diberlakukan setelah selama enam musim berturut-turut --di luar musim 2020 yang berhenti di awal musim karena pandemi COVID-19-- Liga 1 tanah air selalu menggunakan format liga penuh.

Format Championship Series ini sebenarnya bukan barang baru. Pada awal kelahirannya, kompetisi strata tertinggi sepak bola Indonesia yang melebur Galatama dan Perserikatan juga telah menggunakan format empat besar.

Pada musim-musim berikutnya, format empat besar dan delapan besar juga pernah digunakan, sebelum kemudian operator memilih meniadakan format gugur dan menerapkan model klasemen untuk mencari tim juara.

Sebagaimana manusia yang terus berubah, operator kompetisi juga ternyata memiliki tren serupa. Pada musim ini, berakhirnya kompetisi reguler yang ditandai dengan seluruh tim telah memainkan semua pertandingannya, tidak berarti kompetisi telah selesai dan juara telah didapat.

Empat tim teratas di klasemen akhir musim reguler  akan kembali diadu dalam format dua leg semifinal dan dua leg pertandingan final. Artinya tim juara masih akan harus memainkan empat pertandingan lagi sebelum bisa didaulat sebagai rajanya sepak bola Indonesia.

Dari empat semifinalis, terdapat dua mantan juara dalam diri Persib Bandung dan Bali United, serta dua tim yang belum pernah menjadi juara yakni Borneo FC dan Madura United. Menariknya, dari keempat tim tersebut, tiga tim merupakan nama yang relatif baru dan hanya Persib yang memiliki sejarah panjang di panggung sepak bola tanah air.

Bagaimana pencapaian masa lalu keempat tim tersebut, simak paparannya di bawah ini:



 


Halaman berikut: Persib Bandung sisa kejayaan Perserikatan

Persib Bandung
 

Pesepak bola Persib Bandung David Da Silva berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Borneo FC pada pertandingan BRI Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/4/2024). Persib Bandung berhasil mengalahkan pemuncak klasemen sementara Borneo FC dengan skor akhir 2-1. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/foc.

"Persib adalah Jawa Barat, Jawa Barat adalah Persib." Ungkapan seperti itu sudah sangat jamak terdengar, karena tidak berlebihan kalau dikatakan nama Persib nyaris tanpa pesaing di Jabar. ini 
berbeda dengan dua provinsi besar lain di Pulau Jawa, yakni Jawa Tengah plus Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur.  Di Jawa Tengah, PSIS mempunyai pesaing dalam diri Persis Solo; Di Yogyakarta, PSIM harus berbagi pendukung dengan PSS Sleman; Di Jawa Timur selalu terjadi persaingan antara Persebaya Surabaya dengan Arema Malang.

Jika ditepikan diskusi mengenai tahun lahir Persib, entah 1919 atau 1933, Maung Bandung tetap merupakan klub tertua di antara keempat semifinalis. Mereka bahkan tercatat sebagai salah satu klub pendiri PSSI.

Bukan hanya mentereng karena nama besar dan popularitas, Persib juga beberapa kali menguasai singgasana tertinggi sepak bola nasional.

Diawali dengan menjuarai Kompetisi Perserikatan pada 1937, yang oleh sebagian orang dinilai sebagai gelar juara pertama Persib. Klub yang identik dengan warna biru ini kemudian menjadi juara perserikatan pada 1961, 1986, 1990, dan 1994.

Saat PSSI melakukan penggabungan kompetisi Galatama dan perserikatan, Persib juga keluar sebagai juara edisi pertama Liga Indonesia yakni musim 1994/1995. Pencapaian itu semakin menarik perhatian publik sepak bola, karena Persib menjadi juara dengan mengandalkan para pemain lokal tanpa satu pun pemain asing.

Setelah prestasi pada 1995 itu, Persib harus puasa cukup lama untuk dapat kembali mengangkat trofi. Mereka akhirnya buka puasa pada 2014 setelah menaklukkan Persipura Jayapura dengan kemenangan adu penalti 5-3 di final.

Gemilang kejayaan pada 2014 gagal dipertahankan Persib pada musim-musim berikutnya. Dengan mengabaikan kompetisi musim 2015 yang dihentikan karena pembekuan PSSI oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga serta musim 2020 yang dihentikan karena pandemi COVID-19, Persib dapat disebut baru pada musim lalu dapat kembali bersaing di papan atas yakni mengakhiri musim di posisi kedua.

Persib bahkan sempat mengakhiri musim di posisi ke-13 pada 2017. Salah satu keterpurukan paling buruk yang pernah dialami klub itu.

Apapun, Persib tetaplah Persib. Terlebih kali ini mereka mampu mengakhiri reguler dengan menghuni posisi kedua. Di bawah asuhan arsitek tim asal Kroasia Bojan Hodak, peluang Persib untuk membawa pulang trofi juara ke kota kembang Kembang cukup besar.

Pangeran Biru akan bertamu ke Bali, pada pertandingan semifinal pertama di markas Bali United Selasa (14/5) mendatang. Persib memiliki keuntungan psikologis sebab sang lawan tidak akan didukung para penggemarnya karena laga dimainkan di lapangan latihan Bali United.


Bali United, dari Samarinda pikat hati fan Pulau Dewata

 


Bali United

Secara de jure, Bali United baru lahir pada 2015. Namun klub ini sebenarnya bukan klub yang benar-benar baru, sebab mereka sebelumnya merupakan klub asal Kalimantan, Putra Samarinda.

Saat masih bernama Putra Samarinda (Pusam), klub itu merupakan peserta kompetisi Galatama dan pernah berkiprah di Liga Indonesia. Namun karena masalah finansial, Pusam kesulitan bersaing untuk menjadi juara.

Masalah-masalah yang ada kemudian membuat Pusam kemudian merger dengan Persisam, untuk membentuk Persisam Putra Samarinda. Lantas pada 2014, Pusam diambil alih Pieter Tanuri yang mengganti nama klub menjadi Bali United.

Ternyata tanah para dewata, dan sokongan modal tentunya, membawa berkah bagi Bali United. Mereka bukan saja bagai menghapus nama klub lama seperti Persegi Gianyar atau Gelora Dewata sebagai “top of mind” sepak bola Bali di benak masyarakat, tetapi Bali United juga menjelma menjadi salah satu kekuatan penting di kompetisi tanah air.

Sejarah mencatat, Bali United telah dua kali menjuarai Liga 1, yakni pada 2019 dan musim 2020/2021. Mereka bahkan terhitung mampu mempertahankan gelar juara liga, sebab musim 2020 kompetisi tidak diteruskan karena pandemi COVID-19.

Prestasi terburuk Bali United adalah mengakhiri musim di posisi ke-11 pada musim 2018. Sisanya, mereka selalu mampu bersaing di papan atas, yakni dengan menghuni posisi kedua pada 2017 serta berada di posisi kelima pada akhir musim 2022/2023.
 

Halaman berikut: Borneo FC dibentuk dengan mengakuisisi tim asal Madura, Perseba Bangkalan


Borneo FC

Borneo FC memiliki irisan sejarah dengan Bali United. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Bali United dulu bernama Putra Samarinda (Pusam).

Diakuisisinya Pusam oleh Bali United yang berujung pada pemindahan markas klub ke Bali, membuat kota Samarinda tidak lagi memiliki perwakilan di kancah sepak bola papan atas nasional. Hal itu disikapi oleh salah seorang penggemar berat Pusam, Nabil Husein, dengan membentuk Borneo FC.

Borneo FC dibentuk dengan mengakuisisi tim asal Madura, Perseba Bangkalan, pada 2014. Perseba sendiri saat ini didaftarkan kembali oleh Asosiasi Provinsi PSSI Bangkalan untuk dapat berkompetisi di Liga 3 Jawa Timur.

Di kancah liga, Borneo yang masih berusia muda belum pernah menjadi juara. Pencapaian terbaik Borneo di sepak bola nasional adalah menjuarai Piala Presiden pada 2017 dan 2022.

Meski demikian, Borneo memperlihatkan tren menanjak selama berkiprah di Liga Indonesia. Setelah menutup musim 2017 dengan menghuni posisi kedelapan, mereka menjalani musim 2018 dan 2019 dengan berada di posisi ketujuh.

Selanjutnya, saat Liga Indonesia memainkan musim 2021/2022, Borneo menutup musim dengan berada di posisi keenam, dan pada musim lalu, 2023/2024, mereka kembali menanjak dengan berada di posisi keempat.

Borneo begitu digdaya pada musim ini, mereka memenangi musim reguler dengan koleksi 70 poin, unggul delapan poin atas tim posisi kedua Persib. Seandainya tangan dingin Pieter Huistra dapat kembali memperlihatkan keajaibannya, mungkin saja Liga 1 akan kembali memiliki juara baru pada musim ini.




Halaman berikut: Madura United, klub termuda di antara empat tim peserta Championship Series

Madura United

Secara resmi, Madura United baru lahir pada 2016 silam, atau merupakan klub termuda di antara empat tim peserta Championship Series lainnya.

Walau demikian, Madura United sebenarnya bukan wajah yang benar-benar baru di konstelasi sepak bola papan atas Indonesia. Madura merupakan hasil akuisisi klub mantan raksasa Galatama, Pelita Jaya.

Mengawali kiprahnya pada Indonesia Soccer Championship 2016, Madura United menutup musim perdananya dengan menghuni posisi ketiga. Mereka kemudian mengakhiri musim keduanya, yakni Liga 1 2017, dengan berada di posisi keenam.

Pencapaian Madura makin memburuk pada Liga 1 2018 dengan berada di posisi kedelapan pada klasemen akhir. Sebelum kemudian mereka memperbaiki pencapaiannya dengan menduduki posisi kelima pada Liga 1 2019.

Pada liga perdana pasca pandemi COVID-19, yakni musim 2021/2022, posisi akhir Madura semakin merosot dengan berada di posisi kesembilan. Semusim berselang, Madura kembali menanjak dengan menduduki posisi kedelapan pada akhir musim 2022/2023.




Jadwal semifinal Liga 1 2023/2024:
Leg pertama
Selasa (14/5): Bali United vs Persib Bandung
Rabu (15/5): Madura United vs Borneo FC

Leg kedua
Sabtu (18/5) Persib Bandung vs Bali United
Minggu (19/5): Borneo FC vs Madura United