
Jurnalis dan Konflik

konflik biasanya mudah dilihat di permukaan saja, seperti jumlah korban yang ditimbulkan atau cara kedua belah pihak berkonfrontasi secara langsung,".
Palu - Konflik adalah bagian dari kehidupan yang hampir tidak bisa dihindari. Hampir setiap hari pemberitaan di media massa selalu dihiasi oleh konflik yang terkadang membuat pembaca atau penonton yang melihatnya mengernyitkan dahi.
Bagi masyarakat awam konflik sebisa mungkin akan dihindari karena bisa melukai, namun tidak bagi jurnalis.
Jurnalis justru akan mendekat saat konflik berlangsung. Tujuannya hanya satu, yakni mengabarkan kepada orang lain tentang kejadian itu.
Meliput sebuah konflik adalah tantangan bagi jurnalis. Namun tentu saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat meliputnya, selain keselamatan diri.
Baru-baru ini "Peace and Conflict Journalism Network" (Pecojon), sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Filipina menggelar pelatihan kepada 19 jurnalis yang sebagian besar berasal Indonesia timur.
Pelatihan yang berlangsung empat hari di Makassar itu bertujuan membekali wartawan sebelum meliput konflik di suatu daerah.
Koordinator Pecojon Antonia Koop yang menjadi mentor selama pelatihan mengatakan, saat meliput sebuah konflik, jurnalis harus jeli melihat hal yang menjadi pemicunya.
Ia mengatakan untuk membuat laporan yang bisa dipahami oleh pembacanya, jurnalis harus bisa memetakan sebuah kejadian agar bisa mengetahui siapa saja yang terlibat di dalam konflik itu.
Menurut dia, konflik biasanya mudah dilihat di permukaan saja, seperti jumlah korban yang ditimbulkan atau cara kedua belah pihak berkonfrontasi secara langsung.
Dia mengatakan, pemetaan tersebut berguna mengetahui pihak-pihak yang terlibat konflik, serta hal yang melatarbelakanginya.
Antonia mengatakan teknik pemetaan tersebut sangat berguna bagi wartawan yang akan ditugaskan ke daerah baru yang belum pernah didatanginya untuk meliput konflik.
Selain pemetaan, dia juga memaparkan teori bawang merah, segitiga konflik, dan garis waktu yang menceritakan perkembangan eskalasi konflik.
Dia menjelaskan teori bawang merah berupaya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di permukaan, dan selanjutnya terus dikupas untuk mengetahui akar permasalahan sesungguhnya.
"Sebenarnya apa tujuan utama konflik itu, apakah ekonomi atau kepentingan lainnya yang lebih besar. Itu bisa diraba dengan melakukan beberapa wawancara dan sumber data," kata perempuan yang pernah meliput konflik Israel dan Palestina ini.
Sementara segitiga konflik berfungsi untuk mengetahui gejolak konflik yang terlihat dan yang tidak terlihat. Konflik yang terlihat adalah proses terjadinya kekerasan itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan.
Gejolak konflik yang tak terlihat antara lain disebabkan oleh kekerasan budaya dan kekerasan struktural. Kekerasan budaya bisa berupa hukum adat, mitos, anarki suku serta kebencian kuno. Sedangkan kekerasan struktural bisa berupa kemiskinan dan kebudayaan.
Sementara teori garis waktu adalah untuk mengetahui perkembangan konflik dari waktu ke waktu.
Setiap konflik mempunyai catatan sejarah. Sejarah itu bertujuan memudahkan wartawan untuk membuat laporan karena memiliki latar belakang.
Antonia Koop adalah jurnalis televisi di Jerman yang saat ini aktif di "Peace and Conflict Journalism Network" (Pecojon) yang berpusat di Filipina.
Pecojon saat ini aktif memberikan pelatihan kepada jurnalis yang biasa meliput konflik di sejumlah negara.
Jurnalis Berkualitas
Antonia menuturkan, dalam melaporkan sebuah berita, wartawan didasari pada nilai-nilai jurnalistik yang disepakati secara luas seperti kebenaran, akurasi, ketidakberpihakan, keseimbangan, dan kemerdekaan.
Antonia berharap jurnalis harus sensitif konflik dengan menjadikan berita sebagai jalur komunikasi di masyarakat sehingga menjadikan laporan lebih berkualitas.
Menurut dia, jurnalisme konflik saat ini telah berevolusi lebih jauh dan hanya menjawab tantangan pasar dengan menjadikan berita konflik sebagai bagian dari bisnis.
Konflik seolah menjadi hiburan dengan mengedepankan laporan eksklusif saat kejadian berlangsung.
Menurut perempuan kelahiran 21 Juli 1976 ini, pemberitaan konflik harus memberi informasi dan mendidik pembaca agar mengetahui isu-isu yang melatarbelakanginya.
Sebelumnya, anggota Dewan Pers Uni Z Lubis juga meminta kepada jurnalis untuk mencari akar masalah penyebab masalah saat meliput konflik.
"Biasanya televisi suka tayangkan gambar yang heboh-heboh tapi lupa cari akar penyebab konflik," kata Uni Z Lubis saat pelatihan jurnalistik di Palu beberapa waktu lalu.
Menurut dia, akar permasalahan penyebab konflik sangat perlu diketahui oleh masyarakat sehingga penikmat berita memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik konflik berdarah-darah itu.
Pemimpin Redaksi ANTV ini juga menyampaikan pentingnya akurasi berita agar masyarakat tidak menerima informasi yang keliru dari sejumlah pihak.
Dia memandang, konfirmasi dua belah pihak yang menjadi objek berita (cover both sides) harus diperluas lagi menjadi konfirmasi kepada banyak pihak (cover all sides).
Menurut dia, hal itu penting untuk mengetahui akar masalah yang lebih mendalam sehingga informasinya lebih lengkap dan akurat.
"Saat ini biasanya pihak yang dikonfirmasi cuma korban dan polisi, sudah. Kalau mau ditambahi, biasanya juga dari pihak rumah sakit atau pengamat," katanya.
Dia mengatakan, pihak-pihak yang bertikai juga harus dikonfirmasi agar beritanya mendalam dan lengkap.
Pentingnya mengetahui akar masalah penyebab masalah itu juga untuk mencegah masyarakat terlibat masalah lebih jauh.
Ia mencontohkan, kasus Sampang, Jawa Timur, yang pernah ramai di media sebenarnya disebabkan oleh kasus keluarga antara dua bersaudara yang masing-masing kebetulan penganut Syiah dan Sunni.
Pertikaian akhirnya meluas karena telah terbungkus isu agama yang kental.
Menurut dia, sudah saatnya jurnalis turut serta berperan dalam menjaga perdamaian di masyarakat dengan menyajikan berita akurat dan mengupas akar permasalahan.
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
