Jalan panjang "Mimpi Tiongkok"

id tiongkok

Presiden China Xi Jinping memberikan pidato saat pembukaan sidang Kongres Nasional Partai Komunis China ke 19 di Balai Agung Rakyat di Beijing, China, Rabu (18/10/2017). (REUTERS/Jason Lee)

Beijing (antarasulteng.com) - Tiongkok kini memasuki masa paling menentukan jalan sejarahnya menuju era baru yang ditandai dengan tampilnya negara itu sebagai negara sejahtera yang modern, kuat dan besar di atas pijakan ideologis dan budaya yang dianutnya.

Arah kebijakan dan rencana strategis untuk mewujudkan "Mimpi Tiongkok" menjadi negara sosialis yang modern dan besar itu telah pun disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Komunis China Xi Jinping ke seantero negeri dan dunia pada Rabu (18/10).

Dari pidato yang disampaikannya atas nama Komite Sentral ke-18 PKC pada hari pertama Kongres Nasional ke-19 PKC yang diikuti 2.280 delegasi yang mewakili seantero negeri itu, diketahui bahwa mimpi tersebut akan terwujud melalui rencana pembangunan dua tahap.

Rencana pembangunan tahap pertama itu akan berjalan dari tahun 2020 hingga 2035 dimana selama 15 tahun itu, Tiongkok akan dibangun di atas fondasi yang terbentuk oleh sebuah masyarakat yang sudah relatif sejahtera. 

Kemudian, kerja keras untuk mewujudkan "Mimpi Tiongkok" tersebut akan dilanjutkan dengan rencana pembangunan tahap dua yang akan dilaksanakan dari 2035 sampai 2050. 

Pada pertengahan Abad ke-21 itulah, negara sosialis berwatak Tiongkok yang besar, sejahtera, kuat, demokratis, berkemajuan secara budaya, harmonis, dan indah itu akan terwujud.

Sepanjang periode rencana pembangunan tahap pertama itu pula, modernisasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata negara yang kini berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu diupayakan selesai untuk kemudian menjadi kekuatan militer berkelas dunia pada 2050.

Di bidang ekonomi, dalam laporan setebal 65 halaman itu, Xi Jinping menekankan bahwa Tiongkok sedang berubah dari fase pertumbuhan yang cepat menuju tahapan pembangunan berkualitas tinggi. 

Dalam konteks ini, riil ekonomi akan menjadi fokus pembangunan ekonomi modern Tiongkok ke depan yang antara lain ditandai dengan perluasan perdagangan luar negeri serta pengembangan model dan bentuk perdagangan baru.

Selain itu, Tiongkok juga akan mentransformasi dirinya menjadi "pedagang mutu" serta mengadopsi kebijakan-kebijakan yang mendukung liberalisasi berstandar tinggi, dan fasilitasi perdagangan dan investasi.

Untuk mendukung kekuatan ekonomi negara itu, perusahaan-perusahaan Tiongkok akan terus didorong agar tumbuh menjadi korporasi berkelas dunia dan berdaya saing kuat secara global.

Adapun korporasi yang terdaftar di Tiongkok akan menerima perlakuan yang sama. Kebijakan pintu terbuka bagi perdagangan dan investasi asing yang telah secara konsisten dijalankan sejak era Deng Xiaoping itu juga akan diteruskan.

Bahkan, Xi Jinping menegaskan bahwa negaranya akan semakin membuka diri kepada dunia dengan memprioritaskan pelaksanaan Inisiatif Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Jalur Sutra Maritim Abad XXI.

Untuk memperkuat posisi Tiongkok dalam inovasi di tingkat global, Xi Jinping menggarisbawahi pentingnya memperkuat riset dasar, menguasai sains dan teknologi terdepan, dan menghasilkan inovasi orisinal.

Namun, jalan menuju terwujudnya Tiongkok yang besar, sejahtera, kuat, demokratis, berkemajuan secara budaya, harmonis, dan indah pada 2050 itu tidak mudah, dan penuh tantangan. 

Di antara tantangan serius yang bahkan dipandang Xi Jinping sebagai ancaman terbesar terhadap PKC itu adalah korupsi. Karenanya, dia menegaskan bahwa perang tiada akhir terhadap korupsi akan terus dilakukan untuk membebaskan partai dan negara dari kejahatan ini.

Untuk itu, sistem pengawasan disiplin bagi komite-komite PKC di tingkat kota dan daerah akan dilembagakan guna menumpas korupsi yang terjadi di depan mata rakyat.

"Kemana pun para pelaku melarikan diri, mereka akan ditangkap untuk diadili. Kami akan mengadopsi legislasi antikorupsi nasional dan membuat organisasi pelaporan korupsi yang melibatkan komisi-komisi pengawasan disiplin dan badan-badan supervisi," katanya.

Kampanye Komisi Sentral Pengawasan Disiplin PKC memerangi korupsi sempat menggelinding menjadi salah satu isu hangat menjelang penyelenggaraan kongres yang berlangsung dari 18 hingga 24 Oktober ini dan menarik perhatian wartawan Tiongkok dan asing di Beijing.

Seperti dilaporkan China Daily baru-baru ini, jumlah pejabat negara yang diperiksa karena diduga terlibat korupsi sejak berlangsung Kongres Nasional ke-18 PKC pada 2012 mencapai lebih dari 70 ribu orang.

Di antara mereka yang terjungkal akibat korupsi itu adalah Zhou Yongkang, mantan anggota Biro Politik Komite Sentral PKC, Bo Xilai, mantan Ketua Partai Kota Chongqing, serta Xu Caihou dan Guo Boxiong, mantan jenderal dan wakil ketua Komisi Militer Sentral.

Menyadari banyaknya tantangan yang akan dihadapi, Xi Jinping meminta seluruh kader partai agar senantisa menjaga integritas serta bekerja keras dan fokus hingga terwujud "Mimpi Tiongkok" tersebut. 

Dunia telah menyaksikan tanda-tanda nyata kebangkitan Tiongkok dalam lima tahun pertama kepemimpinan Xi Jinping. Dunia pun akan terus mengikuti jalan panjang Tiongkok menuju kejayaan besarnya di tahun 2050.

Waktu yang akan membuktikan apakah Tiongkok yang modern dan besar itu akan membawa kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian abadi kepada dunia atau sebaliknya. (skd)
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar