Palu (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mendukung aspirasi masyarakat korban likuefaksi Balaroa terkait pemanfaatan dan penataan kawasan terdampak bencana likuefaksi tersebut sebagai taman memorial (Memorial Park).
“Saya sepakat kawasan itu sangat tepat dijadikan taman memorial. Bukan untuk hunian lagi, tetapi sebagai tempat mengenang, berziarah, dan edukasi kebencanaan bagi generasi mendatang,” katanya saat menerima audiensi perwakilan Forum Likuefaksi Balaroa di Palu, Sabtu.
Ia menyatakan sepakat bahwa kawasan likuefaksi tidak lagi digunakan untuk pembangunan perumahan, namun dapat ditata sebagai taman memorial yang tertata rapi dan humanis.
Untuk itu, ia juga mendorong masyarakat membentuk yayasan atau ikatan persaudaraan sebagai badan pengelola kawasan, mengingat lahan tersebut tanah milik warga.
Pemerintah provinsi, kata dia, dapat memberikan dukungan dan bantuan melalui mekanisme yang sesuai dengan aturan.
“Tanahnya tetap milik masyarakat, tetapi dikelola bersama melalui yayasan. Dari situ masyarakat bisa mengajukan proposal konsep Memorial Park, dan pemerintah akan mempelajarinya sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Selain itu, Anwar Hafid mengungkapkan rencana jangka panjang Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membangun museum kebencanaan sebagai pusat dokumentasi tragedi gempa, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018 yang direncanakan mulai dibangun pada 2027.
Ketua Forum Likuefaksi Balaroa Abdul Rahman Kasim mengatakan masyarakat korban hingga kini masih menaruh harapan besar pada komitmen pemerintah untuk menjadikan kawasan Balaroa sebagai Memorial Park.
“Kami datang menyampaikan aspirasi masyarakat Balaroa. Sejak awal pemerintah telah menyatakan bahwa kawasan ini tidak lagi dibangun permukiman, melainkan dijadikan Memorial Park sebagai ruang mengenang tragedi kemanusiaan yang menjadi sejarah dunia,” ujarnya.
Pihaknya menyampaikan aspirasi masyarakat agar kawasan terdampak likuefaksi Balaroa ditetapkan sebagai taman memorial.
Kawasan itu dinilai memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan yang tinggi, mengingat masih terdapat ratusan korban yang belum berhasil dievakuasi pasca-bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018.
Ia mengatakan para korban likuefaksi kini tersebar di sejumlah hunian tetap dan hunian sementara dengan jumlah mencapai ribuan jiwa.
Oleh karena itu, katanya, Forum Likuefaksi Balaroa dibentuk sebagai wadah persaudaraan korban bencana untuk memperjuangkan solusi penanganan yang bermartabat dan berkeadilan.
