Jakarta (ANTARA) - Kehadiran jembatan gantung penghubung Kampung Punaga Jolok RW 09 dan Kampung Baru RW 08 di Desa Mandala Kasih, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat menjadi saksi kehadiran negara.
Di Desa Mandala Kasih, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, sungai bukan sekadar bentang alam. Setiap pagi, sebelum jembatan gantung berdiri, anak-anak sekolah harus menyeberangi sungai demi bisa duduk di bangku sekolah.
Babinsa Desa Mandala Kasih Serka Imat dalam rilis yang disiarkan oleh Tim Media Presiden di Jakarta pada Minggu masih mengingat betul pemandangan itu. Anak-anak berseragam sekolah menunggu air surut, atau nekat menyeberang di antara arus yang kerap berubah ganas.
“Kami agak miris waktu sebelum jembatan didirikan karena anak-anak sekolah harus menyeberang. Seperti yang dilihat, di bawah ada aliran sungai yang menjadi satu. Sungai Cikaso dan Sungai Cipalebuh, lalu bermuara di Leuwi Niis, Desa Mandala Kasih, sehingga luapan air yang mengalir dari hulu ke hilir itu cukup besar,” kata Serka Imat.
Pertemuan dua sungai tersebut membuat debit air di kawasan itu sulit diprediksi. Ketika hujan turun di wilayah hulu, arus di Mandala Kasih bisa mendadak membesar. Kondisi sungai yang perlahan mendangkal justru memperparah keadaan, karena volume air terus meningkat tanpa ruang tampung yang memadai.
Tak heran, jembatan di lokasi ini berkali-kali tumbang diterjang banjir. “Karena kapasitas air dan juga keadaan sungai yang sekarang sudah mulai mendangkal, sedangkan kapasitas air selalu bertambah. Itu yang menyebabkan kerusakan jembatan di masa yang sudah-sudah,” ujar Serka Imat.
Kini, jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Punaga Jolok RW 09 dan Kampung Baru RW 08 menjadi pembangunan keempat di lokasi tersebut. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 80 meter dan lebar 1,2 meter. Ukurannya mungkin sederhana, tetapi manfaatnya sangat menentukan kehidupan warga.
Pembangunan jembatan kali ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Pengalaman banjir, korosi akibat udara pantai, hingga kegagalan material pada jembatan sebelumnya menjadi pelajaran penting. Proses pengerjaan melibatkan TNI, relawan, serta warga dari dua kampung. Mereka bekerja sejak pagi hingga dini hari, berpacu dengan cuaca yang tak selalu bersahabat
Bagi Serka Imat, pembangunan jembatan ini bukan sekadar tugas kedinasan. Ada rasa tanggung jawab sebagai pembina wilayah yang terbayar ketika jembatan akhirnya berdiri dan bisa digunakan masyarakat.
“Saya sebagai pembina Desa Mandala Kasih selalu berkoordinasi dengan pihak desa, terutama dengan Bapak Kepala Desa dan juga Muspika di Kecamatan Pameungpeuk. Alhamdulillah setiap yang kami rencanakan atau kami usulkan bisa terealisasi sehingga kami sangat merasa bangga,” tuturnya.
Kebanggaan itu, kata dia, bukan semata soal rampungnya proyek, melainkan tentang senyum warga yang kembali leluasa beraktivitas. “Bangga sekali karena hasil jerih payah dan juga tenaga yang kami keluarkan bisa terobati dengan adanya kebahagiaan yang diterima oleh warga masyarakat khususnya Desa Mandala Kasih, umumnya Kecamatan Pameungpeuk,” lanjutnya.
Kini, jembatan gantung tersebut kembali dipijak langkah-langkah kecil anak-anak menuju sekolah. Petani tak lagi harus menunggu air surut untuk pergi ke sawah. Nelayan pun lebih mudah menuju muara. Sebuah jembatan sederhana, tetapi menjadi penanda bahwa akses pendidikan dan keselamatan warga tak lagi dipertaruhkan oleh derasnya arus sungai.
Di Mandala Kasih, jembatan gantung ini bukan hanya penghubung dua kampung. Ia menjadi saksi bahwa kehadiran negara, melalui kerja bersama TNI dan masyarakat, mampu mengubah rasa miris menjadi harapan.
