Logo Header Antaranews Sulteng

Jurnalisme sebagai terapi yang dibayar

Senin, 9 Februari 2026 11:15 WIB
Image Print
Ilustrasi buatan AI, jurnalis tengah bekerja di ruang redaksi media massa. ANTARA/Sizuka

Jakarta (ANTARA) - Ada orang datang ke terapi untuk disembuhkan. Ada pula yang datang ke ruang redaksi untuk bertahan hidup. Bedanya tipis: yang satu membayar, yang lain justru dibayar. Keduanya sama-sama mencari satu hal, cara berdamai dengan kenyataan yang tak selalu ramah.

Tidak semua profesi bekerja semata dengan otot dan jam kantor. Jurnalisme termasuk kerja yang menuntut kehadiran batin: menyimak, menimbang, dan memutuskan apa yang layak dipercaya publik.

Di sini, keterampilan teknis, menulis, merekam, memverifikasi, berjalan berdampingan dengan kemampuan yang lebih sunyi: membaca situasi, menjaga jarak, dan menahan diri.

Seorang jurnalis hadir di peristiwa sebagai pengamat yang terlibat secukupnya. Ia harus cukup dekat untuk memahami, tetapi cukup jauh untuk tidak larut. Ketegangan itu bukan drama personal; ia adalah prasyarat kerja.

Fakta tidak datang dalam kondisi steril. Ia tiba bersama emosi narasumber, kepentingan pihak-pihak terkait, dan keterbatasan waktu. Menjalankan tugas di tengah kepadatan itu menuntut kewaspadaan yang konsisten.

Karena itu, kelelahan yang kerap menyertai kerja jurnalistik lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi struktural, bukan keluhan personal. Bukan karena jurnalis “terlalu perasa”, melainkan karena pekerjaan ini mengharuskan perhatian mendalam dan berkelanjutan.

Setiap liputan meminta penilaian berlapis: apa yang relevan, apa yang berimbang, dan apa dampaknya bila dipublikasikan. Proses menimbang tersebut menguras fokus, bukan emosi.

Di sinilah jurnalisme mulai menyerupai terapi dalam arti yang paling sederhana: sebuah latihan rutin untuk menghadapi kenyataan, tanpa menutup mata. Terapi bukan janji ketenangan instan; ia adalah proses mengelola paparan.

Jurnalis terpapar peristiwa, baik yang banal maupun yang mengguncang, lalu menatanya menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada tahap ini, menulis berfungsi sebagai mekanisme kerja: menyusun ulang yang berantakan, memberi bentuk pada yang berserak, dan menetapkan batas pada yang berlebihan. Ia bukan katarsis, melainkan disiplin.

Dengan disiplin itu, jurnalisme menjaga dirinya tetap jernih, cukup peka untuk memahami, cukup teguh untuk memutuskan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa kerja batin bukan beban tambahan, melainkan inti profesi ini.

Tanpa bel pulang

Kerja jurnalistik sering digambarkan sebagai praktik yang “belajar sambil jalan”. Hanya saja, ungkapan itu kerap terdengar terlalu ringan untuk menjelaskan beban kognitif yang sesungguhnya.

Dalam perspektif sosiologi profesi, jurnalisme dapat dipahami sebagai bentuk continuous professional learning, proses belajar yang tidak pernah selesai karena medan kerjanya terus berubah.

Donald Schon, dalam gagasannya tentang the reflective practitioner, menjelaskan bahwa profesi yang berhadapan dengan situasi tak pasti menuntut kemampuan refleksi terus-menerus di dalam tindakan.

Jurnalis bekerja dalam ruang semacam itu: informasi datang tidak utuh, waktu terbatas, tekanan hadir bersamaan. Keputusan editorial diambil bukan dari rumus baku, melainkan dari penilaian reflektif yang diasah melalui pengalaman berulang.

Maka metafora “sekolah tanpa bel pulang” menemukan pijakan teoretisnya. Setiap liputan berfungsi sebagai kelas baru; setiap naskah sebagai ujian yang kerap datang mendadak.

Koreksi redaktur bukan sekadar penyuntingan teknis, melainkan mekanisme evaluasi, rapor atas cara berpikir, ketepatan sudut pandang, dan ketahanan argumen.

Proses ini membentuk habitus profesional, yang meminjam istilah Pierre Bourdieu, tertanam melalui praktik harian, bukan melalui ceramah normatif.

Sekolah ini tidak memiliki kurikulum eksplisit tentang kerja emosional. Padahal, Arlie Hochschild mengingatkan bahwa banyak profesi modern menuntut emotional labor: kemampuan mengelola perasaan agar selaras dengan tuntutan peran.

Jurnalis diharapkan empatik tanpa larut, kritis tanpa sinis, dan objektif tanpa beku. Keseimbangan itu dipelajari secara implisit, melalui koreksi, teguran, dan pengalaman lapangan, bukan melalui modul resmi.

Tekanan kecepatan di era digital mempertebal kompleksitas tersebut. Ruang refleksi menyempit, sementara tuntutan akurasi tetap tinggi.

Di sinilah kerja belajar jurnalis menjadi berlapis: ia belajar fakta, belajar konteks, sekaligus belajar mengatur ritme berpikirnya sendiri.

Sekolah tanpa bel pulang ini tidak menawarkan kelulusan, hanya kompetensi yang terus diuji. Dan justru karena itu, jurnalisme menuntut kesiapan mental yang kerap luput dari pengakuan formal.

Terapi yang dibayar

Menyebut jurnalisme sebagai terapi tidak berarti menganggapnya obat mujarab. Terapi bekerja dengan batas, durasi, dan kesadaran akan risiko.

Penting untuk berhenti sejenak dari romantisasi bahwa kelelahan adalah tanda pengabdian, atau bahwa luka batin adalah prasyarat profesionalisme. Jurnalisme tidak menuntut penderitaan; ia menuntut ketepatan.

Upah dan honorarium memang menandai relasi kerja yang sah, namun yang lebih menentukan adalah kompensasi simbolik: kesempatan untuk terus mempertanyakan, memperbaiki penilaian, dan menjaga integritas proses.

Di luar fungsi administratif, identitas penulis juga kerap bekerja sebagai penanda kultural. Bagi sebagian jurnalis, nama—termasuk nama pena—bukan sekadar soal sembunyi atau tampil, melainkan bagian dari personal branding yang dibangun pelan-pelan bersama pembaca: jangkar gaya, konsistensi suara, sekaligus preferensi personal tentang bagaimana sebuah karya ingin dikenali.

Dalam konteks ini, pilihan atas nama adalah hak batin penulis untuk menentukan sebagai siapa ia ingin hadir di ruang publik. Ketika jurnalisme dipahami sebagai terapi yang dibayar, maka pertanyaannya bukan semata soal boleh atau tidak, melainkan sejauh mana sistem memberi ruang agar penulis tetap punya kegembiraan dalam bekerja dan tidak kehilangan dirinya sendiri.

Terapi yang dimaksud di sini bukan pelarian, melainkan mekanisme kerja yang membantu jurnalis mengelola paparan realitas, agar ia tidak kebal, tapi juga tidak runtuh.

Di era ekonomi atensi, tekanan sering datang dari arah yang tidak kasatmata. Algoritma mendorong kecepatan, metrik mengejar keterlibatan, dan siklus berita memendekkan jeda.

Dalam kondisi demikian, terapi berubah fungsi: bukan lagi menenangkan, melainkan menahan laju. Menulis dengan rapi, memverifikasi dengan sabar, dan menolak sensasi adalah bentuk perawatan profesional yang konkret.

Terapi selalu memerlukan dukungan ekosistem. Tanpa ruang redaksi yang memberi waktu, tanpa kebijakan yang melindungi kualitas, dan tanpa pengakuan atas kerja mental, terapi individual mudah runtuh.

Di sinilah tanggung jawab institusional menjadi krusial. Kewarasan bukan urusan personal semata; ia adalah prasyarat mutu publik.

Hari Pers Nasional dapat dibaca sebagai momen evaluasi, bukan perayaan semata. Bukan untuk menepuk dada, melainkan untuk menata ulang ekspektasi: apa yang diminta dari jurnalis, dan apa yang disediakan untuk menjaga kualitas kerjanya.

Jika jurnalisme adalah terapi yang dibayar, maka bayaran itu seharusnya memungkinkan praktik yang sehat, cukup waktu, cukup dukungan, dan cukup keberanian untuk berkata tidak.

Jurnalisme akan tetap keras kepala pada fakta jika ia diberi ruang untuk bernapas. Terapi tidak membuatnya lembek; ia membuatnya tahan uji. Dan dalam ketahanan itulah, kepercayaan publik menemukan alasannya.

Mungkin jurnalisme memang tidak pernah menawarkan ketenangan yang utuh. Ia lebih sering memberi kegelisahan yang terkelola. Di sinilah nilainya: kegelisahan yang disaring menjadi pengetahuan, disusun menjadi tanggung jawab, dan diserahkan kembali kepada publik.

Jika terapi adalah cara manusia belajar hidup dengan realitas, maka jurnalisme bekerja pada wilayah yang sama—dengan disiplin, jarak, dan kesabaran. Ia tidak meminta dikasihani, juga tidak ingin diagungkan. Cukup diberi ruang untuk bekerja dengan sehat.

Pada akhirnya, yang dibayar dari jurnalisme bukan sekadar waktu dan tenaga, melainkan kesediaan untuk terus belajar, tanpa bel pulang—demi satu hal yang tetap dijaga: kepercayaan.




Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026