Logo Header Antaranews Sulteng

Kementerian ESDM siapkan aturan tambahan untuk impor minyak dari Rusia

Kamis, 21 Mei 2026 10:30 WIB
Image Print
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ketika ditemui di sela-sela IPA Convex, Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Tangerang, Banten (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan aturan tambahan dan skema untuk mengimpor minyak mentah dari Rusia.

“Itu (impor minyak Rusia) nanti akan didukung juga dengan regulasi tambahan,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ketika ditemui di sela IPA Convex di Tangerang, Banten, Rabu (20/5) malam.

Berdasarkan penjelasan Laode, pemerintah perlu menyiapkan regulasi tambahan dan skema impor, sebab produk minyak dari Rusia membutuhkan perlakuan khusus.

Pertamina, selaku BUMN yang bergerak di bidang migas, berbisnis menggunakan obligasi global atau global bond. Oleh karena itu, Pertamina harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar obligasi global.

Komitmen Pertamina terhadap obligasi global menyebabkan Kementerian ESDM harus mencari skema yang ideal dalam rangka mengimpor minyak dari Rusia.

“Pertamina dalam berbisnis menggunakan global bond. Itu harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar global bond-nya dia. Makanya, skemanya sedang diproses, ya,” ujar Laode.

Pada Jumat (24/4) Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan sedang menyiapkan regulasi atau payung hukum untuk mengatur soal rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.

Terdapat dua opsi yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.

Opsi pertama adalah mengimpornya langsung dari badan usaha milik negara (BUMN), kemudian opsi kedua adalah mengimpor melalui badan layanan umum (BLU).

Apabila menggunakan opsi pertama, Yuliot mengatakan terdapat konsekuensi tersendiri jika BUMN yang melakukan impor dari Rusia.

Oleh karena itu, opsi lainnya yang sedang dipertimbangkan adalah mengimpor melalui BLU. Ia berharap terdapat kemudahan, termasuk pembiayaan, apabila mengimpor melalui BLU.

Langkah tersebut menjadi bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026, yang merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.





Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026