Logo Header Antaranews Sulteng

Vale jaga asa hilirisasi nikel di tengah gejolak global

Selasa, 2 Juni 2026 09:27 WIB
Image Print
Vale jaga asa hilirisasi nikel di tengah gejolak global. ANTARA/HO-PT Vale ‎

Luwu Timur, Sulsel (ANTARA) - Di tengah fluktuasi harga nikel dunia dan tekanan industri tambang global, PT Vale Indonesia Tbk tetap menunjukkan ketahanan bisnis yang kuat. Perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan itu menutup tahun buku 2025 dengan peningkatan laba bersih sebesar 32 persen menjadi 76 juta dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus membagikan dividen tunai senilai 45,6 juta dolar AS kepada para pemegang saham.

‎Capaian tersebut menjadi penanda bahwa perusahaan yang telah beroperasi lebih dari lima dekade di Indonesia itu masih mampu menjaga profitabilitas di tengah tantangan pasar komoditas global yang belum sepenuhnya pulih.

‎Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar secara hybrid pada 2 Juni 2026, para pemegang saham menyetujui seluruh agenda rapat, termasuk pembagian dividen dengan rasio pembayaran 60 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Dana tersebut akan dibayarkan kepada pemegang saham yang tercatat pada 12 Juni 2026 dan disalurkan pada 26 Juni 2026. Sementara sisa laba ditahan untuk mendukung pengembangan usaha dan proyek strategis perusahaan.

‎Di balik angka-angka keuangan itu, tersimpan tantangan besar yang tengah dihadapi industri nikel dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, harga nikel mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan global. Namun PT Vale memilih tetap fokus pada strategi jangka panjang melalui penguatan hilirisasi dan pembangunan proyek-proyek pengolahan nikel bernilai tambah.

‎Perusahaan yang merupakan bagian dari grup pertambangan global itu saat ini tengah mengembangkan sejumlah proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Indonesia. Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung rantai pasok baterai kendaraan listrik dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri mineral kritis dunia.

‎Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa perusahaan akan terus bertransformasi menjadi perusahaan tambang mineral kritis yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

‎"Dividen yang kami tetapkan hari ini dan kemajuan proyek-proyek HPAL kami mencerminkan keyakinan kami terhadap posisi jangka panjang Indonesia sebagai sumber nikel rendah karbon dan bertanggung jawab bagi transisi energi global," ujar Bernardus dalam keterangannya.

‎Menurut informasi perusahaan, PT Vale juga terus mengedepankan praktik pertambangan berkelanjutan melalui pengelolaan lingkungan, reklamasi lahan pascatambang, serta pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan dalam operasionalnya. Strategi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung target dekarbonisasi dan transisi energi global.

‎Di sisi tata kelola perusahaan, RUPST turut menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dengan menunjuk Kristina Gauthier sebagai Wakil Presiden Komisaris, serta Patricia Renee Pegues dan Adam MacMillan sebagai komisaris baru. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat kepemimpinan perusahaan menghadapi dinamika industri mineral kritis yang terus berkembang.

‎Bagi Indonesia, keberlanjutan investasi PT Vale memiliki arti penting. Selain menjadi salah satu produsen nikel terbesar di Tanah Air, perusahaan ini juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional yang didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

‎Di tengah persaingan global yang semakin ketat, PT Vale tampaknya memilih tetap melangkah dengan optimisme. Bukan hanya menjaga produksi nikel, tetapi juga membangun fondasi industri masa depan yang akan menopang ekosistem kendaraan listrik dan energi bersih dari Indonesia untuk dunia.



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026