
Bulog Sulteng serap beras petani 11.349 ton

Palu, (Antaranews Sulteng) -Perum Bulog Sulawesi Tengah hingga menjelang akhir Agustus 2018 menyerap beras petani sebanyak 11.349 ton atau sekitar 22,70 persen dari target pengadaan musim panen 2018 sebesar 50.000 ton.
Kepala Perum Bulog Sulteng, Khozin di Palu, Selasa, mengatakan, pihaknya masih kesulitan menyerap beras petani karena selisih harga antara pembelian pedagang pengumpul dengan standar harga pembelian pemerintah (HPP) berbeda jauh.
Pedagang pengumpul yang kebanyakan datang dari luar Sulteng yakni Manado dan Gorontalo membeli langsung ke petani dengan harga Rp8.500 per kg.
Sementara Bulog membeli sesuai dengan HPP beras yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp8.030 per kg.
"Perbedaan harga cukup signifikan membuat Bulog kalah bersaing dengan pedagang pengumpul," kata dia.
Khozin mengatakan dalam membeli beras petani, selain turun langsung di lapangan, Bulog juga menjalin kemitraan dengan swasta? (pengusaha penggilingan padi) dan juga bekerja sama dengan TNI di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sulteng.
Namun karena harga beras dipatok pedagang pengumpul lebih tinggi, maka petani banyak yang menjual hasil panen setelah diolah menjadi beras kepada pedagang pengumpul.
Meski demikian, Bulog tetap bisa menyerap. "Hanya saja tidak dalam jumlah yang besar," ujar Khozin.
Ia menegaskan meski pengadaan beras di Sulteng terbilang masih kecil, tetapi Bulog Sulteng tidak akan meminta jatah beras impor.
"Kami tidak butuh beras impor sebab hasil produksi petani Sulteng sudah melebihi kebutuhan masyarakat di daerah itu," katanya.
Sulteng pada 2017 surplus beras hingga 300.000 ton dan sekitar 43.000 ton diserap oleh Bulog.
Pada 2018, Pemprov Sulteng menargetkan surplus beras petani bisa sampai 500.000 ton.
Pewarta : Anas Masa
Editor:
Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
