Menristekdikti dukung ilmuwan diaspora ikut dalam bangun SDM

id Sckd, Kemenristekdikti, diaspora, Simposium Cendikia Kelas Dunia

Menristekdikti dukung ilmuwan diaspora ikut dalam bangun SDM

Wapres Jusuf Kalla berfoto bersama para ilmuwan diaspora dari sejumlah negara (Biro KSKP Kemenristekdikti)

Hal ini sesuai dengan impian yang disampaikan Bapak Presiden Jokowi, yaitu penekanan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia pada tahun 2020 dan seterusnya, dan sesuai dengan semboyan yang disampaikan pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17
Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pihaknya mendukung ilmuwan diaspora ikut serta dalam membangun sumber daya manusia (SDM).

"Hal ini sesuai dengan impian yang disampaikan Bapak Presiden Jokowi, yaitu penekanan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia pada tahun 2020 dan seterusnya, dan sesuai dengan semboyan yang disampaikan pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus Tahun 2019, yaitu "Sumber Daya Unggul, Indonesia Maju", ujar Nasir dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.
 .
Hal ini sangat penting tentang bagaimana seluruh warga negara Indonesia yang ada di luar negeri bisa berkontribusi untuk membangun pendidikan maupun ekonomi Indonesia menjadi lebih baik," ujar Nasir. 

Kemenristekdikti, kata dia, hadir mendukung para ilmuwan diaspora untuk berkontribusi di Indonesia, melalui berbagai cara, termasuk melalui Simposium Cendekia Diaspora Kelas Dunia (SCKD) yang mendiskusikan banyak gagasan-gagasan bagi bangsa.

Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Deden Rukmana mengungkapkan ada antusiasme dari ilmuwan Indonesia di berbagai negara untuk berkontribusi nyata kepada Indonesia.

"Para ilmuwan diaspora yang datang di sini berjumlah 52 orang dari 13 negara. Di antara mereka juga ada yang telah lebih dari 25 tahun di luar Indonesia," ungkap Deden.

Ketua I4 juga mengungkapkan bahwa lamanya para diaspora Indonesia bekerja di luar negeri tidak membuat mereka enggan berkontribusi untuk Indonesia.

"Berapa tahun pun ilmuwan diaspora sudah di luar, baik satu dua tahun maupun 25 tahun, tapi kecintaan kami terhadap Republik Indonesia tetap tinggi dan mendalam, jadi ketika Indonesia memanggil, kami datang," ungkap Ketua I4 Deden Rukmana.

Mantan Dirjen Dikti Prof Dr Fasli Jalal mengatakan ide pemerintah untuk memanggil diaspora menjadi dosen di perguruan tinggi di Indonesia cukup bagus, karena para diaspora memiliki pengalaman yang banyak.

Meski demikian, Fasli meminta tidak semua diaspora ditarik ke Indonesia, karena jaringan yang dimiliki diaspora itu bisa dimanfaatkan perguruan tinggi untuk peningkatan SDM di Tanah Air.

Baca juga: Dubes: Lebaran momentum diaspora Indonesia pererat tali persaudaraan
Baca juga: Pengunduran PM May bawa dampak bagi diaspora Indonesia

 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar