Logo Header Antaranews Sulteng

Uranium Mamuju Jadi Incaran Negara Asing

Senin, 13 Mei 2013 19:08 WIB
Image Print
Inti nuklir di dalam kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten. Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat Litbangyasa iptek nuklir yang dibangun untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan per
"Kalau kita bisa memanfaatkan uraium sebagai sumber energi listrik, daerah ini akan maju dan tidak akan pernah kekurangan listrik. Hanya saja kita belum punya teknologi untuk meanfaatkan uranium," kata Syarkawi

Mamuju (antarasulteng.com) - Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, Syarkawi Rauf mengatakan kandungan tambang uranium di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kini menjadi incaran beberapa negara asing.

"Potensi tambang uranium di Mamuju merupakan yang terbaik di Indonesia. Sehingga pemanfaatannya harus hati-hati dan dikelola untuk kemakmuran rakyat, bukan menguntungkan pihak asing," kata Sarkawi Rauf di Makassar, Senin.

Pemanfaatan uranium bukan hanya untuk menghasilkan tenaga nuklir untuk kepentingan pertahanan, tapi juga untuk dikelola lebih ekonomi.

"Misalnya, sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam mendukung ketersediaan listrik di provinsi hasil pemekaran Sulsel ini," katanya.

Dia mengatakan sadar atau tidak kandungan uranium di Sulbar telah diketahui banyak negara seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, China, dan banyak negara besar lainnya.

Oleh sebab itu, kata dia, pemerintah RI tidak boleh gegabah jika memiliki rencana mengelola sumber energi tersebut.

Kalau untuk kepentingan ekonomi domestik dan memenuhi kebutuhan ketersediaan pasokan listrik, kata Sarkawi, maka reaktor nuklir untuk pembangkit listrik bisa didirikan di Sulbar.

"Kalau kita bisa memanfaatkan uraium sebagai sumber energi listrik, daerah ini akan maju dan tidak akan pernah kekurangan listrik. Hanya saja kita belum punya teknologi untuk meanfaatkan uranium," kata Syarkawi.***



Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026