Pemilihan Ketum MUI yang baru dengan sistem formatur
Senin, 23 November 2020 14:21 WIB
Anggota Dewan Pengarah Musyawarah Nasional X Majelis Ulama Indonesia K.H. Marsudi Syuhud dalam jumpa pers daring, Senin (23/11/2020). (ANTARA/HO-MUI)
Jakarta (ANTARA) - Anggota Dewan Pengarah Musyawarah Nasional X Majelis Ulama Indonesia K.H. Marsudi Syuhud mengatakan pemilihan ketua umum organisasi itu periode 2020-2025 melalui Munas MUI pada 25-27 November dilakukan dengan sistem pemilihan formatur.
"Munas akan memilih formatur yang nanti memilih ketua umum, sekjen, Dewan Pertimbangan dan seluruh perangkat organisasi, termasuk ketua, wakil-wakil sekjen," kata dia melalui jumpa pers daringnya di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan sistem suksesi kepemimpinan di MUI berbeda dengan ormas Islam besar lainnya, seperti di Muhammadiyah yang dipilih dengan sistem tidak langsung atau Nahdlatul Ulama melalui pemungutan suara langsung.
Ia mengatakan MUI adalah ormas yang mewadahi berbagai ormas Islam di Indonesia.
Dengan banyaknya ormas Islam yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia, Marsudi mengatakan siapa saja kader MUI bisa memilih dan dipilih.
"Sesuai yang kita sepakati, melalui jalan yang kita sepakati, yang telah kita sepakati, kita pilih formatur. Kadernya banyak sekali, bisa dari NU, Muhammadiyah, Persis, Al Washliyah dan lainnya, ada 80-an organisasi yang tergabung dalam MUI," katanya.
Wakil Ketua Umum K.H. Muhyiddin Junaidi mengatakan dalam Munas MUI ke-10 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, salah satunya suksesi kepemimpinan organisasi.
Selain itu, katanya, akan dibahas mengenai pandangan dan sikap organisasi mengenai hal-hal kontemporer, termasuk soal fatwa-fatwa keagamaan.
"Ada pergeseran pimpinan MUI periode 2015-2020 dan 2020-2025. Nanti insyaallah akan ada muka-muka baru dan menjadi amunisi tambahan MUI dalam menyuarakan dakwah yang 'rahmatan lil alamin'. Kami pelayan umat dan mitra loyalis kritis bagi pemerintah," kata dia.
"Munas akan memilih formatur yang nanti memilih ketua umum, sekjen, Dewan Pertimbangan dan seluruh perangkat organisasi, termasuk ketua, wakil-wakil sekjen," kata dia melalui jumpa pers daringnya di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan sistem suksesi kepemimpinan di MUI berbeda dengan ormas Islam besar lainnya, seperti di Muhammadiyah yang dipilih dengan sistem tidak langsung atau Nahdlatul Ulama melalui pemungutan suara langsung.
Ia mengatakan MUI adalah ormas yang mewadahi berbagai ormas Islam di Indonesia.
Dengan banyaknya ormas Islam yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia, Marsudi mengatakan siapa saja kader MUI bisa memilih dan dipilih.
"Sesuai yang kita sepakati, melalui jalan yang kita sepakati, yang telah kita sepakati, kita pilih formatur. Kadernya banyak sekali, bisa dari NU, Muhammadiyah, Persis, Al Washliyah dan lainnya, ada 80-an organisasi yang tergabung dalam MUI," katanya.
Wakil Ketua Umum K.H. Muhyiddin Junaidi mengatakan dalam Munas MUI ke-10 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, salah satunya suksesi kepemimpinan organisasi.
Selain itu, katanya, akan dibahas mengenai pandangan dan sikap organisasi mengenai hal-hal kontemporer, termasuk soal fatwa-fatwa keagamaan.
"Ada pergeseran pimpinan MUI periode 2015-2020 dan 2020-2025. Nanti insyaallah akan ada muka-muka baru dan menjadi amunisi tambahan MUI dalam menyuarakan dakwah yang 'rahmatan lil alamin'. Kami pelayan umat dan mitra loyalis kritis bagi pemerintah," kata dia.
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
MUI Palu: Masyarakat harus kendalikan nalar agar agama dipahami sesuai nilai kemanusiaan
30 September 2025 21:59 WIB
Terpopuler - Sosial & Keagamaan
Lihat Juga
LPKA dan Pemkot Palu kolaborasi perkuat pembinaan keterampilan anak binaan
31 January 2026 18:08 WIB