Parimo siapkan 100 Ha lahan padi ladang program Upsus Pajala
Sabtu, 12 Juni 2021 18:45 WIB
Ilustrasi- menggarap lahan pertanian. ANTARA/Moh Ridwan
Palu (ANTARA) - Pemerintah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah menyiapkan kurang lebih 100 hektare lahan padi ladang yang masuk dalam program Nasional Upaya Khusus padi, jagung dan kedelai (Upsus Pajala) tahun anggaran 2021.
Selain padi sawah, Parigi Moutong juga mendapat kuota benih untuk lahan padi ladang 100 hektare dan petani sangat siap menanam," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Parigi Moutong Dadang Priatna Jaya yang dihubungi dari Palu, Sabtu.
Dia menjelaskan, 100 hektar lahan tersebut berada di dua kecamatan yakni Sidoan seluas 32 hektare dan Taopa 68 hektare, yang mana pengadaan benih baru direalisasikan pada perubahan anggaran nanti melalui Pemerintah Pusat yang melekat di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD) Pemprov Sulteng.
Dua kecamatan tersebut, merupakan wilayah yang masih mempertahankan sistem budi daya padi lahan kering, dan pemerintah sangat mendukung sistem bercocok tanam tersebut.
Dia mengemukakan, perlakuan budi daya padi ladang berbeda dengan padi sawah, karena siklus dari masa taman ke masa panen butuh waktu lebih lama dibandingkan sistem persawahan.
"Padi ladang butuh waktu sekitar enam bulan baru bisa di panen karena hanya mengharapkan hujan untuk kelangsungan pertumbuhannya," ujar Dadang.
Selan itu, penentuan waktu juga menjadi pertimbangan. Olehnya, petani lebih memilih menanam saat musim penghujan karena dinilai menguntungkan sebab semata-mata sistem tersebut hanya mengandalkan hujan.
Ia juga menuturkan, meski siklus panen lama namun di sisi lain padi ladang lebih higienis karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida dalam perawatannya.
"Sistem ini perlu dipertahankan, karena perawatannya sangat tradisional tanpa harus menggunakan bahan kimia. Ini adalah kearifan lokal yang harus dilestarikan," ucap Dadang.
Padi ladang biasanya dikembangkan masyarakat di wilayah-wilayah pegunungan yang tidak memiliki sumber air memadai.
"Beras dihasilkan dari padi non-sawah dipastikan berkualitas karena proses pengolahannya sangat alami dan bergantung pada alam," demikian Dadang.
Selain padi sawah, Parigi Moutong juga mendapat kuota benih untuk lahan padi ladang 100 hektare dan petani sangat siap menanam," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Parigi Moutong Dadang Priatna Jaya yang dihubungi dari Palu, Sabtu.
Dia menjelaskan, 100 hektar lahan tersebut berada di dua kecamatan yakni Sidoan seluas 32 hektare dan Taopa 68 hektare, yang mana pengadaan benih baru direalisasikan pada perubahan anggaran nanti melalui Pemerintah Pusat yang melekat di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD) Pemprov Sulteng.
Dua kecamatan tersebut, merupakan wilayah yang masih mempertahankan sistem budi daya padi lahan kering, dan pemerintah sangat mendukung sistem bercocok tanam tersebut.
Dia mengemukakan, perlakuan budi daya padi ladang berbeda dengan padi sawah, karena siklus dari masa taman ke masa panen butuh waktu lebih lama dibandingkan sistem persawahan.
"Padi ladang butuh waktu sekitar enam bulan baru bisa di panen karena hanya mengharapkan hujan untuk kelangsungan pertumbuhannya," ujar Dadang.
Selan itu, penentuan waktu juga menjadi pertimbangan. Olehnya, petani lebih memilih menanam saat musim penghujan karena dinilai menguntungkan sebab semata-mata sistem tersebut hanya mengandalkan hujan.
Ia juga menuturkan, meski siklus panen lama namun di sisi lain padi ladang lebih higienis karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida dalam perawatannya.
"Sistem ini perlu dipertahankan, karena perawatannya sangat tradisional tanpa harus menggunakan bahan kimia. Ini adalah kearifan lokal yang harus dilestarikan," ucap Dadang.
Padi ladang biasanya dikembangkan masyarakat di wilayah-wilayah pegunungan yang tidak memiliki sumber air memadai.
"Beras dihasilkan dari padi non-sawah dipastikan berkualitas karena proses pengolahannya sangat alami dan bergantung pada alam," demikian Dadang.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi temukan ladang ganja seluas lima hektare di Mandailing Natal
07 November 2023 12:15 WIB, 2023
Terpopuler - Parigi Moutong
Lihat Juga
Pemkab Parigi Moutong maksimalkan penggunaan alat manual padamkan karhutla
08 February 2026 10:12 WIB
Bupati Parigi Moutong minta kepala desa data kebun warga terdampak karhutla
06 February 2026 21:12 WIB
Pemkab Parigi Moutong buka opsi minta bantuan helikopter padamkan karhutla
05 February 2026 19:45 WIB