Ratusan Monyet Turun Di Kawasan Kebun Kopi
Senin, 1 Mei 2017 7:52 WIB
Ilustrasi (Foto Antara)
Parigi, (antarasulteng.com) - Ratusan monyet berbuluh hitam turun ke jalan raya di poros jalan nasional Taweli-Toboli atau lebih dikenal "Kebun Kopi.
Pantauan Antara, Minggu, monyet-monyet itu setiap pagi dan sore hari keluar dari hutan di sekitarnya untuk mencari makanan dari warga yang lewat.
Pengemudi mobil dan sepeda motor yang melintas banyak yang berhenti beberapa saat untuk melihat satwa liar yang tampaknya mulai jinak karena sering diberi makanan berupa pisang dan pepaya oleh warga yang melintas.
Tete Janggut, seorang warga Kebun Kopi mengatakan sudah beberapa bulan terakhir ini rombongan monyet-monyet sering berkeliaran di jalan raya.
Karena sudah terbiasa diberi makanan oleh warga yang melintas, satwa-satwa tersebut setiap hari pada pagi dan sore hari berkeliaran di jalan nasional menuju Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng itu.
Bahkan, kata dia, ada warga yang datang dari Palu atau wilayah Parigi, Kabupaten Parigi Moutong hanya khusus untuk melihat satwa itu.
"Mereka umumnya membawa pisang untuk makanan monyet," kata Tete Janggut.
Menurut dia, kemungkinan besar monyet tersebut turun gunung karena kelaparan.
Ineke, seorang penumpang bus angkutan kota antarprovinsi (AKAP) dari Manado tujuan Palu yang dijumpai di Terminal Mamboro Palu, mengatakan saat kendaraan yang ditumpanginya melintas di kawasan Kebun Kopi terlihat kawanan monyek dalam jumlah besar di pinggir jalan.
"Kendaraan kami sempat berhenti dan penumpang turun melihat monyet-monyet tersebut yang tampak cukup jinak," kata dia.
Menurut dia, pemandangan seperti itu sangat menyenangkan karena jarang diketemukan di tempat lainnya. "Ya kalau di kebun binatang kita bisa melihat berbagai jenis satwa, termasuk monyet/kera," kata dia.
Tetapi, melihat monyet di perjalanan, kata dia, hal itu sangat menyenangkan karena jarang ditemukan di tempat lainnya.
Poros jalan Kebun Kopi setiap harinya ramai dilintasi berbagai jenis kendaraan dari maupun luar daerah Sulteng seperti Manado, Gorontalo dan Makassar (Sulsel).
Di sisi kiri dan kanan sepanjang poros jalan nasional itu adalah tebing dan jurang cukup dalam.
Pantauan Antara, Minggu, monyet-monyet itu setiap pagi dan sore hari keluar dari hutan di sekitarnya untuk mencari makanan dari warga yang lewat.
Pengemudi mobil dan sepeda motor yang melintas banyak yang berhenti beberapa saat untuk melihat satwa liar yang tampaknya mulai jinak karena sering diberi makanan berupa pisang dan pepaya oleh warga yang melintas.
Tete Janggut, seorang warga Kebun Kopi mengatakan sudah beberapa bulan terakhir ini rombongan monyet-monyet sering berkeliaran di jalan raya.
Karena sudah terbiasa diberi makanan oleh warga yang melintas, satwa-satwa tersebut setiap hari pada pagi dan sore hari berkeliaran di jalan nasional menuju Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng itu.
Bahkan, kata dia, ada warga yang datang dari Palu atau wilayah Parigi, Kabupaten Parigi Moutong hanya khusus untuk melihat satwa itu.
"Mereka umumnya membawa pisang untuk makanan monyet," kata Tete Janggut.
Menurut dia, kemungkinan besar monyet tersebut turun gunung karena kelaparan.
Ineke, seorang penumpang bus angkutan kota antarprovinsi (AKAP) dari Manado tujuan Palu yang dijumpai di Terminal Mamboro Palu, mengatakan saat kendaraan yang ditumpanginya melintas di kawasan Kebun Kopi terlihat kawanan monyek dalam jumlah besar di pinggir jalan.
"Kendaraan kami sempat berhenti dan penumpang turun melihat monyet-monyet tersebut yang tampak cukup jinak," kata dia.
Menurut dia, pemandangan seperti itu sangat menyenangkan karena jarang diketemukan di tempat lainnya. "Ya kalau di kebun binatang kita bisa melihat berbagai jenis satwa, termasuk monyet/kera," kata dia.
Tetapi, melihat monyet di perjalanan, kata dia, hal itu sangat menyenangkan karena jarang ditemukan di tempat lainnya.
Poros jalan Kebun Kopi setiap harinya ramai dilintasi berbagai jenis kendaraan dari maupun luar daerah Sulteng seperti Manado, Gorontalo dan Makassar (Sulsel).
Di sisi kiri dan kanan sepanjang poros jalan nasional itu adalah tebing dan jurang cukup dalam.
Pewarta : Anas Masa
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinkes imbau warga Kota Palu tidak panik terkait penyakit cacar monyet
21 September 2024 14:39 WIB, 2024
Kementerian Kesehatan sebut vaksin cacar monyet saat ini sangat terbatas dan mahal
14 November 2023 6:19 WIB, 2023
Terpopuler - Sulteng
Lihat Juga
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020