Tradisi Suku Kaili sambut idul adha tak langgar Islam
Senin, 20 Agustus 2018 20:08 WIB
Ketua MUI Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg menyampaikan ceramah pada tabligh akbar satuan tugas nusantara Polres Tolitoli, Sabtu 28/7 (Antaranews Sulteng/Muhammad Hajiji) (Antaranews Sulteng/Muhammad Hajiji/)
Palu, (Antaranews Sulteng) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, menyatakan bahwa tradisi penyambutan perayaan hari besar seperti Idul Adha, tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
"Umumnya, tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Kaili seperti Kaili Ledo di Lembah Palu dan Sigi menyambut Idul Fitri dan Idul Adha hanya sebagai bentuk syukuran atau pemanjatan doa kepada Allah atas nikmat yang di berikan hingga bertemu dengan hari tersebut," kata Ketua MUI Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg, terkait momentum idul adha, di Palu, Senin.
Salah satu tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Kaili yaitu `molabe` (memanjatkan doa kepada Allah).
Salah satu maksud dari "molabe" bagi Suku Kaili adalah memanjatkan rasa syukur. Dalam proses pelaksanaannya terdapat talang besar berisikan makanan yang oleh Suku Kaili disebut `Bakii`.
Makanan yang tersedia di `Bakii` antara lain `kalopa` (beras pulut yang telah masak kemudian dibungkus dengan daun kelapa), nasi pulut satu piring, air putih satu gelas, pisang masak satu sisir, dan daging sepiring kecil.
Kemudian, `Bakii` di letakkan di depan orang yang akan membaca doa syukuran dan keselamatan. Oleh Suku Kaili umumnya mengundang imam masjid untuk membacakan doa syukuran atau keselamatan.
Bagi Suku Kaili, makanan yang terdapat di `Bakii` hanyalah simbol yang memiliki maksud dan arti tersendiri.
"Molabe" biasanya mulai dilakukan oleh Suku Kaili sehari sebelum hari pelaksanaan Idul Adha, bertepatan hari Idul Adha dan sehari setelahnya.
Pada puncak Idul Adha, setelah shalat biasanya "molabe" sekaligus tahlil di masjid. Hal itu diikutkan dengan saling maaf memaafkan. Kemudian, umumnya Suku Kaili ziarah makam keluarga untuk menyiram makam sekaligus membaca doa/tahlil.
"Tradisi ini baik, tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu dipertahankan," kata Prof Dr H Zainal Abidin MAg.
Apa yang dibaca di dalam tahlil merupakan ayat-ayat suci Alquran dan zikir kepada Allah.
Tahlil, bagi Suku Kaili di Kelurahan Petobo dimaksudkan untuk mengirim doa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan buat orang-orang yang telah meninggal dunia.?
"Ini menunjukkan hubungan persaudaraan bukan hanya saat masih hidup, tapi juga setelah wafat," sebut Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu.
Baca juga: Ulama: hati kunci terwujudnya persatuan dan perdamaian
"Umumnya, tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Kaili seperti Kaili Ledo di Lembah Palu dan Sigi menyambut Idul Fitri dan Idul Adha hanya sebagai bentuk syukuran atau pemanjatan doa kepada Allah atas nikmat yang di berikan hingga bertemu dengan hari tersebut," kata Ketua MUI Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg, terkait momentum idul adha, di Palu, Senin.
Salah satu tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Kaili yaitu `molabe` (memanjatkan doa kepada Allah).
Salah satu maksud dari "molabe" bagi Suku Kaili adalah memanjatkan rasa syukur. Dalam proses pelaksanaannya terdapat talang besar berisikan makanan yang oleh Suku Kaili disebut `Bakii`.
Makanan yang tersedia di `Bakii` antara lain `kalopa` (beras pulut yang telah masak kemudian dibungkus dengan daun kelapa), nasi pulut satu piring, air putih satu gelas, pisang masak satu sisir, dan daging sepiring kecil.
Kemudian, `Bakii` di letakkan di depan orang yang akan membaca doa syukuran dan keselamatan. Oleh Suku Kaili umumnya mengundang imam masjid untuk membacakan doa syukuran atau keselamatan.
Bagi Suku Kaili, makanan yang terdapat di `Bakii` hanyalah simbol yang memiliki maksud dan arti tersendiri.
"Molabe" biasanya mulai dilakukan oleh Suku Kaili sehari sebelum hari pelaksanaan Idul Adha, bertepatan hari Idul Adha dan sehari setelahnya.
Pada puncak Idul Adha, setelah shalat biasanya "molabe" sekaligus tahlil di masjid. Hal itu diikutkan dengan saling maaf memaafkan. Kemudian, umumnya Suku Kaili ziarah makam keluarga untuk menyiram makam sekaligus membaca doa/tahlil.
"Tradisi ini baik, tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu dipertahankan," kata Prof Dr H Zainal Abidin MAg.
Apa yang dibaca di dalam tahlil merupakan ayat-ayat suci Alquran dan zikir kepada Allah.
Tahlil, bagi Suku Kaili di Kelurahan Petobo dimaksudkan untuk mengirim doa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan buat orang-orang yang telah meninggal dunia.?
"Ini menunjukkan hubungan persaudaraan bukan hanya saat masih hidup, tapi juga setelah wafat," sebut Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu.
Baca juga: Ulama: hati kunci terwujudnya persatuan dan perdamaian
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor : Adha Nadjemudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
MUI Palu: Masyarakat harus kendalikan nalar agar agama dipahami sesuai nilai kemanusiaan
30 September 2025 21:59 WIB
Terpopuler - Wisata & Budaya
Lihat Juga
Pepadi Apresiasi Wali Kota Bandarlampung lestarikan budaya Indonesia
23 February 2020 11:31 WIB, 2020
Potensi rugi akibat berkurangnya wisman China mencapai 2,8 miliar dolar
13 February 2020 17:24 WIB, 2020
Wapres dorong dunia pariwisata dapat berinovasi sikapi dampak corona
10 February 2020 16:03 WIB, 2020