
Perempuan-Perempuan Pemburu Hagala

Sejumlah ibu bersama beberapa anak yang masih berusia tiga sampai lima tahun dengan berpakaian lusuh singgah di sebuah rumah yang terletak di bilangan jalan Kancil, Kecamatan Palu Selatan, Sulawesi Tengah.
Di antara mereka terlihat menenteng beberapa bungkusan yang diperkirakan isinya adalah pakaian dan berbagai keperluan rumah tangga lain.
Para ibu rumah tangga itu tampak bukan warga Palu, tetapi berasal dari desa-desa yang ada di pinggiran kota itu.
Begitu pintu pagar rumah di bilangan Jalan Kancil tersebut dibuka, mereka langsung masuk dan duduk di teras rumah.
Kebetulan rumah yang mereka singgahi adalah seorang pejabat di lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten Sigi.
Tak lama kemudian, salah seorang petugas dari Polisi Pamong Praja menghampiri mereka dan menanyakan apa keperluannya.
"Kami mau minta hagala pak untuk kebutuhan Lebaran," kata salah seorang ibu mewakili teman-temannya.
Hagala atau hadiah. Bagi orang-orang yang ada di Kota Palu kata Hagala sudah tidak asing didengar karena setiap menjelang hari raya Idul Fitri maupun Natal banyak sekali bermunculan para peminta hagala.
"Silakan menunggu dulu. Saya mau sampaikan kepada bapak," kata petugas Pamong Praja yang enggan disebut namanya itu.
Tak lama kemudian, pak Toni (panggilan sehari-hari) Livingstone Sango yang juga Wakil Bupati Sigi menemui mereka dan memberikan hagala.
Usai menerima hagala, para perempuan dan anak-anak itu langsung meninggalkan rumah untuk melanjutkan perjalanan mereka berkeliling Kota Palu demi mendapatkan hagala Lebaran.
Reka (37), salah seorang dari mereka mengatakan setiap hari ia bersama beberapa ibu dan anak sekampungnya memburu hagala Lebaran di ibu kota provinsi.
"Selain di rumah-rumah pejabat, juga di kantor-kantor pemerintah dan swasta kami datangi untuk meminta hagala," kata ibu sambil menggendong anaknya yang baru berusia delapan bulan.
Terkadang kalau lagi beruntung sehari bisa mendapat uang hingga Rp150 ribu. "Tapi itu hanya sesekali saja dapat uang sebesar itu," ujarnya.
Selain uang, biasanya kalau di rumah-rumah penduduk hanya diberi barang seperti beras, gula dan minuman. Kalau di kantor-kantor rata-rata yang kami terima uang.
Hal senada juga disampaikan Jukri (47). Ibu tiga anak itu mengatakan setiap hari mereka turun gunung mencari hagala di Palu.
Tempat tinggal mereka cukup jauh dari Kota Palu yakni di Desa Dombu, Kabupaten Sigi. Memburu hagala di Palu, katanya, merupakan hal yang bisa mereka lakukan setiap menghadapi Lebaran.
Pagi-pagi mereka turun ke kota dan mulai jalan masuk-keluar kantor satu ke kantor lainnya. Begitu pula dari rumah yang satu ke rumah lainnya.
Mereka mengaku, ekonomi keluarga yang membuat sebagian warga di desa-desa yang berada sekitar Pegunungan Gawalise dan Matantimali, Kabupaten Sigi terpaksa turun gunung.
Ada yang menjadi kuli pikul barang di pasar-pasar, adapula sebagai pemulung mencari rupiah diantara tumpukan sampah dan mencari hagala.
"Tapi khusus mencari hagala hanya pada setiap menjelang hari raya saja," katanya.
Kaget
Salah seorang pimpinan salah satu BUMN di Kota Palu mengatakan cukup kaget melihat wajah ibu kota provinsi yang dalam beberapa hari terakhir ini banyak sekali hadir para peminta-minta hagala.
"Hampir di setiap sudut kota terlihat para pemburu hagala Lebaran," kata Santoso, salah seorang pimpinan BUMN yang terletak di bilangan Jl Tanjung Dako, Palu Selatan.
Lelaki dua putri itu mengemukakan di kampung halamannya di Pulau Jawa ada peminta-minta setiap menjelang hari raya, tetapi jumlahnya tidak seperti yang ada di Kota Palu.
Di Palu, katanya, para pemburu hagala bergerombol ada lima orang dan ada juga sampai 10 orang, bahkan lebih dari itu.
"Yang lebih parah lagi, begitu kita memberi hagala kepada mereka, tiba-tiba ada lagi kelompok pemburu hagala lainnya yang datang," ujarnya.
Asal mereka lihat pintu pagar kantor atau rumah terbuka, maka peluang besar bagi para pemburu hagala masuk. "Karena mereka sudah masuk, maka konsekuensinya mereka harus diberi hagala sesuai dengan ketulusan hati kita," katanya.
Karena di Palu banyak sekali pemburu hagala, maka sejak jauh-jauh hari,ia sudah mengantisipasinya dengan menukar uang-uang kecil mulai dari Rp1.000 sampai Rp5.000.
"Pikir-pikir tidak apa-apa memberikan mereka hagala karena memang mereka sangat membutuhkannya. Bagi saya apa saja yang kita berikan kepada orang miskin besar pahalanya," kata Santoso.
Hal senada juga disampaikan Obed, salah seorang pimpinan BUMN. Obed yang belum setahun bertugas di Kota Palu mengatakan cukup terkejut juga melihat banyaknya para pemburu hagala.
"Selama beberapa hari ini, kantor saya banyak diserbu para pencari hagala," katanya.
Lagi pula mereka tidak sendirian datang, tetapi selalu bergerombol.
Hanya saja mereka jika tidak diberikan, juga tidak merasa keberatan. "Tapi bagi saya sudah sepatutnyalah kita memperhatikan orang-orang seperti mereka yang ekonomi kurang beruntung seperti kita ini," kata Obed.
Warga Miskin
Sementara Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola pada Jumat (2/8) juga membagi-bagikan hagala kepada warga miskin di Kota Palu.
Ratusan warga mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan lansia terlihat ikut antre di pintu pagar kediaman Gubernur Jalan Moh Hatta Palu.
Bendahara Gubernur Siti Nuriayani mengatakan anggaran untuk pemberian hagala diambil dari biaya operasional gubernur sebesar Rp100 juta.
Setiap orang dewasa mendapat Rp50 ribu dan anak-anak Rp20 ribu. Untuk menghindari ada warga menerima dobel, panitia pembagi hagala menggunakan tanda tinta di jari seperti halnya setiap kali mencoblos di bilik suara pada Pemilu atau Pilkada.
Usai menerima hagala dari gubernur, satu persatu warga miskin itu meninggalkan rumah kediaman orang nomor satu di Sulteng tersebut.
Sebagian besar mereka jalan kaki, sebagian lagi naik sepeda motor. Bahkan ada beberapa orang terlihat naik mobil. Tidak bisa dipastikan apakah kendaraan yang mereka pakai itu merupakan milik pribadi atau bukan.
Tidak menutup kemungkinan dari ratusan warga miskin yang antre mendapatkan hagala Lebaran dari Gubernur Longki Djanggola justru tingkat ekonominya terbilang bagus.
"Ya namanya uang, pasti semua orang mau mendapatkannya," kata salah seorang warga yang ikut menyaksikan pembagian hagala kepada warga miskin.(SKD)
Pewarta : Anas Masa
Editor:
Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026
