
Bangkitlah Negeriku

Pertumbuhan ini merupakan prestasi terbaik sejak lahirnya provinsi ini dan tentunya kita berharap bahwa prestasi inin dapat dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan lagi."
Palu (antarasulteng.com) - TUJUH BELAS AGUSTUS 2013, negeri tercinta yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia genap berusia 68 tahun. Berbagai prestasi dunia dalam berbagai bidang telah diukir mulai dari juara dunia olahraga badminton sampai kepada juara olimpiade pada disiplin ilmu tertentu.
Namun dibalik itu, Negeri ini juga masih diperhadapkan kepada sejumlah persoalan mendasar di antaranya adalah kemiskinan-pengangguran; kehidupan beretika; serta moralitas yang ujung-ujungnya bermuara kepada munculnya ketidakteraturan, konflik dan kekerasan.
Dampak yang lebih jauh dari situasi ini adalah ketidaknyamanan yang dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat serta para pelaku usaha atau investor yang telah menanamkan investasinya di Negeri ini.
Masih segar dalam ingatan kita akibat dari ketidaknyamanan itu investor pabrik sepatu Nike dan Reebok merelokasi pabriknya ke Vietnam, demikian juga pabrik yang memproduksi barang elektronika Sony yang merelokasi pabriknya ke Malaysia. Masih banhyak lagi pabrik-pakrik lain melakukan hal yang serupa.
Negeri Kaya belum "Merdeka"
Tidak ada yang membantah bahwa Indonesia adalah Negeri yang diberi karunia oleh Tuhan Yang Maha Kuasa berupa kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa, antara lain memiliki potensi tiga dimensi yaitu pegunungan, daratan dan laut dengan berbagai macam komoditi di dalamnya. Luas Perairan laut 5,9 Juta kilometer persegi terdiri atas 3,9 juta kilometer persegi wilayah tertorial dan sisanya wilayah Zona Ekonomi Eksklusive; Panjang garis pantai 95.000 km (Nomor 2 setelah Canada); Jumlah pulau sekitar 13.550 buah (terbanyak di dunia) serta; Jumlah penduduk sekitar 240 juta.
Namun demikian kita belum mampu memanfaatkan keunggulan komparatif itu untuk kesejahteraan masyarakat yang seluas-luasnya atau dengan bahasa lain sebagaimana sub judul di atas, Negeri yang kaya tetapi belum "Merdeka". Perayaan HUT ke-68 Kemerdekaan kali ini tentunya kita harapkan dapat menjadi motivasi bagi bangsa ini untuk menuju kepada makna Merdeka yang hakiki yaitu terbangunnya kehidupan yang beretika dan bermoral, yang selanjutnya terbebas dari Kemiskinan dan Pengangguran.
Ekonomi Kelautan
Indonesia saat ini masih dikategorikan sebagai Negara Kepulauan belum sebagai Negara Maritim oleh karena belum mampu memanfaatkan potensi kelautannya untuk kesejahteraan rakyat yang seluas-luasnya meskipun luas perairan laut lebih luas dari daratan (2 kali daratan). Sebaliknya Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jepang dan Thailand yang notabenenya Negara Continental (luas daratan lebih besar dari perairan laut), namun Negara-Negara ini juga telah menjadi Negara Maritim, oleh karena dengan kemampuan teknologi dan keteraturannya dapat memanfaatkan potensi kelautan itu untuk kesejahteraan masyarakatnya seluas-luasnya.
Paling tidak ada sembilan sektor ekonomi pada bidang kelautan yang dominan di negeri ini yaitu: (1) Sektor Perikanan; (2) Pariwisata Bahari; (3) Perhubungan Laut; (4) Jasa Lingkungan Kelautan; (5) Energi, tambang dan sumberdaya mineral; (6) Industri dan Jasa Maritim; (7) Bioteknologi; (8) Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil dan; (9) Hutan Mangrove.
Hasil analisis yang dilakukan oleh Prof. Rokhmin Dahuri (2013) bahwa dengan memanfaatkan potensi bidang kelautan, maka setiap tahunnya nilai ekonomi yang dapat diperoleh sebesar tuju kali nilai APBN tahun 2012 (7 x 6.500= 45,25 ribu trilyun rupiah) dan akan menyerap tenaga kerja sebesar 40 juta jiwa.
Sejalan dengan pandangan itu Mc Kensey (2013) seorang ahli ekonomi dunia memberikan analisis bahwa Indonesia bila memanfaatkan potensi bidang kelautan saja secara baik dengan prinsip berkelanjutan, maka di tahun 2030 negeri ini akan memiliki kemampuan ekonomi di urutan ke tujuh dunia. Ini tentunya merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi seluruh stakeholders di negeri ini.
Sulawesi Tengah,
Sulawesi Tengah sebagai bagian integral dari Republik ini memiliki luas daratan 63.000 kilometer persegi, luas wilayah perairan 183.000 kilometer persegi, panjang garis pantai 4013 km dan jumlah pulau sekitar 1.520 buah atau sekitar 38 persen wilayah pulau Sulawesi berada di Sulawesi Tengah. Pilihan agribisnis dan kelautan sebagai lokomotif ekonomi dalam rangka kesejahteraan rakyat yang seluas-luasnya sebagaimana visi Pemerintah Sulawesi Tengah Periode 2011-2016 adalah sangat relevan serta searah dengan pandangan para ahli seperti Rokhmin Dahuri dan Mc Kensey.
Ekonomi Sulteng dalam kurun waktu dua tahun terakhir (2011 dan 2012) tumbuh mengesankan mendekati angka dua digit atau 10 persen dari sebelumnya hanya sekitar 7 persen, jauh di atas rata-rata nasional sekitar 6,3 persen.
Pertumbuhan ini merupakan prestasi terbaik sejak lahirnya provinsi ini dan tentunya kita berharap bahwa prestasi inin dapat dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan lagi. Meskipun demikian rasio gini (gini ratio) yang menggambarkan kesenjangan juga meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 nilai rasio gini Sulawesi Tengah berada pada angka 0,32 selanjutnya di tahun 2009 meningkat menjadi 0,34 dan di tahun 2011 menjadi 0,36.
Investasi
Investasi adalah salah satu faktor yang menentukan besarnya pertumbuhan ekonomi dan menekan nilai rasio gini sebuah wilayah. Dalam dua tahun terakhir di provinsi ini mengalami peningkatan investasi yang cukup signifikan antara lain diwujudkan dalam bentuk pembangunan hotel, real estate, pembangkit listrik tenaga air di Poso, gas alam cair di Banggai, tambang nikel di Morowali dan bijih besi di Tojo Unauna. Selain itu telah terbit sebuah regulasi berupa surat keputusan Dewan Kawasan Ekonomi Khusus Pusat yang menyetujui Kota Palu dan dan Bitung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Kesemua ini tentunya secara akumulati akan menjadi faktor pemicu dalam percepatan laju investasi dan pertumbuhan ekonomi di daerah ini.
Pada satu sisi Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota terus berupaya dan telah melengkapi sarana maupun prasarana yang terkait dengan laju investasi seperti yang telah digambarkan di atas. Di sisi lain masyarakat harus terus menerus diberi sosialisasi agar secara bersama-sama mampu membangun iklim yang kondusif demi terciptanya kenyamanan dalam berkehidupan dan berinvestasi. Selain itu produksi dan alur komoditi agribisnis dan kelautan yang akan mengisi KEK segera dipersiapkan agar KEK yang sedang dipersiapkan tidak kekurangan bahan baku manakala difungsikan kemudian.
Diyakini bahwa dengan kerja keras dan semangat yang dibangun selama ini oleh Pemerintah Daerah disertai dengan komitmen anggaran untuk mendorong pembangunan, khususnya sektor agribisnis dan kelautan maka Sulawesi Tengah akan bangkit sejajar dengan provinsi maju lainnya serta terciptanya keteraturan dan kenyamanan. Semoga!! * Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah.
Pewarta : Dr Ir H. Hasnauddin Atjo, MP *)
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
