
Sulteng Bertekad Jadi Penghasil Udang Nasional

...tambak ini akan mengalami tiga siklus panen dalam setahun, sehingga nilai produksi setiap tahun bisa mencapai hampir Rp1,4 miliar.
Palu (antarasulteng.com) - Gubernur Sulawesi Tengah Drs H. Longki Djanggola, MSi meminta semua kepala daerah, pimpinan perbankan dan pengusaha untuk lebih fokus mengembangkan teknologi budidaya udang supra intensif dalam upaya mewujudkan tekad daerah ini menjadi salah satu penghasil udang nasional.
"Kita punya potensi lahan pertambakan yang luas dan kini seorang putra daerah sukses mengembangkan teknologi budidaya supra intensif. Karena itu dalam beberapa tahun mendatang kita optimistis menjadi salah satu daerah penghasil udang di Indonesia," katanya di Kota Palu, Kamis.
Kepada Antara usai panen perdana udang vanamei di tambak percontohan teknologi budidaya supra intensif di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, Longki menyebutkan bahwa daerahnya memiliki garis pantai sekitar 4.000 kilometer. Dari 12 kabupaten dan satu kota, hanya satu kabupaten yakni Kabupaten Sigi yang tidak memiliki pantai.
Namun, katanya, produksi udang Sulteng masih sangat kecil yakni sekitar 8.000 ton/tahun atau hanya sekitar dua persen dari produksi udang nasional sekitar 400.000 ton.
Longki yakin bila teknologi budidaya supra intensif bisa dikembangkan di setiap kabupaten dengan sinergi yang bagus antara pemerintah daerah, perbankan dan pengusaha serta petambak, maka produksi udang akan mampu dilipatgandakan.
"Saya minta para petambak membentuk kelompok-kelompok petambak udang dan mulai bekerja sama membangun tambak supra intensif. Saya kira cara ini akan efektif karena sistem budidaya ini padat modal," ujarnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo yang juga penemu teknologi budidaya udang supra intensif Indonesia ini mengatakan produktivitas teknologi ini mencapai 153 ton per hektare.
"Kalau setiap kabupaten mampu mengembangkan tambak seperti ini masing-masing 10 hektare saja, maka untuk 12 kabupaten akan terdapat 120 hektare dengan total produksi 18.000 ton," ujarnya.
Teknologi budidaya udang vanamei supra intensif Indonesia temuan Hasanuddin Atjo ini diluncurkan Ketua Masyarakat Akuatik Indonesia Rokhmin Dahuri di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada 19 Oktober 2013.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng kemudian mereplikasi teknologi ini dengan membangun tambak percontohan di Kelurahan Mamboro seluas 400 meter persegi dengan penebanran bibit 400.000 ekor.
Tambak ini diperkirakan akan menghasilkan enam ton udang vanamei dalam satu siklus panen yakni 90 hari. Dengan harga udang rata-rata Rp80.000/kg dewasa ini, nilai produksi tambak tersebut akan mencapai Rp480 juta, biaya produksi dan operasional hanya sekitar Rp300 juta.
Pembangunan fisik tambak dibiayai dengan dana APBD Sulteng tahun 2013 sekitar Rp2 miliar.
Setiap tahun, tambak ini akan mengalami tiga siklus panen, sehingga nilai produksi setiap tahun bisa mencapai hampir Rp1,4 miliar.
Tiga kabupaten di Sulteng yang akan mereplikasi teknologi budidaya ini mulai 2014 adalah Parigi Moutong, Tojo Una-una dan Buol, sementara Provinsi NTT dan Bangka Belitung juga sudah mempelajari teknologi ini dan akan segera mereplikasikannya. (R007)
Pewarta : Rolex Malaha
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
