Logo Header Antaranews Sulteng

PM Irlandia ungkap Biden inginkan perjanjian Brexit dengan Uni Eropa

Kamis, 12 November 2020 20:14 WIB
Image Print
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Perdana Menteri Irlandia (Taoiseach) Micheal Martin melakukan salam siku di Kastil Hillborough, Belfast, Irlandia Utara, Kamis (13/8/2020). ANTARA FOTO/Brian Lawless/Pool via Reuters/AWW/djo
Ia sangat berkomitmen terhadap Persetujuan Belfast (perjanjian damai dalam konflik Irlandia Utara, red). Khususnya terkait Brexit, ia akan dengan jelas mendukung sebuah kesepakatan antara Uni Eropa dan Britania

London (ANTARA) - Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin mengatakan pada Kamis bahwa presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden menginginkan adanya perjanjian perdagangan Brexit dengan Uni Eropa sehingga Perdana Menteri Inggris Boris Johnson harus bekerja keras dan membuat kesepakatan.

"Ia sangat berkomitmen terhadap Persetujuan Belfast (perjanjian damai dalam konflik Irlandia Utara, red). Khususnya terkait Brexit, ia akan dengan jelas mendukung sebuah kesepakatan antara Uni Eropa dan Britania," kata Martin, merujuk pada Biden.

"Dan saya kira hal itu, saya katakan tanpa mengurangi rasa hormat, adalah arah yang harus dituju oleh Pemerintah Inggris--ke arah sana, menurut pandangan saya. Mereka mesti bekerja keras dan melakukan kesepakatan dengan Uni Eropa," ujar Martin kepada radio BBC .

Martin juga mengatakan bahwa perjanjian dalam konteks Brexit ini merupakan suatu hal yang krusial, di mana ia menyebut "ketika ada keinginan, maka akan ada jalan". Sebaliknya, Brexit tanpa perjanjian akan menjadi bencana bagi Britania Raya, kata dia.

Menurut Martin, Rancangan Undang-Undang Pasar Internal Inggris memunculkan perhatian tentang seberapa jauh Uni Eropa dapat mempercayai Johnson, termasuk keraguan mengenai soliditas potensi perjanjian dagang.

"Sesungguhnya saya yakin bahwa Boris Johnson menginginkan sebuah kesepakatan. Saya kira nalurinya akan lebih cenderung pada kesepakatan. Politik tentang yang terjadi di dalam Inggris adalah sesuatu yang mungkin memengaruhi berbagai isu," tutur Martin.

Sumber: Reuters



Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026