
Kiat Sekolah Di Palu Hadapi UN 2015

Kita bisa mengetahui mana yang kurang dan kelemahan-kelemahan yang perlu segera dibenahi
Palu, (antarasulteng.com) - Ujian sekolah (US) maupun ujian nasional (UN) tahun ajaran 2014/2015 waktu pelaksanaanya makin dekat. Kedua kegiatan itu sangat penting karena menentukan lulus-tidaknya siswa dalam menempuh pendidikan akhir di SLTP dan SLTA.
Siswa jangan berpikir bahwa UN tidak lagi terlalu penting untuk menentukan kelulusan sehingga memandang ringan pelaksanaan UN. Ujian nasional ini juga ikut menentukan siswa lulus atau tidak. Pemerintah pusat telah menetapkan standar nilai UN untuk mata pelajaran pokok, yaitu 5,5.
Siswa bisa saja meraih hasil yang mengembirakan pada US. "Akan tetapi, kalau nilai yang diperoleh pada UN jauh di bawah standar, kemungkinan tidak lulus bisa saja terjadi," kata Arsid Nurdin, Kepala SMP Negeri 2 Palu, Kamis.
Oleh karena itu, dalam menghadapi dan maraih suskses dalam pelaksanaan US maupun UN, siswa digenjot dalam pembelajaran di sekolah, bahkan di rumah pun mereka didorong untuk menggunakan waktu dengan giat belajar.
Seperti selama ini dilakukan sekolah dengan menambah jam belajar pada sore hari. Kegiatan les dilaksanakan setiap hari, mulai dari Senin sampai Sabtu, kecuali hari libur (Minggu) tidak ada kegiatan les di sekolah.
Namun, pihak sekolah juga mengenjot siswa dengan membentuk kelompok-kelompok belajar dan mendapat pendampingi dari masing-masing guru mata pelajaran yang akan diujikan, baik pada US maupun UN.
Semua kegiatan tersebut merupakan upaya dari sekolah agar para siswa bisa lulus. Kendati demikian, meski sekolah sudah berupaya semaksimal mungkin, tanpa adanya perhatian dan keseriusan dari siswa itu sendiri untuk terus belajar, keberhasilan tidak akan dapat dicapai.
Oleh sebab itu, siswa juga harus sama-sama berusaha dengan keras. Keberhasilan tidak mungkin bisa terwujud tanpa usaha. Usaha itu adalah bagaimana mempersiapkan diri dengan belajar, belajar, dan belajar (3b).
Menurut Arsid, perhatian orang tua sangat dibutuhkan untuk meningkatkan prestasi anak. Pasalnya, tanggung jawab bukan hanya dibebankan pada sekolah, melainkan juga orang tua.
Di sekolah, siswa menjadi tanggung jawab penuh dari kepsek dan dewan guru. Akan tetapi, di rumah adalah orang tua.
Orang tua harus mengawasi dengan baik agar anak-anak memanfaatkan waktu di rumah dengan kegiatan belajar. "Jangan sampai mereka hanya sibuk dengan kegiatan yang lain," kata dia.
Anak harus diarahkan untuk belajar dengan sungguh-sungguh oleh orang tuanya agar bisa memperoleh hasil yang bagus.
Ia menyebutkan jumlah peserta US dan UN SMP Negeri 2 Palu pada tahun ajaran 2014/2015 hampir 300 orang.
Siap Hadapi Ujian
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Palu Hj. Badrah Lahay mengatakan bahwa siswa binaanya kini telah siap menghadapi pelaksanaan US dan UN tahun ajaran 2014/2015.
Pihak sekolah dan siswa di sekolah yang dipimpinnya itu sangat siap mengikuti US dan UN.
Adapun jumlah siswa peserta US dan UN di SMAN 2 Palu sebanyak 299 orang. Semula, kata dia, terdapat 300 siswa. Akan tetapi, ada satu siswa yang dipastikan tidak bisa ikut karena sedang mengikuti program belajar di Amerika Serikat.
Menghadapi UN yang akan dilaksanakan secara serentak di Tanah Air pada tanggal 13--15 April 2015 untuk tingkat sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), pihak sekolah sejak September 2014 telah melakukan persiapan dengan menambah jam belajar (les) pada sore hari.
Selain itu, juga mendorong para siswa yang berdekatan rumahnya untuk membentuk kelompok-kelompok belajar di rumah.
"Syukur alhamdulillah, siswa sangat antusias melaksanakan kelompok belajar di rumah," kata dia.
Untuk mengukur hasil dari kegiatan les dan juga kelompok belajar di rumah, pihak sekolah juga telah dua kali melaksanakan try out (uji coba).
Menurut dia, hasil uji coba yang dilakukan relatif sangat mengembirakan.
"Kita bisa mengetahui mana yang kurang dan kelemahan-kelemahan yang perlu segera dibenahi," kata perempuan kelahiran Kota Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, 19 November 1959 itu.
Oleh karena itu, dia optimistis para siswa binaanya mampu menyelesaikan soal-soal US dan UN dengan baik. Apalagi, SMAN 2 salah satu dari empat sekolah unggulan di Sulteng yang menjadi pilot project pelaksanaan Kurikulum 2013.
Sekolah itu juga merupakan eks sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI). Sebagai eks sekolah RSBI dan SBI, sekolah itu terus mempertahankan roh pembelajaran yang selama ini sudah berjalan dalam kurun waktu terakhir ini.
"Kami mengenjot siswa dengan lebih memprioritaskan belajar dari pada kegiatan lainnya," kata dia.
Tentu semua yang dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan siswa agar mereka meraih sukses dalam bidang akademik. "Target kami bukan sekadar lulus, melainkan bagaimana nilai yang mereka peroleh dari setiap mata pelajaran, baik yang diujikan pada US maupun UN, mengembirakan.
Jika nilainya bagus, otomatis siswa bersangkutan dipastikan lulus.
Menurut dia, tanggung jawab utama lulus-tidaknya siswa ada pada pihak sekolah. Akan tetapi, peran serta dari para orang tua siswa sangat dibutuhkan, terutama ketika siswa sudah di luar jam belajar.
Tugas orang tua diperlukan ketika siswa sudah pulang ke rumah. Pada saat di rumah, seyogianya orang tua menjadi guru membimbing dan mengarahkan anak untuk belajar.
"Di sekolah waktu belajarnya hanya terbatas. Lebih banyak waktu di rumah sehingga orang tua harus proaktif mengawasi dan menuntun anaknya belajar," kata Hj. Badrah.
Sementara itu, Budi dan Yeni, siswa pada salah satu sekolah unggulan di Kota Palu menyatakan mereka sudah siap menghadapi pelaksanaan US dan UN.
"Persiapan kami sudah matang. Kami yakin bisa mengerjakan semua soal US dan UN," kata Budi.
Di sekolahnya, kata Budi dan Yeni, ada kegiatan les. Begitu pula, di rumah ada kelompok belajar. "Jadi, kami ada beberapa orang siswa yang rumah berdekatan membentuk satu kelompok bejalar," kata Yeni.
Kegiatan tersebut, menurut mereka, sangat membantu karena antarsiswa saling membantu mengisi kekurangan atau kelemahan yang ada.
"Jika ada hal yang kami rasa belum mengerti, biasanya memanggil guru pembimbing mata pelajaran. Hal ini sangat membantu kami sehingga bisa menjawab soal US dan UN," ujar Budi.
Baik Kepala SMPN 2 Palu Arsid Nurdin maupun Kepala SMAN 2 Palu Hj. Bdrah Lahay menyatakan optimistis kelulusan pada UN 2015 bisa mencapai target. Mereka menargetkan lulus 100 persen.
Kesimpulannya, jika mau berhasil dalam US dan UN, siswa harus banyak belajar. Bukan sekadar belajar, melainkan dengan sunguh-sungguh karena usaha keras yang dilakukan, pada akhirnya membuahkan hasil memuaskan.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulteng menyebutkan jumlah peserta UN tingkat SMA dan sederajat di Sulteng sebanyak 32.841 orang.
Peserta tersebut terdiri atas SMA sebanyak 22.902 orang dan SMK atau sederajat 9.939 orang. Mereka tersebar di 13 kabupaten/kota di provinsi itu. (skd)
Pewarta : Oleh Anas Masa
Editor:
Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026
