Logo Header Antaranews Sulteng

Sulteng Jadi Percontohan Penerapan SLIN Mulai 2016

Minggu, 6 Maret 2016 18:58 WIB
Image Print
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Dr Ir H hasanuddin Atjo, MP (ANTARA/Nanang)
Untuk percontohan tersebut, kami akan mulai menerapkan SLIN di Pelabuhan Perikanan Donggala dan Ogotua

Palu, (antarasulteng.com) - Sulawesi Tengah akan mengimplementasikan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) mulai tahun ini dan akan menjadi proyek percontohan nasional di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Untuk percontohan tersebut, kami akan mulai menerapkan SLIN di Pelabuhan Perikanan Donggala dan Ogotua," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Hasanuddin Atjo yang dihubungi di Palu, Minggu.

Kedua pelabuhan itu dipilih karena telah memiliki sarana, prasarana, dan fasilitas yang memadai untuk mengimplementasikan SLIN, seperti dermaga yang diberi atap, tempat pelelangan ikan, pabrik es, gudang pendingin (cold storage), gudang pembekuan (air blast freezer/ABF), stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan, kelembagaan nelayan, serta berbagai fasilitas untuk nelayan.

Dari pelabuhan Donggala, sudah ada dua perusahaan yang akan menjadi calon operator SLIN yang akan bermitra dengan nelayan setempat untuk menampung hasil tangkapan dengan harga yang sesuai dengan kesepakatan bersama (MoU).

SLIN di Donggala nanti, kata Hasanuddin, akan menyuplai ikan secara reguler ke Surabaya untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan pasar umum. Pengiriman ke Surabaya sudah tidak ada masalah lagi karena saat ini sudah ada pelayaran rutin kapal-kapal peti kemas ke Surabaya dua kali seminggu.

Dari Pelabuhan Ogotua, Kabupaten Tolitoli, SLIN akan menyuplai ikan ke Bitung, Sulawesi Utara, melalui pelabuhan Tolitoli dan Gorontalo. Dengan jalur distribusi ini, terbuka peluang SLIN menampung juga hasil perikanan budi daya dari Sulawesi Tengah dan Gorontalo untuk dipasok ke industri pemngolahan ikan di Bitung.

Guna memperlancar jalur distribusi Ogotua-Bitung ini, pemerintah diharapkan melakukan intervensi untuk menyediakan sarana angkutan yang memadai agar rantai distribusi berjalan lancar.

Hasanuddin mengemukakan bahwa impelementasi SLIN di Sulteng semakin penting dan mendesak untuk memberdayakan kapal-kapal penangkap ikan berukuran 30 GT bantuan Kementerian KP selama beberapa tahun lalu yang berjumlah hampir 60 buah dan kini telah beroperasi penuh.

Pada tahun 2016, kata dia, Sulteng akan memperoleh bantuan kapal penangkap ikan lagi sebanyak 124 unit sehingga antara SLIN dan nelayan tersebut akan terjalin sinergi yang saling menguntungkan.

SLIN, katanya, merupakan salah satu kegiatan strategis di sektor kelautan dan perikanan karena menjadi instrumen stabilisator harga dan suplai hasil perikanan yang diyakini dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan, memperkuat ketahanan pangan, merekam inflasi, dan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Pada musim ikan, ikan yang berlebih dapat dibekukan dan disimpan di gudang penyimpanan sebagai stok oleh operator SLIN. Selanjutnya stok tersebut dapat dikirim ke daerah tujuan yang memerlukan suplai ikan atau ke pasar untuk memenuhi kekosongan, terutama pada musim paceklik penangkapan.

Hasil survei di beberapa pelabuhan perikanan Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa pada musim ikan, harga jual ikan pelagis kecil bisa anjlok menjadi Rp4.000,00 per kilogram dari harga normal Rp12 ribu/kg karena kondisi "over suplay" karena belum terbangun jaringan pemasaran yang lebih luas.

Pada saat paceklik, kata dia, harga ikan akan melambung dua sampai tiga kali lipat dari harga normal sehingga menyebabkan timbulnya inflasi.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026