Logo Header Antaranews Sulteng

Tolitoli Mulai Terapkan Toko Tani Indonesia

Senin, 20 Juni 2016 13:00 WIB
Image Print
Ilustrasi--Mentimun (FOTO ANTARA/Sahlan Kurniawan)

Tolitoli, (antarasulteng.com) - Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, mulai menerapkan program Toko Tani Indonesia (TTI) untuk mengatasi persoalan pemasaran dan harga jual hasil panen yang selama ini dikeluhkan petani.

Kepala BKP Tolitoli Moch Dzikron menjelaskan di Tolitoli, Minggu, dalam program TTI tersebut, BKP bekerja sama dengan toko hasil bumi sebagai rekanan sekaligus pemegang label TTI yang akan menampung produksi para petani sesuai dengan harga standar nasional.

"Petani tidak perlu khawatir tentang pemasaran hasil panennya karena pemegang label TTI siap membeli dengan harga tertinggi. Dua toko jual beli hasil bumi telah ditunjuk sebagai rekanan salah satunya Toko Cahaya Doa, di kompleks Pasar Tradisional Susumbolan, Kecamatan Baolan," kata Dzikron.

Sementara untuk memudahkan koordinasi antara pengelola TTI dengan petani dalam program tersebut, BKP telah membangun komunikasi dengan seluruh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) 10 kecamatan di Tolitoli.

Selain meningkatkan pendapatan petani, program yang baru dilaksanakan kurun dua bulan terakhir di wilayah Tolitoli itu juga akan memberikan keuntungan bagi konsumen, dimana TTI akan memberlakukan harga eceran dengan standar termurah.

Program TTI, katanya, juga bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan bahan pokok sehari-hari karena petani akan memperoleh sembako dengan harga relatif murah.

Untuk sementara, kata dia, TTI di Tolitoli masih sebatas menjual beras, namun ke depan akan diikuti hasil bumi lainnya yang juga merupakan kebutuhan pokok masyarakat seperti bawang merah dan jagung.

Pelaksanaan program TTI di Tolitoli mendapat pengawasan dan bimbingan dari BKP provinsi. Pekan lalu pihak BKP Sulawesi Tengah kembali melakukan kunjungan kerja ke Tolitoli untuk melihat langsung perkembangan program tersebut.

"Kami terus mendapat kunjungan BKP provinsi. Mereka datang dan melihat langsung aktifitas dua TTI yang ada. Mungkin kunjungan seperti itu akan rutin dilakukan di tahun pertama ini," tutur Dzikron.

Ia berharap, program tersebut sudah dapat berjalan maksimal lima tahun ke depan.

Secara nasional program TTI mulai diterapkan pada 2015 namun pelaksanaannya masih sebatas di Pulau Jawa sementara Sulteng baru menerapkan program tersebut pada 2016.

Pengurus Gapoktan Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Ruslan berharap program tersebut benar-benar dapat menjadi solusi kesulitan petani, khususnya dalam memperoleh harga jual yang layak, dimana selama ini persoalan harga menjadi salah satu kendala besar petani dalam memperbaiki kesejahteraan.

"Jika TTI membeli dengan harga tertinggi, petani tidak perlu lagi menumpuk hasil panennya untuk menunggu pengumpul dari wilayah lain. Kasihan petani kadang harus menunda turun ke sawah untuk melakukan pembibitan hanya karena tidak memiliki modal akibat beras hasil panennya belum terjual,"ungkapnya.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026