Logo Header Antaranews Sulteng

Masyarakat panen paksa buah sawit di lahan perusahaan

Jumat, 6 Februari 2026 19:41 WIB
Image Print
Ratusan masyarakat dari Aliansi Desa Toviora melakukan panen paksa buah sawit, di kebun PT Lestari Tani Teladan afdeling OK di Desa Toviora, Rio Pakava, Donggala, Jumat (6/2/2025). (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)
Petugas mengimbau agar aliansi tidak membawa buah hasil panen keluar dari kebun.

Palu (ANTARA) -

Ratusan masyarakat dari Aliansi Desa Toviora melakukan panen paksa buah sawit, di kebun PT Lestari Tani Teladan di afdeling OK di Desa Toviora, Rio Pakava, Donggala, Jumat.

Berdasarkan laporan yang dihimpun Antara, kerusuhan sempat terjadi antara masyarakat dan petugas keamanan perusahaan. Petugas mengimbau agar aliansi tidak membawa buah hasil panen keluar dari kebun.

Diuntungkan dengan jumlah yang banyak, masyarakat tetap memaksakan untuk membawa enam pick up buah sawit yang sudah dipanen. Pihak perusahaan dan petugas keamanan dari Polsek Rio Pakava juga mengimbau agar masyarakat menghentikan aksi mereka.

Lahan tersebut masuk dalam hak guna usaha (HGU) perusahaan, berdasarkan hasil mediasi yang dilakukan tim gugus reforma agraria (GTRA) Pemkab Donggala. Dalam mediasi dengan Tim GTRA telah ditetapkan dalam surat nomor 500.17.4/20/DISPERKIMTAN/XI/2025, setiap tuntutan dan aktivitas pendudukan Lahan, serta pemanenan sawit yang dilakukan oleh masyarakat/aliansi berada di atas lahan HGU perusahaan.

Perdebatan yang panas antara kedua belah pihak, memicu aksi pelemparan pertama kali oleh masyarakat kepada petugas keamanan. Bahkan, aliansi desa juga menyerang petugas dengan senjata tajam.

Dilaporkan tiga petugas pengamanan dari perusahaan yang terluka akibat sabetan senjata tajam dan lemparan batu. Para korban telah dirujuk ke rumah sakit terdekat dari perusahaan di Kota Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Kapolres Donggala AKBP Angga Dewanto Basari dikonfirmasi Jumat malam membenarkan kejadian itu. Kata dia, saat ini situasi sudah kondusif dan masing-masing pihak telah menahan diri agar tidak terjadi konflik lanjutan.



Pewarta :
Editor: Mohamad Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026