Menyingkap romantisme semu para pemuja kepada idola

id pemuja selebritas, cws,kpop,denny caknan

Menyingkap romantisme semu para pemuja kepada idola

Penonton menyaksikan penampilan girl band asal Korea Selatan BLACKPINK pada konsernya yang bertajuk BLACKPINK BORN PINK In Jakarta di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (11/3/2023). ANTARA FOTO/Rianti/Adm/nz

JAKARTA (ANTARA) - Bukan kerabat, bukan pula saudara. Bukan teman, apalagi sahabat. Bukan gebetan, pun bukan pacar. Tapi dipikirkan siang malam, segala tentangnya dicari tahu dari berbagai lini masa. Mengikuti perjalanan karier hingga menguntit kehidupan pribadinya, padahal bukan siapa-siapanya dia, kecuali hanya sebatas penggemar. Kalian kenapa?

Punya rasa suka kepada idola dalam kadar wajar tentu bukan masalah. Tetapi memujanya secara berlebihan, hingga mengorbankan banyak hal dalam kehidupan pribadi, pasti menimbulkan implikasi. Jangan sampai kegilaan pada idola, _yang padahal dia belum tentu kenal dengan kita_, mengarah pada hubungan parasosial, romantisme semu sampai halu, sebagai indikasi gangguan kejiwaan.

Komika Kiky Saputri, pada medio Maret lalu, menjadi bulan-bulanan penggemar BLACKPINK (Blink) hanya karena memberi komentar tentang penampilan Jennie, anggota grup K-pop itu, yang dinilainya terlihat capek dan malas dalam konser di Jakarta. Sontak Blink menyerang Kiky melalui media sosial, dengan beragam umpatan, perundungan fisik, sampai komentar kasar yang cenderung liar.

Sebelumnya, perseteruan di dunia virtual gara-gara membela idola juga sempat menghebohkan. Pertengkaran massal secara daring itu bermula ketika warganet bernama Safa dianggap menghina anggota NCT Dream. Tak terima, penggemar pun membuat forum Space bertajuk "Safa Space" sebagai tempat diskusi kedua pihak. Setelah forum digelar, rekaman isi diskusi dalam Space tersebar hingga menjadi topik perbincangan di media sosial yang kini berlogo X itu.

Kisah Kiky dan Safa hanyalah sedikit contoh dari banyaknya kasus “peperangan” yang tersulut oleh sebab fanatisme akut terhadap idola. Sikap membabi buta dalam memuja dan membela idola kemudian dikenal dengan istilah Celebrity Worship Syndrome (CWS) atau sindrom pemujaan selebritas.

Setidaknya ada tiga jenis atau kondisi seseorang yang tidak bisa “diganggu” atau anda akan mendapat masalah besar. Mereka adalah orang gila, orang yang sedang jatuh cinta, dan orang fanatik. Mengapa orang bisa sedemikian fanatik, padahal idola yang dibelanya kemungkinan besar tidak mengenal si penggemar secara personal.

Richard Wohl, dari Komite Pembangunan Manusia, bersama Donald Horton dari Departemen Sosiologi Universitas Chicago, pertama kali memperkenalkan konsep mengenai hubungan parasosial itu pada 1950-an.

Mereka mengemukakan parasocial relationship sebagai hubungan imaginatif sepihak dari penggemar atau pengguna media dengan figur media atau persona media, seperti selebritas maupun figur fiksi. Konsep tersebut muncul kala keduanya meneliti interaksi penonton media massa yang menganggap diri mereka memiliki hubungan dengan sosok yang mereka lihat di media.

Hubungan parasosial yang terbentuk tidak sebatas pertemanan, melainkan bisa mengarah ke hubungan romantis. Sebenarnya hubungan imajiner satu arah itu bisa terbentuk kepada siapa pun, tetapi lebih sering dengan selebritas atau idola.

Kemudian di tahun 2006, David Giles dan John Maltby dari Departemen Psikologi Universitas Winchester, merinci parasosial (CWS) dalam tiga tahapan:

1. Hiburan sosial. Merupakan tingkatan paling umum, yang dimulai dari ketertarikan kepada figur publik. Pada tahap ini, penggemar mulai menggali informasi lebih lanjut tentang idolanya. Mereka juga akan mengoleksi segala cenderamata yang berkaitan dengan sang idola. Berikutnya akan mencari teman sesama penggemar.

2. Intense Personal. Ketika rasa suka pada idola berkembang tidak hanya suka karena fisik atau karyanya, tetapi hafal biodata hingga gemar membeli produk yang diiklankan sang idola. Ketika ada yang berkomentar miring mengenai sang idola, dia bakal langsung pasang badan.

3. Borderline Pathological. Yang ini CWS tingkat tinggi, pengidapnya memiliki pemikiran dan fantasi ekstrem tentang selebritas yang dipujanya. Para peneliti menemukan bahwa tingkatan borderline pathological pada CWS dikaitkan dengan beberapa sifat negatif, seperti impulsif, egosentris, hingga antisosial.

Sementara istilah CWS, pada Psychology Today, digambarkan sebagai kelainan mental berupa obsesi-adiktif seseorang terhadap kehidupan personal selebritas.

 

Imajinatif satu arah

Adakah jenis hubungan yang lebih unik (baca: aneh) dari parasosial, hubungan bersifat imajiner dan satu arah pula? Nyatanya, pengidapnya sangatlah banyak. Memang belum ada riset yang menyempatkan menghitung jumlah penyandang CWS, tapi setidaknya dapat terlihat dari kegilaan tingkah penggemar yang menempuh segala cara untuk mendatangi konser atau acara jumpa fans para selebritas, utamanya dari Korea Selatan, pun berbagai negara dan tak terkecuali artis Tanah Air.

Pada CWS tingkat tinggi, perilaku penggemar sudah sampai mencampuri urusan pribadi sang selebritas, bahkan terkesan mengatur, semisal sebaiknya kencan dengan siapa dan memilihkan jodoh yang dianggap cocok.

Mencari contohnya tak perlu jauh-jauh. Gelaran konser Denny Caknan mendadak sepi penonton, usai pelantun lagu-lagu berlirik Jawa itu menikahi Bella Bonita, keputusan yang cukup mengagetkan para penggemar. Sebab sebelumnya artis bernama asli Denny Setiawan itu telah digadang-gadang berjodoh dengan Happy Asmara, sesama penyanyi dangdut campursari, yang dinilai para fansnya lebih serasi. Memang boleh, para penggemar mencampuri urusan pribadi sang idola sebegitu jauhnya?

Perilaku yang dipandang para psikolog sebagai kelainan mental itu, dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya:

- Usia. Masa remaja pada rentang usia 11 hingga 17 tahun, mereka sangat rentan mengidap sindrom pemujaan selebritas, mungkin karena masih tergolong usia labil yang mudah silau dan terkagum-kagum pada dunia panggung dan figur publik. Seiring bertambah dewasa kemungkinannya bisa menurun, meski banyak juga orang dewasa berperilaku seperti remaja dalam memuja idola.

- Pendidikan. Orang berpendidikan dan memiliki intelegensi tinggi biasanya enggan merendahkan dirinya dengan memuja manusia lain. Kalau pun punya ketertarikan, dia bisa melihat sosok yang diidolakan secara seimbang melalui kepribadiannya. Sehingga kalangan ini hampir tidak berisiko terkena sindrom ini.

- Keterampilan sosial. Orang dengan keterampilan sosial rendah biasanya cenderung mencari pengisi kekosongan, maka sosok idola akan memenuhi kebutuhan itu.

- Jenis kelamin. CWS bisa saja menghinggapi laki-laki atau perempuan, tetapi karena sifat perempuan yang sentimental, maka mereka lebih berpotensi terjangkit sindrom itu.

 

Seperti berhala

Selain faktor usia, pendidikan, dan keterampilan sosial, kedalaman beragama juga mempengaruhi perilaku seseorang dalam mengekspresikan kekagumannya pada manusia lain. Dengan pemahaman agama yang baik, insan beriman tidak akan membuat Tuhan cemburu karena terlalu mengagungkan sosok selain Dia. Agama mampu membuat segalanya menjadi seimbang, tidak berlebihan, dan sesuai porsi.

Dunia dengan segala pesonanya, menghadirkan banyak berhala-berhala baru. Pada panggung hiburan, berhala itu berupa idola. Kehadirannya selalu dinanti, kedatangannya disambut teriakan histeris, bahkan tangis bahagia bisa pecah di arena konser atau jumpa fans sang bintang. Sementara aksi panggungnya bisa menyulut kegirangan tiada tara, dan kata-kata romantisnya direspons dengan termehek-mehek.

Paras cantik atau tampan, suara emas dan bakat akting serta talenta hebat lainnya yang menjadi sumber ketertarikan penggemar terhadap selebritas, semuanya adalah karunia Tuhan. Sangat pantas bila kekaguman atas hal-hal hebat itu ditujukan kepada yang mencipta sekaligus menjadi alasan untuk mengagungkan-NYA. Terhadap figur publik yang bertalenta bagus, cukuplah kita beri apresiasi sewajarnya.

Setiap pribadi manusia diciptakan dengan keunggulan dan keunikannya masing-masing, syukuri itu sebagai anugerah, dan jangan menempatkan diri terlalu rendah dengan menjadi pemuja bagi manusia lain.