Kota Palu (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mengupayakan membantu menciptakan dan meningkatkan kemandirian sektor pariwisata Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk dijadikan sebagai sumber ekonomi baru yang ramah lingkungan.
"Potensi pariwisata Sulteng cukup banyak sehingga perlu kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah daerah (pemda) maupun pemangku kepentingan membangun ekosistem pariwisata daerah," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulteng M Irfan Sukarna dalam kegiatan dialog pariwisata di Kota Palu, Selasa.
Ia menjelaskan hingga kini kontribusi pariwisata dalam membantu pengunjung pertumbuhan ekonomi Sulteng di angka 2,32, masih jauh di bawah sektor industri pertambangan.
Padahal pariwisata salah satu sektor yang dapat memberikan peluang ekonomi hijau, ramah lingkungan dan berkelanjutan, maka langkah dilakukan yakni melibatkan ekonomi kreatif, maupun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dipercaya dapat memberikan efek positif terhadap perkembangan sektor tersebut.
"Tambang nikel memiliki keterbatasan jumlah, bila dikelola terus menerus akan habis. Maka potensi ekonomi dari sektor pariwisata sudah seharusnya tumbuh lebih jauh, karena sektor itu ke depan bukan lagi sebagai alternatif ekonomi, tetapi menjadi sektor utama dalam konteks lokal," ujarnya.
Upaya-upaya pengembangan kepariwisataan mesti dilaksanakan secara simultan, BI sebagai otoritas menjaga stabilitas nilai rupiah memiliki peran dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah maupun nasional, maka langkah intervensi dilakukan salah satunya melalui pembinaan dan pemberdayaan masyarakat di sektor pariwisata.
"Sulteng punya modal pesona alam yang bagus, begitu pun budayanya beragam. Modal ini harus dimanfaatkan melalui kolaborasi multi pihak secara simultan," ucap Irfan.
Sementara itu Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menjelaskan ada tiga komponen penting mengembangkan pariwisata untuk menjadi sektor utama ekonomi daerah, yakni objek wisata, infrastruktur penunjang dan sumber daya manusia (SDM).
"Sulteng punya berbagai objek, baik objek wisata bahari, wisata alam, budaya, kuliner, termasuk objek wisata peninggalan benda-benda prasejarah. Kendala saat ini yakni infrastruktur penuangan dan SDM yang berlimpah ditingkatkan. Saat ini pemda sedang mengupayakan penguatan infrastruktur pariwisata, salah satunya infrastruktur jalan," kata dia.
Lebih lanjut ia menjelaskan peningkatan status bandara juga bagian dari penguatan infrastruktur kepariwisataan, yang mana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng berupaya meningkatkan status Bandara Mutiara Sis Al-Jufri menjadi bandara internasional.
"Kami telah mengusulkan kepada Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan untuk peningkatan status bandara, kami menargetkan tahun 2027 Bandara Mutiar Sis Al-Jufri berstatus bandara internasional," kata dia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sulawesi Tengah sepanjang Januari-Juni 2025 mencapai 5,84 juta perjalanan atau meningkat 11,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
