Logo Header Antaranews Sulteng

Lapas Kelas III Parigi hadirkan dapur produksi Si Macro jadi sarana membina WBP

Kamis, 21 Agustus 2025 17:36 WIB
Image Print
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng Bagus Kurniawan meresmikan dapur produksi "Si Macro" sebagai sarana pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) untuk mengembangkan keterampilan UMKM di Parigi Moutong, Kamis (21/8/2025). ANTARA/HO-Kanwil Ditjenpas Sulteng)l

Palu (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Parigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menghadirkan dapur produksi Si Macro sebagai sarana pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk mengembangkan keterampilan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Pemanfaatan potensi lokal sebagai dasar lahirnya inovasi dapur produksi. Kabupaten Parigi Moutong terkenal dengan Durian Montong," kata Kepala Lapas Kelas III Parigi Fentje Mamirahi di Parigi Moutong, Kamis.

Ia mengatakan melalui dapur produksi ini komoditas Durian Montong dari daerah ini dapat diolah oleh WBP menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus memberikan bekal keterampilan hidup.

Produk unggulan yang dikembangkan, lanjutnya, berupa keripik biji dan daging Durian Montong yang memanfaatkan potensi lokal Kabupaten Parigi Moutong sebagai penghasil durian.

Fasilitas ini diresmikan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulteng Bagus Kurniawan. Dapur produksi ini menjadi salah satu dari tiga fasilitas baru yang diresmikan bersama Lapangan Upacara dan Pos Wasrik.

Sementara itu Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng Bagus Kurniawan mengatakan dapur produksi Si Macro hadir bukan sekadar dapur produksi, melainkan sarana pemberdayaan warga binaan.

"Pembangunan fasilitas ini adalah wujud nyata dari semangat Lapas Parigi untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pembinaan," katanya.

Ia mengatakan peresmian dapur produksi ini juga menjadi bentuk dukungan Kanwil Ditjenpas Sulteng dalam menyukseskan 13 program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imapas), khususnya pendayagunaan warga binaan untuk menghasilkan produk UMKM berkualitas.

Menurut dia, keberhasilan program pembinaan tidak dapat berdiri sendiri, sehingga sinergi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar produk warga binaan bisa diterima pasar.

Ddengan hadirnya dapur produksi ini, kata dia, peran lapas tidak hanya sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga pusat pembinaan yang humanis, produktif, dan berorientasi kemandirian.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026