
Kadin Institute jalin kerja sama pemagangan dengan Jerman
Sabtu, 28 Februari 2026 17:52 WIB

Surabaya (ANTARA) - Kadin Institute menjalin kerja sama dengan Jerman untuk memperluas peluang pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis sistem ganda (ausbildung) bagi generasi muda Indonesia di Jerman.
Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman(memorandum of understanding/MoU) bersama Handwerkskammer Dortmund dan Industrie- und Handelskammer Trier.“Link and match harus nyata. Saat ini kami memiliki 17 program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri Jerman didukung sertifikasi ganda,” kata Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti di Surabaya, Sabtu.
Indah mengatakan, kerja sama ini menjadi peluang strategis di tengah tantangan pengangguran nasional lantaran mampu menghadirkan kesempatan kerja nyata bagi putra-putri Indonesia.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyebutkan sekitar 80 persen program Kadin Jatim berfokus pada vokasi berbasis sistem ganda dan kini mulai terjalin bersama mitra Kadin luar negeri.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur Sigit Priyanto pun menilai kerja sama ini sejalan dengan tuntutan global lantaran persaingan dunia kerja menuntut sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi yang diakui internasional.
Managing Director of Vocational Education and Training Center HWK Dortmund Tobias Schmidt mengungkap Jerman saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja profesional di sektor skilled crafts terutama di bidang plumbing, sanitasi, konstruksi, elektrisi, dan keahlian teknis lainnya.
Tantangan terbesar dalam program pemagangan internasional, menurutnya, terletak pada penguasaan bahasa Jerman yakni adanya keharusan untuk mampu bahasa minimal B1 bahkan idealnya B2.
“Kita (Kadin dan Jerman) akan mengembangkan jalur yang kuat dan inovatif bagi talenta muda antara Indonesia dan Jerman. Ini adalah momen yang patut kita rayakan,” ujar Tobias.
Senada, Managing Director IHK Trier Ulrich Schneider menjelaskan wilayah Trier juga mengalami kekurangan tenaga kerja yang cukup serius khususnya di sektor pariwisata dan hospitalitas.
Sebagai kota tertua di Jerman dan destinasi wisata utama, Trier sangat bergantung pada sektor pariwisata namun saat ini hotel, restoran, dan sektor layanan kesulitan mencari tenaga profesional.
Oleh sebab itu, Ulrich menekankan fokus kerja sama ini bukan sekadar jumlah peserta melainkan keberlanjutan dan kualitas program dengan sistem pelatihan kerja ganda atau dual vocational training system.
“Peserta harus memiliki kemampuan bahasa minimal B1, namun dalam praktiknya perlu dipersiapkan hingga B2, serta memiliki kontrak pendidikan dengan perusahaan sebelum mengajukan visa,” kata Ulrich.
Dari sisi fasilitasi, Pengurus Proyek Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Niklas Cramer memastikan perlindungan terhadap peserta Indonesia di Jerman dijamin oleh hukum ketenagakerjaan setempat.
“Peserta Indonesia akan menerima kontrak yang sama dengan pekerja Jerman serta mendapat hak dan kewajiban yang setara,” ujarnya.
Terkait masa depan peserta, ia menegaskan lulusan tidak diwajibkan langsung kembali ke Indonesia karena setelah kontrak pelatihan berakhir maka merek memiliki waktu sekitar 12 bulan untuk mencari pekerjaan baru di Jerman sebelum visa berakhir.
Peserta akan menerima tunjangan pelatihan sekitar 1.000 euro per bulan pada tahun pertama dan meningkat setiap tahun selama masa pelatihan dua hingga 3,5 tahun.
“Ini bukan gaji penuh, tetapi tunjangan pelatihan. Pendidikan dilakukan melalui sistem dual, dua hari di sekolah vokasi dan tiga hari di perusahaan,” katanya.
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
