
Menimbang kebijaksanaan kepemimpinan Sun Tzu untuk Indonesia maju
Selasa, 2 September 2025 08:18 WIB

Surabaya (ANTARA) - Dalam realitas Indonesia mutakhir, barangkali, ada hal menarik direnungkan tentang hakikat kepemimpinan. Apalagi, baru saja bangsa kita diuji oleh kejadian demonstrasi yang menguji naluri kepemimpinan, siapa pun pejabat, birokrat, dan politikus negeri ini.
Artikel berikut mencoba mengulik pesan kepemimpinan yang ditawarkan sejarah kepemimpinan Tiongkok klasik, seni memimpin ala Sun Tzu.Fenomena kepemimpinan bangsa dalam sepuluh tahun terakhir, dinilai beberapa kalangan kurang berbentuk, terkesan "ceroboh" dalam jangka panjang. Hingga saat ini, dinilai kurang meletakkan hakikat kepemimpinan yang bukan pada keahliannya. Jika dilihat dari fenomena yang muncul, pola-pola yang ada, terindikasi bagaimana prinsip manajemen berkualitas kurang diindahkan dengan tepat dan cepat.
Banyak kisah menarik tentang pemimpin sebenarnya jika kita mau menengok sejarah, menelisik di balik khazanah hidup sejarah bangsa kita dan bangsa-bangsa lain di dunia. Paling tidak, kita mengenal ada pemimpin yang karena banyak pertimbangan, sehingga menjadikannya peragu.
Sebaliknya, ada pula kisah tentang kepemimpinan yang keberaniannya kelewat batas, kurang perhitungan, seakan dia pemimpin pemberani, tetapi sesungguhnya adalah pemimpin ceroboh. Hal ini bisa merugikan kehidupan bangsa di masa depan, kala yang bersangkutan sudah tak memimpin. Ada lagi kisah pemimpin yang "materialistik", di mana pola dan gaya kepemimpinannya berprinsip yang penting "mendapat". Begitu seterusnya.
Sun Tzu dikenal sebagai ahli strategi dari Tiongkok kuno. Kita sering mendengar nama itu, bahkan kadang kita membincangkan buku Seni Berperang ala Sun Tzu. Di dalamnya adalah strategi Sun Tzu yang sering dibincangkan secara eksotik-klasik, begitu dahsyat "pelajaran" yang hadir sekitar 2300 tahun lalu. Apa yang menarik? Yuk kita cermati, bagaimana pemikiran Sun Tzu yang bermanfaat bagi kehidupan, bagi dunia bisnis, dunia pendidikan, atau kehidupan lain secara umum.
Di majalah yang berisi tentang motivasi, edisi Januari 2009, ada seni kepemimpinan klasik yang menarik diimplementasikan. Ada sebuah artikel memikat, berjudul; "5 Prinsip Kepemimpinan Sun Tzu". Jika kita renungkan dalam konteks kekinian, khususnya bagaimana mengelola dunia pendidikan atau umum, misalnya, tampaknya sangat menarik. Meski, bermula dari "dunia perang", filosofi militer, bukankah mengelola bidang kehidupan sekarang tak ubahnya perang melawan kompetitor kehidupan, baik tampak maupun tidak tampak.
Lima prinsip yang ditawarkan Sun Tzu adalah; (1) zhi (kecerdasan), (2) xin (kepercayaan), (3) ren (kebajikan), (4) yong (keberanian), dan (5) yan (ketegasan). Bagaimana jika memimpin tanpa kecerdasan, kepercayaan, kebajikan, keberanian, dan ketegasan? Mari kita cermati, dengan merefleksikan kehidupan dunia pendidikan kita.
Pertama, prinsip zhi (kecerdasan). Secara bebas, zhi berarti kecerdasan, pengalaman, pengetahuan, kebijaksanaan, dan visi. Apa yang tidak substansial dari arti yang dirujuk prinsip ini? Jika kita ingin menjadi pemimpin, yang dibutuhkan paling tidak pengalaman memimpin, di situlah pengetahuan tercipta dengan seni kecerdasan alami, itu pun jika kita mau terus belajar.
Seni mengembangkan kecerdasan, hemat saya, bermula dari kepekaan dan kejelian yang selalu ingin mengulik segala sesuatu, terlebih sebuah keberhasilan yang dilakukan oleh orang lain. Seni bersahabat dengan pengalaman pribadi adalah telaga renung yang akan menjadi batu asah untuk mengilaukan seni kepemimpinan itu.
Kecerdasan, pengetahuan, kebijaksanaan, yang dikendalikan oleh visi kepemimpinan jelas membawa pada apa kesadaran akan potensi yang dipimpin, pengetahuan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana mengorganisasikannya secara bijaksana, tanpa menyimpang dari visi telah ditetapkan.
Dengan demikian, kecerdasan adalah modal besar kepemimpinan yang dijalankan. Bayangkanlah jika pemimpin tidak cerdas, yang kadang kita dituntut memutuskan secara cepat dan tepat. Kesalahan adalah biasa, tetapi pemimpin cerdas selalu belajar dari kesalahan agar tidak mengulanginya di waktu lain.
Kedua, prinsip xin (kepercayaan). Secara sederhana prinsip ini berpesan bagaimana kita berhasil membangun kepercayaan. Peran dan fungsi yang bagaimana? Maka, pemimpin dituntut memiliki integritas, tanggung jawab, kewibawaan, tidak oportunis, tak plin-plan, dan berani mengambil risiko.
Bagaimana mungkin pemimpin bergerak tanpa kepercayaan? Perintah tak dilaksanakan, aturan diabaikan, kesepakatan diingkari. Kepercayaan pemimpin tentu yang terbaik adalah keteladanan, memberikan contoh terbaik dalam berbagai hal.
Meskipun tidak sempurna, seorang pemimpin wajib bisa membangun kepercayaan. Bukan berarti harus menutupi kesalahan, tetapi secara terbuka mau dan secara rendah hati mengakui kesalahan yang mungkin dilakukan, sehingga menjadi cermin asah dengan bergerak mantap dan dipercaya.
Ketiga, prinsip ren (kebajikan). Hakikat kebajikan menyaran pada peran, bukan sekadar baik dan menyenangkan, tetapi lebih dari itu. Pemimpin memiliki ren adalah dia yang memiliki tenggang rasa, toleran, dan penuh pengertian. Seorang pemimpin berhati dan memiliki marwah jiwa kemanusiaan. Kecerdasan emosional adalah modal besar untuk berhasil mengelolanya. Sebutlah ia, yang memiliki jiwa kesadaran hakiki.
Dalam seni kepemimpinan mutakhir, kebajikan bisa jadi sudah langka, tetapi jika berorientasi pada kehidupan organisasi yang baik, mestilah kita bervisi kebajikan. Kebajikan adalah seni, plus kebaikan menyenangkan, tentu kebaikan sesungguhnya tidak selalu "benar" dan menyenangkan semua orang. Di sini, "seni perang" kepemimpinan menarik didalami.
Keempat, yong (keberanian). Sebuah prinsip yang siapa pun kita, jika menjadi pemimpin mesti belajar bagaimana hakikat keberanian. Bukankah keberanian hakikatnya bukan nir rasa takut, sebaliknya, hanya sebuah ketakutan yang dijalani dengan penuh perhitungan.
Keberanian bukan datang alamiah, bawaan, turunan atau bersifat nativistik, tetapi merupakan hasil belajar atas hikmah dari akumulasi pengalaman yang diyakini, sehingga tercipta mental keberanian yang utuh.
Berani berinisiatif, berani berbuat, berani berisiko, berani bertanggung jawab, dan berani bangkrut adalah seni hidup matinya kepemimpinan. Keberanian mempertaruhkan mahkota visi organisasi yang diemban berbasis kemaslahatan yang dipimpin. Pengalaman berorganisasi adalah "medan tempur" untuk melatih keberanian. Berpendapat dan berani berbeda adalah cara lain melatih keberanian.
Di sinilah, jika pemimpin itu pemberani akan melahirkan kekuatan yang besar. Dalam dunia bisnis, misalnya, dikenal jargon kisah menarik seperti ini; "Seekor singa yang memimpin sepasukan domba itu lebih baik dari pada sepasukan singa yang dipimpin oleh seekor domba". Bagaimana yang terjadi jika pasukan sudah teriak-teriak, "perang", tetapi sang pemimpin tidak berani mengambil keputusan?
Kelima, yan (ketegasan). Prinsip ini mengharuskan seorang pemimpin harus tegas, keras, dan disiplin. Tanpa ketegasan, apalah jadinya sebuah organisasi atau lembaga. Jika kita ingin menjalankan seni kepemimpinan yang telah disepakati, siapa pun mesti belajar dari syarat ketegasan ini.
Modal besar ketegasan pemimpin adalah penguasaan dan pemahaman akan aturan, baik tertulis maupun tidak tertulis. Berkenaan dengan aturan etik yang tidak tertulis, pemimpin dituntut memiliki kemampuan mengomunikasikan dengan cara terbaik dan kontekstual. Di sini, yang pertama-tama, tugas pemimpin adalah melengkapi dengan "aturan main" pengiring, sehingga bisa disepakati bersama.
Jika dalam perjalanan kepemimpinan muncul duri dalam daging, atau musuh dalam selimut, sehingga berpotensi menggunting dalam lipatan, seorang pemimpin dituntut berani dan tegas mengamputasinya. Anak buah bermasalah, setelah dibina, maka seorang pemimpin wajib berani dalam memberikan hukuman, sehingga menjernihkan kebijaksanaan kepemimpinannya.
Untuk menutup tulisan ini, barangkali menarik kisah terkenal berikut dalam seri perjalanan kepemimpinan Sun Tzu diungkapkan. Bagaimana Kaisar Ho Lu yang sangat tertarik pada pemikiran Sun Tzu kemudian bertanya, "Apakah strategimu itu bisa diterapkan bagi wanita?" Dengan tegas Sun Tzu menjawab, "Bisa baginda".
Kaisar menugaskan Sun Tzu melatih 180 wanita yang di dalamnya ada dua selir kesayangan Kaisar. Maka, Sun Tzu pun membagi 180 wanita itu menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok dipimpin komandan wanita, si selir Kaisar. Panglima pun memberikan pengarahan bahwa setelah lonceng dibunyikan, para wanita wajib membentuk barisan, tetapi apa yang terjadi? Para wanita itu hanya terkekeh dan cekikikan. Begitu berkali dilakukan, keadaannya sama saja.
Akhirnya, Sun Tzu berkeputusan tegas, "Jika panglima telah memberikan komando dan aba-aba, tetapi tidak diindahkan, maka yang salah bukan pasukannya tetapi sang komendan. Maka sang komandan harus dihukum".
Singkat cerita, Sun Tzu berkeputusan menghukum mati dua orang komandan yang merupakan selir Kaisar, tetapi sebelum dieksekusi, sang Kaisar meminta membatalkannya. Sun Tzun dengan tegas, "Mohon maaf Baginda. Sebagai panglima tertinggi yang ditunjuk, saya harus tetap menjalankan prinsip hukum militer, di mana yang salah harus ditindak tegas".
Nah, bagaimana implementasi dalam kehidupan kita? Bagaimana kerja profesional kita, berlandaskan aturan yang telah disepakati, dan sudah berorientasi pada masa depan? Masa depan bukan ditunggu, tetapi dengan kreativitas tinggi, kita harus mampu menciptakannya lebih cepat. Semangat dalam kekaryaan. Darma (kebaikan) dan karya adalah sepasang pesona yang wajib kita perjuangkan dalam mewujudkan sebuah kepemimpinan bangsa.Apalagi, dalam kepemimpinan nasional di berbagai bidang dan dimensinya. Siapa pun kita, yang terlibat sebagai bagian kepemimpinan nasional dalam hirarki kepemimpinan, barangkali bisa bercermin dari pesan kepemimpin Sun Tzu. Membangun, merawat, dan mengeksekusinya dalam wujud kebijakan yang penuh cinta, humanis, dan kebijaksanaan.
Dalam mempersiapkan generasi emas 2045, generasi berkecerdasan, berkarakter kuat, sehat, dan produktif, yang akan menjadi tulang punggung bangsa Indonesia ke depan, roh kepemimpinan berbasis nilai kebijaksanaan Sun Tzu barangkali bisa dimodifikasi, tetapi secara substansi dan nilai filsosofi bisa dipraktikkan dalam kepemimpinan di segala lini bidang kehidupan, berbangsa, dan bernegara
*) Dr Sutejo MHum adalah Ketua Perwakilan YPLP PGRI Kabupaten Ponorogo 2025-2030, Koordinator Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Kabupaten Ponorogo, dosen di lingkungan LLDIKTI Jawa Timur
Pewarta : Dr Sutejo MHum*)
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
