Logo Header Antaranews Sulteng

Faperta Untad latih petani kakao olah limbah jadi pupuk organik

Senin, 22 September 2025 11:17 WIB
Image Print
Pelatihan pengolahan limbah kulit kakao menjadi pupuk organik di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng, September 2025. (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)

Palu (ANTARA) - Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Tadulako (Untad) Palu melatih petani kakao, untuk mengolah limbah kulit kakao menjadi pupuk organik.

“Pelatihan ini bertujuan mendampingi petani dalam memulihkan kesuburan lahan dengan pupuk organik, serta menerapkan teknologi ramah lingkungan untuk mengendalikan hama dan penyakit. Dengan begitu produktivitas dan kualitas kakao dapat terjamin, sehingga pendapatan petani meningkat,” kata Ketua Tim PKM Faperta Untad Moh. Hibban Toana di Palu, Senin.

Dia menjelaskan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) itu dilaksanakan bersama dua akademisi lainnya yakni Dance Tangkesalu dan Mutmainah. Program itu dilaksanakan di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Kata dia, Kelompok tani di Desa Sejahtera menghadapi tantangan serius, mulai dari menurunnya kesuburan lahan akibat penggunaan lahan tanpa konservasi, serangan hama yang tinggi, hingga mutu biji kakao yang rendah karena tidak dilakukan fermentasi.

Kondisi itu membuat harga jual hasil panen menurun dan berdampak pada kesejahteraan petani. Selama ini, mayoritas petani masih bergantung pada pestisida sintetis yang berisiko menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

“Kami memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah kulit buah kakao. Selain itu, mereka juga memperkenalkan teknik pengendalian hama dengan metode sarungisasi, yakni membungkus buah kakao muda menggunakan plastik bening untuk melindungi dari hama penggerek buah kakao (PBK),” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan Luther Tabilangi menyambut baik inisiatif itu. Menurutnya, penggunaan pupuk organik dari limbah kulit kakao tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi juga memberi nilai tambah pada limbah yang sebelumnya terbuang sia-sia.

“Terima kasih sudah memberikan pelatihan kepada kami, untuk memanfaatkan limbah kulit kakao menjadi pupuk organik,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, tim PKM Untad juga menyerahkan bantuan peralatan kepada kelompok tani agar program dapat terus berjalan secara berkesinambungan. Program itu merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, yang mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026